Senin, 05 JANUARI 2026 • 16:37 WIB

Alasan Mengapa Ada Patung Gajah di Depan Museum Nasional: Benarkah Ada Dua Gajah?

Author

Patung gajah di Museum Nasional (INDOZONE/M Fadli)

INDOZONE.ID - Buat yang pernah jalan-jalan ke Museum Nasional Indonesia yang terlitak di Jalan Merdeka Barat, Jakarta, pasti pernah melihat patung gajah berwarna hijau. 

Ternyata ada fakta sejarah yang jarang disebutkan dan berkaitan tentang nama museum nasional sebelumnya.

Mengutip dari situs budaya.jogjaprov.go.id, Museum Nasional sebelumnya dikenal oleh masyarakat Jakarta dengan nama Museum Gajah atau Gedung Gajah. Museum ini menyimpan berbagai koleksi bersejarah yang luar biasa. 

Penamaan Museum gajah oleh masyarakat di Jakarta juga berkaitan dengan patung gajah tersebut. 

Berikut ini ada beberapa fakta menarik tentang patung gajah di Museum Nasional tersebut.

Baca juga: Sejarah Patung Gajah di Depan Museum Nasional, Ternyata Hadiah dari Thailand Ratusan Tahun Lalu

Sebuah hadiah

Berdasarkan keterangan yang ada di bagian belakang patung, disebutkan bahwa patung itu merupakan hadiah.

Di tahun 1871, Raja Chulalongkorn dari Kerajaan Siam (Thailand) melakukan kunjungan ke Singapura (sebuah koloni Inggris) dan Hindia Belanda.

Kunjungan itu dilakukan dalam rangka mempelajari sistem pemerintahan modern dari Pemerintah Inggris dan Belanda, yang dianggap memiliki sistem maju dan modern.

Di Hindia Belanda, Raja Chulalongkorn mengunjungi dua kota, yaitu Batavia dan Semarang. Dia menjelajahi berbagai tempat, termasuk pabrik senjata, gedung pemerintahan, dan menonton pertunjukan seni.

Patung gajah di Museum Nasional (INDOZONE/M Fadli)

Baca juga: Fakta-fakta Pencurian di Museum Louvre Prancis, Pencuri Gondol Mahkota Napoleon dalam Waktu 7 Menit di Siang Hari

Ada dua patung gajah

Raja tersebut merasa senang dengan kunjungannya ke Singapura dan Hindia Belanda. Dia juga merasa mendapat sambutan hangat dari kedua negara tersebut.

Sebagai ungkapan terima kasih, setelah kembali ke Bangkok, Raja Chulalongkorn memerintahkan pembuatan dua patung gajah. Patung-patung tersebut diberikan sebagai hadiah, satu untuk Singapura dan satu lagi untuk Hindia Belanda.

Mengapa gajah?

Karena gajah dihormati oleh rakyat Siam. Dalam kepercayaan masyarakat Siam, gajah dan garuda adalah hewan yang dianggap suci dan dihormati.

Patung gajah yang dikirimkan ke Singapura dan Hindia Belanda menggambarkan gajah putih, hewan yang dianggap suci dan merupakan simbol dari keluarga kerajaan.

Patung gajah tersebut kemudian menjadi bagian dari koleksi museum van het BGKW (kini Museum Nasional). Museum ini masuk dalam daftar kunjungan Raja Chulalongkorn ketika berada di Batavia.

Patung berbentuk gajah untuk Indonesia itu tetap terjaga dengan baik dan sudah dicat ulang dengan warna hitam. Patung tersebut tetap dalam kondisi aslinya, meskipun warnanya telah memudar akibat usia.

Kehadiran Raja Chulalongkorn di Batavia dan pemberian patung gajah adalah bagian dari diplomasi budaya pada masa lalu. Namun pemberian hadiah ini memiliki makna lebih, selain sekadar hadiah.

Baca juga: Sejarah Penetapan 1 Januari sebagai Awal Tahun Baru dari Sejarah Romawi Kuno

Mengganti nama museum Gajah dengan Museum Nasional

Pada tahun 1923 perkumpulan ini memperoleh gelar “koninklijk” karena jasanya dalam bidang ilmiah dan proyek pemerintah sehingga lengkapnya menjadi Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Pada tanggal 26 Januari 1950, Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen diubah namanya menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia. 

Perubahan ini disesuaikan dengan kondisi waktu itu, sebagaimana tercermin dalam semboyan barunya: “memajukan ilmu-ilmu kebudayaan yang berfaedah untuk meningkatkan pengetahuan tentang kepulauan Indonesia dan negeri-negeri sekitarnya”.

Mengingat pentingnya museum ini bagi bangsa Indonesia maka pada tanggal 17 September 1962 Lembaga Kebudayaan Indonesia menyerahkan pengelolaan museum kepada pemerintah Indonesia, yang kemudian menjadi Museum Pusat.

 Akhirnya, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, No.092/ 0/1979 tertanggal 28 Mei 1979, Museum Pusat ditingkatkan statusnya menjadi Museum Nasional.

Baca juga: 4 Museum Berhantu di Jakarta: Banyak Korban Disiksa hingga Ada Topeng yang Punya Kekuatan Magis

Mengingat pentingnya museum ini bagi bangsa Indonesia maka pada tanggal 17 September 1962 Lembaga Kebudayaan Indonesia menyerahkan pengelolaan museum kepada pemerintah Indonesia, yang kemudian menjadi Museum Pusat. Akhirnya, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, No.092/ 0/1979 tertanggal 28 Mei 1979, Museum Pusat ditingkatkan statusnya menjadi Museum Nasional.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Budaya.jogjaprov.go.id,

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU