INDOZONE.ID - Dalam sejarah dan cerita rakyat Jepang terdapat tokoh legendaris yang sangat terkenal, Date Masamune, Sang Dokuganryu.
Date Masamune lahir pada tanggal 5 September 1567 dan meninggal pada tanggal 27 Juni 1636, dan dia adalah salah satu Daimyou pemimpin regional Jepang di awal periode Edo.
Ia dijuluki "dokuganryu," atau dragon with one eye, karena keahliannya dalam strategi.
Baca juga: MULO: Sekolah Elite Zaman Kolonial yang Jadi Cikal Bakal SMA Favorit Sekarang
Latar Belakang Date Masamune
Lahir dengan nama kecil Bontenmaru, Masamune lahir pada 5 September 1567 di Kastil Yonezawa, wilayah Tohoku, Jepang.
Ia anak tertua dari Terumune, pemimpin klan Date. Sejak kecil, Masamune menunjukkan bakat luar biasa dalam seni perang.
Meski lahir dalam keluarga samurai terkemuka, jalan hidupnya tidaklah mulus. Pada usia dini, Masamune menghadapi ujian berat, termasuk kehilangan mata kanan yang menjadi ciri khasnya.
Ada beberapa teori yang berkembang mengenai hal ini ada yang mengatakan bahwa ia menderita cacar ketika kecil, ada juga yang berpendapat bahwa ia menghilangkan matanya sendiri agar tidak menjadi kelemahan dalam peperangan. Karir
Keputusan Masamune untuk menutup matanya yang buta menjadi simbol keberaniannya. Ia pun dikenal dengan julukan "Dokuganryu," yang berarti "naga bermata satu," sebuah julukan yang menggambarkan ketangguhan dan kecerdasannya dalam perang, serta keteguhannya dalam menghadapi segala kesulitan.
Baca juga: Hubungan Pendidikan Sriwijaya dengan Mancanegara
Awal Karier Militer
Pada usia 14 tahun, Masamune sudah memimpin kampanye militer pertamanya untuk membantu ayahnya melawan klan Oma pada tahun 1581, dan berhasil meraih kemenangan.
Keberhasilannya ini menunjukkan kemampuan luar biasa dalam strategi perang, yang membuatnya terkenal di kalangan daimyo lainnya.
Pada usia 18 tahun, setelah ayahnya mengundurkan diri, Masamune dipilih untuk menggantikan posisi sebagai pemimpin klan Date.
Sejak saat itu, ambisi Masamune untuk memperluas wilayah kekuasaan klannya menjadi semakin besar. Kekuasaan Masamune pertama kali teruji ketika ia mengalami kekalahan besar dari klan Ashina di Aizu.
Namun, bukannya menyerah, Masamune segera memperbaiki strategi militernya dan kembali bangkit untuk menaklukkan wilayah-wilayah di sekitarnya, termasuk wilayah kerabatnya sendiri.
Salah satu pertempuran besar yang mengubah taktiknya adalah ketika ia berhasil mengalahkan klan Ashina dan menguasai wilayah Aizu.
Baca juga: 5 Momen Sejarah yang Satukan Indonesia: Jejak Persatuan Menjadi Bangsa Berdaulat dan Maju
Konflik Keluarga
Masamune tidak hanya menghadapi musuh di medan perang, tetapi juga di dalam keluarganya. Setelah kematian ayahnya, hubungan Masamune dengan ibunya dan adiknya semakin memburuk.
Ibunya yang lebih mendukung adiknya, Kojiro, merasa bahwa Masamune tidak pantas memimpin klan Date karena kondisi fisiknya. Konflik ini memuncak ketika ibunya meracuni Masamune, yang akhirnya berhasil menghindari maut.
Untuk menghindari konspirasi yang lebih besar, Masamune akhirnya terpaksa membunuh adiknya.
Baca juga: Jejak Sejarah Tiongkok Kuno dalam Novel Romance of The Three Kingdoms
Aliansi dengan Toyotomi Hideyoshi
Pada awalnya, Masamune menolak tawaran Toyotomi Hideyoshi untuk menjadi bagian dari kekuasaan. Belakangan, Masamune setuju bergabung karena kekuatan Hideyoshi yang kuat.
Namun, ia terkenal sebagai daimyo yang sangat keras kepala dan sering bertindak dengan cara yang tidak sesuai dengan harapan Hideyoshi. Salah satunya diminta untuk mengambil bagian dalam Pengepungan Odawara pada tahun 1590.
Masamune pada awalnya menolak. Penolakan itu membuat Hideyoshi marah. Terakhir, dia tidak dapat mengabaikan perintah pemimpinnya lagi. Masamune akan dieksekusi karena tidak mematuhi perintah.
Baca juga: Ratu Kalinyamat: Srikandi Jepara Abad XVI yang Tangguh dan Visioner
Ia muncul di hadapan Hideyoshi dengan mengenakan pakaian terbaiknya tanpa rasa takut. Namun, Hideyoshi berhasil menyelamatkan nyawanya. Saat itu, ia mengusulkan bahwa Masamune dapat membantunya dan Kekaisaran Jepang. Masamune akan menunjukkan seberapa setia dia.
Terbukti pada serengan ke Korea Masamune pun unggul dalam serangan militer Hideyoshi di Korea.
Sebagai penghargaan atas kesetiaan sang samurai, Toyotomi Hideyoshi memberinya tanah di Iwadeyama.Di sana Masamune tinggal selama 13 tahun dan mereformasi daerah tersebut menjadi pusat ekonomi dan politik yang makmur.
Dengan kecakapan finansialnya, Masamune kemudian mengubah desa nelayan kecil Sendai menjadi kota besar dan kuat secara ekonomi.
Baca juga: Ignatius Loyola, Serdadu yang Menjadi Perintis Ordo Jesuit dan Latihan Rohania Ignatian
Peran Penting Sekigahara dan Membantu Tokugawa
Masamune beralih mendukung Tokugawa Ieyasu setelah Toyotomi Hideyoshi meninggal. Masamune juga terlibat dalam Perang Sekigahara, peristiwa penting dalam sejarah Jepang pada tahun 1600.
Pada awalnya, Masamune enggan bersekutu dengan Tokugawa Ieyasu, pemimpin klan Tokugawa yang akhirnya menguasai Jepang. Namun, setelah melihat kekuatan Ieyasu, ia akhirnya memilih untuk bergabung dengan pasukan Tokugawa.
Keterlibatannya dalam perang ini membantu Tokugawa menang, yang membuatnya semakin dihormati oleh banyak orang. Setelah Tokugawa menang di Sekigahara, Masamune diberi wilayah Sendai di bagian timur Jepang.
Ini kemudian menjadi pusat kekuasaan barunya. Selama masa itu, Masamune memperkuat kekuatan ekonomi dan politiknya serta melakukan banyak inovasi dalam pembangunan kastil dan pelayaran.
Baca juga: Jejak Perjuangan Dr Soetomo Lewat Organisasi Modern, dari Boedi Oetomo hingga Parindra
Dukungan Kekristenan dan Orang Barat
Masamune dikenal memiliki sikap terbuka terhadap agama Kristen dan mendukung misionaris Kristen yang datang ke Jepang. Ia memperbolehkan orang Kristen asing untuk tinggal di wilayahnya, yang mencerminkan kebijakan yang lebih inklusif dibandingkan penguasa lainnya pada saat itu.
Selain itu, Masamune juga membuka hubungan dengan negara-negara Barat, seperti Spanyol dan Meksiko, untuk perdagangan dan diplomasi. Namun, perubahan kebijakan terjadi setelah Tokugawa Ieyasu menguasai Jepang dan mendirikan Shogunat Tokugawa.
Tokugawa melarang agama Kristen karena dianggap mengancam stabilitas politik, dan mulai melakukan persekusi terhadap umat Kristiani di seluruh Jepang.
Baca juga: Serupa Tapi Tak Sama: Dua Douwes Dekker dalam Linimasa Sejarah Indonesia
Meskipun Masamune sebelumnya mendukung Kekristenan, ia terpaksa mengikuti kebijakan Tokugawa dan mengizinkan persekusi di wilayahnya.
Namun, ada catatan bahwa Masamune tetap melindungi beberapa individu Kristen dan misionaris yang dianggap penting.
Keputusan ini menunjukkan perubahan dalam sikap Masamune, yang meskipun harus patuh pada kebijakan Shogunat Tokugawa, masih menunjukkan sisi kemanusiaannya dengan berusaha melindungi mereka yang terancam.
Baca juga: Tan Malaka: Bapak Republik yang Menggerakkan Arah Pergerakan Nasional
Warisan dan Pengaruh
Setelah Tokugawa Ieyasu meninggal pada tahun 1616, Date Masamune melanjutkan ekspansi wilayahnya, dengan mengembangkan Sendai dan Tohoku.
Salah satu warisan penting yang ditinggalkan Masamune adalah Kastil Sendai, yang dibangun pada tahun 1600 setelah ia memperoleh kekuasaan atas wilayah tersebut.
Kastil ini menjadi pusat administrasi dan simbol kekuatan masamune, serta memainkan peran penting dalam mempertahankan stabilitas di wilayah Tohoku.
Baca juga: Annelies Mellema dan Dilema Identitas Orang Indo di Hindia Belanda pada Abad ke-19
Ia dikenal sebagai salah satu tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah Jepang, terutama berkat keteguhan dan inovasinya dalam memajukan daerah yang dipimpinnya.
Masamune meninggal pada 27 Juni 1636 pada usia 69 tahun, meninggalkan warisan sebagai salah satu samurai dan pemimpin militer terbesar dalam sejarah Jepang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber