Orang Indo di Hindia Belanda. (Wikipedia)
INDOZONE.ID - Pada abad ke-19, Hindia Belanda berada di bawah kekuasaan kolonial dengan sistem hierarki rasial yang sangat ketat. Di puncak sistem ini adalah orang Belanda totok, diikuti oleh orang Indo (keturunan campuran Belanda dan pribumi), sementara pribumi berada di lapisan terbawah. Orang Indo menempati posisi yang serba ambigu, mereka dianggap lebih tinggi dari pribumi, tetapi tidak sepenuhnya diterima sebagai orang Eropa.
Salah satu tokoh fiksi yang menggambarkan dilema identitas ini adalah Annelies Mellema dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Meski berlatar pada awal abad ke-20, kisah Annelies mencerminkan kondisi yang telah dialami orang Indo sejak abad ke-19.
Pada masa itu, orang Indo memiliki sejumlah hak istimewa karena hubungan darah mereka dengan orang Eropa. Mereka bisa mengenyam pendidikan di sekolah khusus Eropa dan mendapat akses ekonomi yang lebih baik dibandingkan pribumi. Namun, kenyataan sosial berkata lain. Orang Indo kerap mengalami diskriminasi hukum dan sosial, mereka tidak sepenuhnya diakui sebagai “Belanda sejati”.
Banyak dari mereka kesulitan mendapatkan posisi penting dalam pemerintahan kolonial. Anak-anak Indo, terutama yang lahir dari hubungan tidak resmi antara pria Belanda dan perempuan pribumi, sering kali tidak memiliki status hukum yang jelas. Mengutip penjelasan Baay dalam Nisa, diskriminasi yang dialami anak-anak Indo membuat mereka kehilangan kesempatan bersekolah. Anak-anak dari keluarga mampu mungkin dikirim ke Eropa, tapi sebagian besar lainnya harus menerima pendidikan buruk di koloni atau bahkan tak mendapatkan pendidikan sama sekali.
Annelies adalah anak dari Herman Mellema, seorang Belanda, dan Nyai Ontosoroh, seorang pribumi yang menjadi nyai (selir). Seperti banyak keturunan Indo lainnya pada abad ke-19, status hukum Annelies tidak diakui karena ibunya bukan istri sah menurut hukum Eropa.
Dalam Bumi Manusia, Annelies kehilangan hak atas dirinya sendiri setelah ayahnya meninggal. Ia dipaksa pergi ke Belanda karena dianggap warga Eropa berdasarkan hukum kolonial, meskipun secara emosional dan budaya, ia tak punya keterikatan dengan negeri itu. Kisah ini merefleksikan realitas pahit yang dialami banyak anak Indo, mereka tidak memiliki kendali atas hidupnya sendiri akibat sistem hukum yang rasis dan patriarkis.
Baca juga: Dari Kartini Sampai Era Digital: Gimana Perjalanan Panjang Gerakan Feminisme di Indonesia?
Dilema identitas yang dihadapi Annelies Mellema bukanlah fiksi semata. Ia merepresentasikan kenyataan historis orang Indo yang hidup dalam ketidakpastian, terjebak antara dua dunia. Mereka tidak sepenuhnya diterima oleh masyarakat Belanda, namun juga dipisahkan dari masyarakat pribumi.
Meskipun sistem kolonial telah lama berakhir, warisan sosial dan budaya dari masa itu masih membekas. Sejarah orang Indo menjadi bagian penting dalam perbincangan identitas, baik di Indonesia maupun di Belanda. Kisah Annelies, dan ribuan anak Indo lainnya, adalah pengingat bahwa kolonialisme tak hanya menindas secara politik dan ekonomi, tetapi juga mematahkan identitas dan rasa memiliki banyak generasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Research Gate