INDOZONE.ID - Nama organisasi mahasiswa Indonesia di Belanda ini awalnya mungkin nggak terasa “Indonesia banget”. Tapi siapa sangka, justru dari sinilah semangat nasionalisme modern mulai mengakar dan menggema ke seluruh dunia. Indische Vereniging, yang didirikan pada 1908 oleh para mahasiswa Hindia Belanda di Negeri Kincir Angin, dulunya cuma sekadar tempat nongkrong dan saling bantu sesama perantau. Tapi seiring waktu, tempat ini berubah jadi markas pergerakan politik yang perlahan-lahan mengguncang hegemoni kolonial Belanda.
Awalnya, organisasi ini bersifat inklusif. Nggak hanya anak pribumi, mereka yang punya darah campuran Belanda pun bisa gabung. Tapi semuanya berubah di tahun 1922. Nama Indische Vereniging dianggap kurang merepresentasikan identitas bangsa, karena "Indische" lebih merujuk pada India atau Hindia Belanda, sebutan yang lekat dengan sudut pandang penjajah. Maka, nama itu diubah menjadi Indonesische Vereniging. Dari sinilah kata “Indonesia” mulai digunakan secara politis untuk pertama kalinya, bukan sekadar istilah geografis, tapi jadi simbol perlawanan dan jati diri.
Baca juga: Dari Kartini Sampai Era Digital: Gimana Perjalanan Panjang Gerakan Feminisme di Indonesia?
Perubahan ini juga bikin organisasi lebih selektif. Nggak semua orang bisa jadi anggota, apalagi yang masih punya afiliasi kuat dengan Belanda. Vibes-nya berubah total. Bukan lagi sekadar komunitas mahasiswa, tapi jadi ruang diskusi panas soal kemerdekaan dan masa depan bangsa. Identitas dan kebanggaan sebagai “orang Indonesia” makin tebal di kalangan anggota.
Tiga tahun kemudian, tepatnya tahun 1925, perubahan besar kembali terjadi. Nama dalam bahasa Belanda akhirnya ditinggalkan, dan resmilah lahir Perhimpunan Indonesia. Bukan cuma nama yang berubah, bahasa yang digunakan dalam setiap kegiatan, pertemuan, hingga dokumen organisasi pun mulai beralih dari Belanda ke bahasa Melayu, yang saat itu menjadi bahasa nasional. Ini bukan soal bahasa doang, tapi simbol. Ini tentang membebaskan diri dari mentalitas jajahan dan memperkuat jati diri bangsa.
Baca juga: Evolusi Peran Perempuan Indonesia: Dari Pingitan hingga Politik
Langkah ini jadi penegasan kalau kita bukan bagian dari Belanda. Kita Indonesia. Gerakan ini menunjukkan bagaimana mahasiswa, meskipun jauh dari tanah air, punya peran besar dalam menanamkan benih kemerdekaan lewat kata, organisasi, dan identitas. Perhimpunan Indonesia jadi bukti bahwa perjuangan nggak harus selalu dengan bambu runcing, kadang cukup dengan perubahan nama, bahasa, dan cara berpikir yang radikal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal Doi.org, Jurnal Doi.org