Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 07 AGUSTUS 2025 • 11:00 WIB

MULO: Sekolah Elite Zaman Kolonial yang Jadi Cikal Bakal SMA Favorit Sekarang

MULO: Sekolah Elite Zaman Kolonial yang Jadi Cikal Bakal SMA Favorit SekarangIlustrasi Sekolah Elite Zaman Kolonial (sumber: civitasbook.com)

INDOZONE.ID - Di zaman sekarang, sekolah itu sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tapi bayangin kalau kamu hidup di era kolonial Belanda, belajar di sekolah bukan cuma soal rajin atau pintar, tapi soal status sosial dan kemampuan bahasa Belanda.

Salah satu sekolah paling elite pada masa Hindia Belanda adalah MULO, singkatan dari Meer Uitgebreid Lager Onderwijs. Berdiri sejak akhir abad ke-19, sekolah ini secara level pendidikan bisa disamakan dengan SMP zaman sekarang. Tapi soal gengsi? Jangan ditanya, super eksklusif.

Baca juga: Jejak Awal Pendidikan Formal di Nusantara: Dari Portugis ke VOC

Sekolah untuk “Orang Terpilih” Saja

Siapa aja sih yang bisa masuk MULO waktu itu? Nggak sembarang orang. Biasanya hanya anak-anak pejabat Belanda, bangsawan pribumi, atau keluarga tajir melintir dari etnis Tionghoa, Arab, atau Timur Asing lainnya.

Tapi bukan cuma soal status, syarat masuk MULO juga cukup berat: harus fasih berbahasa Belanda. Semua pelajaran diajarkan dalam bahasa itu, jadi meskipun kamu anak raja sekalipun, kalau nggak ngerti Belanda, ya tetap nggak bisa ikut kelas.

MULO yang Tetap Berdiri Gagah Sampai Sekarang

Meskipun sistem MULO sudah lama dihapus setelah Indonesia merdeka, banyak bangunan sekolah bekas MULO masih berdiri kokoh sampai sekarang, bahkan jadi SMA favorit.

Contohnya:

  • SMA Negeri 1 Yogyakarta
  • SMA Negeri 3 Bandung
  • SMA Negeri 1 Surabaya

Bangunan-bangunan ini bukan cuma megah dan penuh sejarah, tapi juga punya kualitas pendidikan yang makin berkembang. Dari tempat elite kolonial, kini berubah jadi ruang belajar inklusif buat semua kalangan.

Baca juga: Jejak Pendidikan di Indonesia pada Masa Hindu-Buddha

Dari Kolonial ke Kemerdekaan: MULO dan Peranannya

Walaupun dulunya jadi alat pendidikan kolonial, MULO nyatanya membuka jalan buat sebagian kecil rakyat pribumi buat mengakses pendidikan tinggi. Lulusan MULO biasanya lanjut ke sekolah elite seperti HBS, STOVIA, atau bahkan ke Belanda.

Dari sanalah kemudian muncul generasi intelektual yang jadi motor pergerakan kemerdekaan. Nama-nama besar seperti Dr. Cipto Mangunkusumo atau Ki Hajar Dewantara mungkin bukan alumni langsung MULO, tapi mereka hidup dan berkarya di tengah sistem pendidikan yang mulai terbuka berkat adanya sekolah-sekolah seperti ini.

Dulu Elit, Sekarang Legendaris

MULO bisa dibilang jadi simbol transformasi. Dari sekolah yang hanya bisa diakses kalangan atas kolonial, kini gedung-gedungnya dipakai untuk mencetak generasi muda Indonesia dari berbagai latar belakang. Sebuah ironi yang membanggakan, sisa-sisa kolonialisme yang justru dipakai untuk mencerdaskan bangsa.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Research Gate

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

MULO: Sekolah Elite Zaman Kolonial yang Jadi Cikal Bakal SMA Favorit Sekarang

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!