Ilustrasi monyet. (Pexels/Donald Tong)
INDOZONE.ID - Dikenal luas sebagai Wisata Kethekan, Desa Ngujang di Tulungagung menyimpan legenda mistis yang tersembunyi di balik ratusan monyet abu-abu penghuni makam keramat.
Di bawah naungan pohon-pohon besar, satwa liar ini dipercaya sebagai penjaga spiritual yang menjaga keseimbangan antara tradisi dan realitas alam masyarakat setempat hingga hari ini.
Asal-usul nama 'Ngujang' lahir dari beragam interpretasi lokal. Sebagian masyarakat meyakini nama ini merujuk pada tiruan bunyi kera 'nguk-ngak' yang kerap memecah keheningan makam.
Baca juga: Kisah Mistis Cermin Keramat: Rahasia di Balik Kecantikan Abadi Mbok Sari
Namun, versi lain yang lebih kental dengan nuansa religius menyebutkan bahwa Ngujang bermula dari teguran Sunan Kalijaga kepada santri-santrinya yang membangkang.
Alih-alih mengaji, para santri tersebut justru asyik memanjat pohon, hingga akhirnya sebuah 'sabda' spiritual mengubah mereka menjadi sosok kera yang kini menghuni kawasan tersebut.
Kawasan Makam Ngujang kerap diterpa desas-desus mengenai praktik pesugihan dan perjanjian gaib dengan entitas berwujud kera.
Mitos ini semakin mengakar lewat berbagai kisah peringatan, seperti kemalangan yang menimpa mereka yang sengaja menyakiti monyet di sana, atau gangguan spiritual yang dialami keluarga yang nekat membawa pulang anak kera.
Terlepas dari bumbu mistisnya, narasi ini menjadi pengingat kuat bagi manusia untuk senantiasa menghormati alam dan menjaga etika terhadap sesama makhluk hidup.
Berdasarkan keterangan juru kunci makam, Bapak Ribut, monyet-monyet tersebut merupakan bagian dari ekosistem lokal dan bukan makhluk supranatural.
Hubungan historis yang panjang dengan lokasi pemakaman membuat masyarakat menganggapnya sebagai penjaga secara adat.
Ia juga memberikan jaminan bahwa satwa-satwa ini tidak akan bersikap agresif selama wisatawan tetap bersikap santun dan menghormati keberadaan mereka di sana.
Fenomena monyet Ngujang merupakan potret nyata kearifan lokal Tulungagung dalam memadukan spiritualitas, tradisi, dan konservasi alam. Hubungan harmonis ini terlihat jelas saat pengunjung berbagi makanan dengan kawanan kera, menciptakan jembatan interaksi yang unik antara manusia dan satwa.
Di tengah keramaian tersebut, makam Ngujang tetap berdiri tenang sebagai destinasi ziarah bagi mereka yang ingin merefleksikan diri dan mencari ketenteraman spiritual.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube