INDOZONE.ID - "Tak akan tunduk sebelum mati. Tak akan diam saat diinjak." Itulah semangat yang membakar dada para pejuang Aceh di akhir abad ke-19, saat bayang-bayang kolonialisme Belanda mencoba menaklukkan bumi Serambi Mekkah.
Tapi yang mereka hadapi bukan sekadar pasukan bersenjata, melainkan barisan ulama yang menjadikan jihad sebagai jalan hidup.
Tengku Cik di Tiro bukan hanya seorang komandan perang, tapi juga seorang mursyid yang meniupkan ruh perlawanan ke setiap pelosok dayah dan desa.
Di tengah dunia Islam yang sedang terpuruk, Aceh berdiri gagah—menjadi simbol bahwa ketika iman bertemu keberanian, lahirlah perlawanan yang tidak bisa dibungkam oleh meriam dan tipu daya.
Baca Juga: Mitos dan Fakta Seputar Tempat yang ‘Menentang Gravitasi’
Di penghujung abad ke-19, Kesultanan Aceh berdiri sebagai salah satu wilayah Muslim terakhir di Nusantara yang belum berhasil ditaklukkan sepenuhnya oleh Belanda.
Tapi Aceh bukan hanya sisa dari kejayaan masa lalu—ia adalah negeri yang hidup dengan denyut ilmu, dakwah, dan kehormatan.
Dayah-dayah (pesantren tradisional Aceh) menjadi pusat pendidikan dan perlawanan. Ulama di sana bukan sekadar guru, tapi pemimpin umat, pengatur strategi, bahkan penggerak jihad.
Ketika Belanda mulai menyerang, mereka tidak hanya menghadapi rakyat biasa—mereka menghadapi komunitas yang menjadikan Al-Qur'an dan sejarah Rasul sebagai peta perjuangan.
Baca Juga: Bikin Penasaran! Ternyata Ini Faktor yang Bikin Warna Kucing Berbeda-beda
Tengku Muhammad Saman, yang lebih dikenal dengan nama Tengku Cik di Tiro, adalah bukti nyata bahwa ilmu dan keberanian bisa menyatu dalam satu sosok.
Beliau bukan bangsawan, bukan jenderal, tapi seorang ulama karismatik yang menggembleng umat dari balik mimbar sekaligus memimpin mereka ke medan tempur.
Setelah menuntut ilmu di berbagai dayah di Aceh dan sempat bermukim di Tanah Suci, semangat perjuangannya makin membara saat melihat tanah airnya mulai diinjak-injak oleh penjajah kafir.
Kepulangan beliau dari Mekkah bukan untuk hidup tenang, tapi untuk memulai jihad fi sabilillah. Tahun 1881, beliau mendeklarasikan perang terhadap Belanda.
Tapi ini bukan sembarang perang—jihad yang beliau kobarkan memiliki kerangka spiritual yang dalam. Perang bukan semata-mata karena nasionalisme, tapi karena mempertahankan kehormatan agama, negeri Muslim, dan martabat ummat.
Ia mengajak rakyat Aceh untuk memurnikan niat: perang karena Allah, bukan karena marah, bukan karena dunia. Dalam khutbah-khutbahnya, Cik di Tiro mengutip ayat-ayat jihad dan hadis-hadis perjuangan.
Ia membangkitkan semangat umat dengan narasi bahwa mati syahid lebih mulia daripada hidup dalam hina di bawah penjajahan, dan hebatnya, rakyat Aceh benar-benar menyambut seruan itu.
Dari ulama hingga petani, semua turun tangan. Bahkan perempuan seperti Cut Nyak Dhien ikut maju ke medan tempur saat suaminya gugur.
Ini bukan hanya perang satu orang atau satu keluarga—ini perang satu umat. Di Aceh, dayah bukan cuma tempat belajar fiqih dan tafsir, tapi juga pusat transformasi sosial-politik.
Dalam struktur masyarakat Aceh, ulama dayah punya posisi istimewa: mereka dipercaya, dihormati, dan dijadikan rujukan dalam hampir semua hal—termasuk soal perang dan perdamaian.
Ketika Cik di Tiro menyerukan jihad, para teungku dayah langsung menjadi simpul penggerak: mereka yang menyebarkan seruan jihad, mendidik santri untuk siap lahir batin, dan bahkan mengatur logistik serta strategi komunikasi antar wilayah.
Bisa dibilang, dayah-dayah inilah yang menjadi semacam “markas komando” tersembunyi. Di sana santri dilatih bukan hanya ilmu agama, tapi juga ketahanan fisik, strategi bertahan hidup, dan kedisiplinan.
Banyak dari mereka yang akhirnya turun gunung menjadi mujahid sejati, siap menghadapi Belanda yang bersenjata lengkap hanya dengan semangat dan bambu runcing.
Tapi mereka nggak takut—karena mereka tahu, kalau syahid, surga menanti. Hebatnya lagi, perlawanan Aceh itu bukan aksi lokal semata. Banyak ulama Aceh saat itu punya jaringan ke Timur Tengah—terutama dari alumni-alumni Mekkah dan Madinah.
Hubungan ini bikin Aceh tetap terhubung dengan perkembangan dunia Islam global. Bahkan, ada catatan bahwa Cik di Tiro sempat menjalin komunikasi dengan Khalifah Turki Utsmani, meminta dukungan moral dan politik atas perjuangan Aceh.
Selain itu, para ulama juga menulis selebaran dan surat terbuka yang disebar ke seluruh Aceh untuk memperkuat narasi jihad. Peran komunikasi ini penting banget buat menjaga moral dan semangat perlawanan rakyat.
Di saat Belanda menyebarkan propaganda bahwa jihad itu sia-sia, para ulama justru semakin giat menyebarkan narasi bahwa jihad itu jalan kemuliaan. Di tangan para ulama Aceh, jihad bukan sekadar perlawanan bersenjata.
Jihad adalah manifestasi keimanan, bentuk pengabdian tertinggi kepada Allah, dan cara menjaga marwah umat Islam dari kehinaan penjajahan.
Tengku Cik di Tiro dan para ulama tidak mengajarkan kebencian membabi buta, tapi cinta—cinta kepada tanah air, kepada umat, dan kepada agama yang mengajarkan kehormatan serta kemuliaan hidup.
Mereka mempersiapkan umat bukan hanya dengan senjata, tapi dengan ilmu dan akhlak. Santri tidak langsung disuruh angkat senjata, tapi dibina niat dan ruhnya terlebih dahulu. Sebab jihad tanpa keikhlasan akan jadi sekadar kekerasan.
Tapi jihad yang dilandasi ilmu dan iman, itu yang jadi kekuatan sejati. Dalam pidato-pidatonya, Cik di Tiro menekankan bahwa musuh utama bukan hanya Belanda, tapi juga penjajahan dalam hati—rasa takut, rasa minder, dan cinta dunia yang menghalangi perjuangan.
Di zaman sekarang, ketika kata “jihad” sering dipakai oleh kelompok radikal atau malah dicap negatif oleh media Barat, kita perlu mengembalikan maknanya seperti yang ditunjukkan oleh ulama Aceh.
Jihad ala Aceh bukan aksi barbar tanpa arah, tapi gerakan terorganisir dengan basis etika Islam, pendidikan, dan visi jangka panjang.
Mereka tidak membunuh sipil, tidak menyerang sembarangan. Target mereka jelas: tentara penjajah yang merampas kedaulatan umat.
Bahkan dalam kondisi ekstrem sekalipun, para ulama tetap berpegang pada prinsip syariat. Ini bukan ekstremisme, ini idealisme.
Perang Aceh mungkin sudah usai, dan nama-nama seperti Tengku Cik di Tiro, Teuku Umar, dan Cut Nyak Dhien kini hanya tinggal dalam buku sejarah. Tapi semangat mereka tidak pernah mati.
Ia hidup dalam jejak-jejak sunyi di dayah-dayah, dalam syair-syair perjuangan, dan dalam semangat para pemuda yang masih percaya bahwa iman bisa jadi senjata paling dahsyat.
Di tengah dunia hari ini yang serba instan dan individualistik, kita butuh kembali menengok sejarah. Bukan untuk terjebak di masa lalu, tapi untuk menghidupkan nilai-nilainya dalam konteks baru.
Kita butuh ulama yang berani, intelektual yang peduli umat, dan aktivis yang tak takut melawan ketidakadilan—bukan demi popularitas, tapi demi ridha Allah. Karena sejatinya, jihad tidak pernah mati.
Ia hanya berganti bentuk—dari medan tempur bersenjata ke medan juang pemikiran, moral, dan peradaban. Maka dari Aceh, mari kita warisi bukan hanya kisahnya, tapi juga jiwanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal Ilmu-ilmu Sejarah