Peran Pergundikan di Era Kolonial Hindia Belanda: Jadi Pengerak Perempuan dalam Tantanan Perekonomian
INDOZONE.ID - Faktor utama yang memicu munculnya pergundikan, pelacuran, dan berbagai pekerjaan nonformal lainnya adalah tekanan ekonomi serta keterbatasan kesempatan kerja bagi perempuan. Namun, dalam beberapa situasi, perempuan justru memiliki peran signifikan dalam perekonomian.
Pergundikan semakin berkembang pesat dengan diterapkannya sistem ekonomi liberal di Hindia Belanda, yang membuka akses ekonomi dan mendatangkan para pengusaha, terutama laki-laki yang datang tanpa pasangan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode sejarah.
Pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, perempuan di Hindia Belanda memainkan peran yang beragam dalam perekonomian. Faktor lingkungan dan kondisi sosial turut mempengaruhi keterlibatan mereka dalam dunia kerja.
Namun, ketimpangan gender yang terjadi pada masa itu menyebabkan perempuan tidak hanya mengurus rumah tangga, tetapi juga harus bekerja demi mencukupi kebutuhan keluarga.
Baca Juga: Ajian Lembu Sekilan: Ilmu Sakti Warisan Patih Gajah Mada yang Bikin Kebal
Posisi Nyai dalam Struktur Ekonomi di Hindia Belanda
Salah satu fenomena yang marak pada masa itu adalah sistem pergundikan dan prostitusi. Banyak perempuan pribumi yang menjadi nyai atau gundik bagi pria Eropa tanpa ikatan pernikahan resmi.
Praktik ini semakin berkembang pesat setelah tahun 1870, ketika ekonomi Hindia Belanda terbuka bagi perusahaan swasta, terutama di sektor perkebunan. Tidak hanya laki-laki, perempuan dan anak-anak juga bekerja sebagai buruh dengan upah rendah.
Meskipun kehidupan ekonomi seorang nyai umumnya lebih baik, tidak semua perempuan menjalani peran ini secara sukarela.
Baca Juga: Mengenal Iles-iles, Tanaman Liar yang Nggak Bisa Diremehkan
Sebagian besar terpaksa melakukannya karena tekanan ekonomi, keterbatasan pekerjaan, utang keluarga, atau karena norma patriarki yang menempatkan perempuan di bawah kendali laki-laki, terutama ayah mereka.
Minimnya jumlah perempuan Eropa di Hindia Belanda juga menjadi faktor yang mendorong praktik pergundikan. Banyak pria Eropa yang akhirnya memilih perempuan pribumi sebagai pasangan tidak resmi.
Selain itu, desakan ekonomi dan ketidakadilan struktural membuat semakin banyak perempuan yang terlibat dalam prostitusi demi bertahan hidup. Lalu kelahiran anak-anak Indo-Eropa berkontribusi terhadap terjadinya akulturasi budaya.
Interaksi antara budaya dan gaya hidup masyarakat Belanda serta bumiputera berkembang hingga melahirkan kebudayaan baru yang dikenal sebagai Kebudayaan Indis.
Proses perpaduan kedua budaya ini berlangsung melalui saling mempengaruhi tanpa menghilangkan identitas masing-masing.
Selain membawa perubahan dalam aspek budaya, keberadaan anak hasil perkawinan antara bumiputera dan Eropa juga melahirkan kelas sosial dan ekonomi baru.
Dari segi ekonomi, anak Indo umumnya memperoleh perhatian dan perlakuan lebih dibandingkan ibu mereka yang berasal dari golongan bumiputera.
Perempuan sebagai Buruh di Hindia Belanda
Ekspansi ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda membawa perubahan besar dalam struktur sosial dan ekonomi.
Perusahaan swasta membuka banyak perkebunan, membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar, dan tidak hanya merekrut laki-laki, tetapi juga perempuan.
Jika sebelumnya perempuan lebih banyak berkutat dalam sektor domestik, kini mereka mulai memasuki sektor non-domestik. Mereka bekerja sebagai pemilah daun tembakau, penyadap karet, hingga pemetik teh.
Bahkan, anak-anak turut dilibatkan dalam pekerjaan seperti mencari ulat di perkebunan tembakau. Sayangnya, diskriminasi tetap terjadi.
Upah buruh perempuan jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki karena mereka dianggap melakukan pekerjaan yang lebih ringan dan tidak sekuat laki-laki.
Akibatnya, tidak sedikit perempuan yang akhirnya masuk ke dunia prostitusi karena pendapatan yang lebih menjanjikan dibandingkan sebagai buruh perkebunan.
Di beberapa perkebunan, sistem kerja yang melibatkan anak-anak juga umum terjadi. Para pekerja perempuan sering membawa anak-anak mereka untuk membantu pekerjaan sortir, meskipun mereka tidak menerima upah resmi dari perusahaan.
Tidak semua perkebunan menerapkan pembagian kerja berbasis gender. Misalnya, di perkebunan Mento Toelakan, buruh perempuan juga ditempatkan pada pekerjaan berat, menunjukkan bahwa peran perempuan dalam ekonomi semakin luas.
Namun, dalam banyak kasus, keterlibatan mereka dalam sektor ini lebih didorong oleh faktor keterpaksaan akibat desakan ekonomi daripada pilihan pribadi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Journal Of History Studies