Pekerja jalan raya Anyer-Panarukan gagasan Daendels (Wikipedia)
INDOZONE.ID - Tahun 1810 menjadi saksi bisu perubahan dramatis peta kekuasaan di Nusantara.
Di tengah gejolak politik Eropa yang melibatkan Prancis dan Inggris, wilayah Hindia Belanda turut merasakan dampaknya.
Sebuah laporan terbaru mengungkap bahwa pada tahun tersebut, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, melepaskan kendali kekuasaan Belanda di Banjarmasin.
Langkah ini membuka celah bagi kekuatan lain untuk unjuk gigi.
Tak lama berselang, tepatnya pada bulan Mei 1810, Britania Raya melancarkan serangan kilat yang mengejutkan.
Baca Juga: ELS di Hindia Belanda, Sekolah Kaum Elite atau Alat Kolonialisme?
Ambon, Ternate, dan Tidore, tiga pulau penghasil rempah-rempah yang sangat berharga, jatuh kembali ke tangan Inggris.
Keberhasilan militer Inggris ini menandai babak baru dalam persaingan kolonial di wilayah timur Nusantara.
Selain itu, ada sumber sejarah mencatat bahwa langkah Daendels melepaskan kekuasaan di Banjarmasin kemungkinan besar terkait dengan fokus pemerintahannya pada wilayah Jawa yang dianggap lebih strategis.
Namun, keputusan ini secara tidak langsung memberikan angin segar bagi ambisi Inggris untuk memperluas pengaruhnya di kepulauan Maluku yang kaya akan cengkeh dan pala.
Baca Juga: Kebijakan Tanam Paksa di Hindia Belanda: Strategi Kolonial untuk Isi Kas Negara
Kemudian serangan Inggris yang cepat dan efektif, menunjukkan keunggulan angkatan laut mereka pada masa itu.
Jatuhnya Ambon, Ternate, dan Tidore ke tangan Inggris tidak hanya merampas sumber daya ekonomi yang signifikan dari Belanda, tetapi juga memperkuat posisi strategis Britania di jalur perdagangan maritim Asia.
Sehingga keberhasilan Inggris merebut kembali Maluku menjadi pukulan telak bagi kekuasaan Belanda di bawah pemerintahan Daendels.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amal, M. Adnan. 2007. Kepulauan Rempah-Rempah