INDOZONE.ID - Gaya arsitektur Indonesia pada masa kolonial memang sangat kental dipengaruhi oleh budaya Eropa. Lantas seperti apa sejarah perkembangan gaya arsitektur Indonesia pada masa-masa kolonial? Berikut penjelasannya!
Gaya Arsitektur Kolonial Sebelum Kedatangan Daendels
Herman Willem Daendels memimpin Hindia Belanda hanya 3,5 tahun (1808-1811), tetapi kebijakan arsitekturnya berpengaruh besar hingga abad ke-19. Gaya arsitektur "Indische Empire" menjadi warisan utamanya.
Sebelum Daendels, elite Jawa mengembangkan rumah joglo terbuka yang nyaman untuk iklim tropis. Bangunan ini menjadi contoh adaptasi arsitektur lokal sebelum kolonialisasi Eropa masif.
Di akhir abad ke-18, VOC bangkrut, dan korupsi menciptakan aristokrat Eropa kaya di Batavia. Mereka membangun "landhuisen" megah di pinggiran kota yang meniru gaya rumah Jawa dan tentunya sudah disesuaikan dengan iklim tropis.
Baca Juga: Kisah Baekuni, Predator yang Membunuh dan Memutilasi 14 Anak Jalanan
Bangunan Bergaya "Indische Empire" Rancangan Daendels
Proyek ikonik Daendels, Gedung Gouvernements Hôtel, dibangun dengan material bekas benteng VOC. Desain tiga lantai bergaya Eropa ini menyimbolkan kekuasaan Hindia Belanda saat itu, tetapi tidak cocok untuk tropis.
Gedung tersebut memiliki jendela yang tak terlindung, ruang lembap, dan atap datar. Masalah ini memicu kritik karena mengabaikan adaptasi iklim yang sudah dilakukan arsitektur Jawa sebelumnya.
Daendels juga membangun benteng Lodewijk di Surabaya dan memindahkan rumah sakit militer ke Simpang. Kebijakannya lebih memfokuskan pada simbol kekuasaan ketimbang fungsi praktis.
Pembangunan Weltevreden mencakup lapangan Paradeplaats (kini Lapangan Banteng) dan Koningsplein (Medan Merdeka). Tujuan dari menciptakan Weltevreden dan Koningsplein adalah untuk membentuk citra kota Eropa modern di Hindia Belanda saat itu.
Material bangunan untuk pembuatan bangunan bergaya Indische Empire diambil dari pembongkaran bangunan-bangunan VOC seperti benteng Het Kasteel dan gereja tua.
Baca Juga: Misteri di Balik Arti Mimpi dan Macam-macamnya dalam Alquran hingga Psikologi Modern
Kelemahan Dalam Desain Bangunan Bergaya Indische Empire
Gaya Indische Empire Daendels dianggap “angkuh” karena memaksakan estetika Eropa, tanpa mempedulikan iklim tropis di Hindia Belanda. Arsitektur hibrida "Indis" yang mulai berkembang sebelumnya terpinggirkan selama masa kepemimpina Daendels.
Kesalahan desain Gouvernements Hôtel menjadi pelajaran berharga. Arsitek Belanda kemudian menambahkan teras keliling dan atap menjorok (overstek) untuk berdaptasi terhadap iklim tropis.
Gaya Kolonial Modern Sebagai Revisi dari Gaya Indische Empire
Societeit De Harmonie dibangun sebagai penghubung antara kota lama dan Weltevreden. Struktur ini menjadi contoh awal penyatuan fungsi sosial dengan kebutuhan iklim setempat.
Di Semarang, Gedung Lawang Sewu (1900-an) menunjukkan evolusi arsitektur kolonial. Meski megah, desainnya sudah memasukkan ventilasi lebar dan perlindungan dari hujan.
Gaya arsitektur Indische Empire yang diperkenalkan Daendels menginspirasi tata kota modern, tetapi gagal menjawab kebutuhan lokal. Warisannya menjadi dasar pembelajaran bagi arsitek kolonial berikutnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dimensi Teknik Arsitektur