INDOZONE.ID - Salah satu peristiwa sekitar proklamasi Indonesia antara lain peristiwa bom Hiroshima dan Nagasaki yang terjadi pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, dunia menyaksikan salah satu peristiwa paling mengerikan dalam sejarah perang modern.
Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di dua kota Jepang, Hiroshima dan Nagasaki, sebagai upaya untuk mengakhiri Perang Dunia 2.
Ledakan dahsyat ini tidak hanya menewaskan puluhan ribu orang dalam sekejap, tetapi juga meninggalkan bekas yang mendalam dan berkepanjangan pada para korban yang selamat serta generasi berikutnya.
Yuk, simak kisah yang mengungkap kondisi nyata dari korban bom dan dampak jangka panjang yang dialami oleh masyarakat Jepang akibat serangan tersebut.
Baca Juga: Di Balik Tradisi Carok Suku Madura: Menyingkap Makna di Balik Duel Berdarah
Serangan di Hiroshima
Hiroshima menjadi target utama Amerika Serikat karena merupakan pusat aktivitas militer yang penting.
Pada pukul 08.15 pagi, bom yang dinamai "Little Boy" dengan muatan uranium seberat 64 kg meledak pada ketinggian 600 meter.
Ledakan berkekuatan 13 kiloton TNT ini menciptakan kilatan cahaya terang dan suara dentuman yang menggelegar, menghancurkan area seluas 1,6 km.
Hiroshima segera menjadi lautan api, dan sekitar 140.000 orang, atau 39% dari populasi kota tersebut, tewas akibat ledakan dan efek langsungnya.
Baca Juga: Misteri Minyak Bintang Suku Dayak, Konon Bisa Hidupkan Orang yang Sudah Mati
Serangan di Nagasaki
Nagasaki adalah pelabuhan besar yang memiliki empat perusahaan besar yang aktif mendukung kegiatan perang.
Meskipun awalnya bukan target utama, kota ini menjadi sasaran setelah Kokura, target awal, tertutup awan tebal.
Pada pukul 11.00 pagi, bom bernama "Fat Man" dengan muatan plutonium seberat 21 kiloton TNT meledak pada ketinggian 502 meter, menghancurkan radius 1,6 km dan menewaskan sekitar 80.000 orang atau 32% dari populasi kota tersebut.
Kehancuran ini memaksa Jepang untuk menyerah pada tanggal 15 Agustus 1945, yang kemudian disahkan pada tanggal 2 September di Teluk Tokyo di atas kapal USS Missouri.
Baca Juga: Misteri Ritual Mangkok Merah, Konon Bisa Panggil Pasukan Suku Dayak Kalimantan
Dampak Langsung dan Jangka Panjang
Korban ledakan bom tidak hanya mengalami kematian instan, tetapi juga luka bakar parah dan cedera yang mengubah tubuh mereka menjadi sosok yang nyaris tak dikenali.
Banyak yang berada dalam radius 2000 meter dari ledakan mengalami radiasi kronis yang meningkatkan risiko kanker.
Midorina, salah satu korban pertama yang dilaporkan meninggal, tewas akibat keracunan radiasi pada 24 Agustus 1945, hanya beberapa minggu setelah ledakan.
Baca Juga: Sosok Panglima Jilah Suku Dayak, Bisa Taklukkan Lawan Tanpa Menyentuh!
Penelitian menunjukkan bahwa korban biasanya hanya dapat bertahan selama 20 hingga 30 hari, dengan tingkat kematian mencapai 50% dari seluruh korban.
Namun, bagi yang bertahan lebih lama, efek samping senyawa kimia dalam tubuh mereka berkembang selama bertahun-tahun, menyebabkan penyakit seperti kanker darah dan masalah kelenjar tiroid.
Kasus keguguran dan cacat lahir meningkat sekitar 5-10%, meskipun penelitian menunjukkan bahwa radiasi tidak mengurangi kecerdasan generasi berikutnya.
Baca Juga: Kisah Suku Dayak Punan Batu, Punya Ilmu Menghilang Tanpa Jejak!
Kisah Korban yang Selamat
Rikuko Sasaki menceritakan bagaimana beberapa jam setelah bom meledak, kota Hiroshima menghadapi krisis air bersih.
Korban yang sekarat sangat membutuhkan asupan cairan akibat efek gelombang panas, tetapi persediaan air sangat terbatas.
Tingkat kematian akibat luka bakar sangat tinggi, mencapai 95% di Nagasaki.
Pasokan air dan persediaan dari kota-kota terdekat sangat dinantikan untuk mengurangi penderitaan para korban.
Baca Juga: Kisah Mistis di Balik Semburan Lumpur Lapindo Sidoarjo, Ternyata Ada Kaitannya dengan Nyai Sireng
Amerika Serikat dan Jepang bekerja sama untuk meneliti korban dan jasad yang telah tiada, mengirim potongan tubuh ke pusat penelitian di Amerika.
Namun, laporan dari Atlas Obscura mengungkapkan bahwa penelitian ini dilakukan dengan buruk, menyebabkan kekacauan data dan kehilangan informasi penting tentang para korban.
Pada tahun 1973, Jepang berhasil memulangkan sekitar 23.000 unit spesimen untuk diteliti sendiri.
Baca Juga: Mengenal Kisah Rasul Thomas: Sang Pendiri Gereja Kristen Tertua di India
Kesaksian Para Penyintas
Sadao Hirano memberikan kesaksian bagaimana hidupnya berubah drastis setelah ledakan bom.
Saat menghadiri upacara di lapangan sekolah, dia dan teman-temannya terkena ledakan yang mengubah penampilan mereka menjadi seperti monster.
Mereka melarikan diri ke bukit terdekat, mencari tempat aman dan air bersih untuk merawat luka bakar mereka. Meski akhirnya sembuh, mereka tetap mengalami kelainan fisik.
Nakatani Etsuko menceritakan pengalaman ayahnya yang menghadapi kekacauan kota yang penuh dengan jasad korban.
Stigma penyakit menular yang melekat pada para penyintas membuat hidup mereka semakin sulit, hingga banyak yang takut untuk menikah karena khawatir akan dampak buruk bagi orang-orang di sekitarnya.
Baca Juga: Menguak Kehidupan Aghori: Sekte Tantrik yang Kontroversial di India
Bom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki tidak hanya menghancurkan kota-kota tersebut, tetapi juga meninggalkan luka mendalam pada korban yang selamat dan generasi berikutnya.
Dampak radiasi dan trauma fisik serta psikologis terus mempengaruhi kehidupan mereka selama bertahun-tahun.
Kisah-kisah para penyintas mengingatkan kita akan kengerian perang dan pentingnya upaya untuk mencegah tragedi serupa di masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Youtube @Calon Sarjana