Ketika Penjara Alcatraz Berhasil "dijebol" oleh 3 Narapidananya, Kejadiannya Terjadi 9 Bulan Sebelum Penjaranya ditutup
INDOZONE.ID - Alcatraz, sebuah pulau di Teluk San Francisco yang menjadi rumah bagi penjara yang sulit untuk ditembus oleh siapapun yang hendak kabur dari penjara tersebut. Rasanya, gelar tersebut berhasil dipatahkan pada tanggal 11 Juni 1962.
Kisah ini melibatkan 4 orang narapidana di Penjara Alcatraz, mereka adalah Frank Morris, pasangan Kakak beradik John dan Clarence Anglin, serta Allen West. Sebelum dimulai, kita lihat terlebih dahulu mengenai latar belakang para napi ini.
Tentang Para Napi
Pertama, ada Frank Lee Morris, seorang pria asal Washington D.C. kelahiran 1 September 1926. Sejak umur 11 tahun, Frank hidup sebatang kara dan lebih menghabiskan waktunya di panti asuhan.
Baca Juga: Peristiwa Washington Lautan Api, 3 Kebakaran Besar saat Musim Panas Tahun 1889 di 3 Kota Besar AS
Ketika usia 13 tahun, Frank sudah melakukan aksi kriminal perdananya, beberapa diantaranya adalah narkoba dan pencurian. Ia pun mulai sering keluar-masuk penjara akibat kasus pencurian, sebelum akhirnya berakhir di Penjara Alcatraz.
Selanjutnya ada John dan Clarence Anglin, satu-satunya pasangan Kakak beradik yang berhasil mencatatkan diri mereka sebagai orang yang berhasil kabur dari Penjara Alcatraz. John dan Clarence memiliki selisih umur 1 tahun, dimana John lahir di tanggal 2 Mei 1930, dan Clarence lahir di tanggal 11 Mei 1931.
Mereka berdua berasal dari Donalsonville, Georgia, namun karena orang tua mereka bekerja sebagai petani musiman yang bekerja secara nomaden, mereka berpindah-pindah dari 1 kota ke kota lain, mulai dari Ruskin, Florida, lalu Tampa, hingga ke Michigan.
Baca Juga: Misteri Hantu Onggo Inggi Bengawan Solo: Penunggu Sungai yang Menyeramkan
Sebagai anggota keluarga Anglin yang memiliki 14 orang anak, John dan Clarence bukan satu-satunya anak keluarga Anglin yang berakhir sebagai seorang kriminal, tapi juga salah satu saudara kandung mereka yang bernama Alfred.
John, Clarence dan Alfred mendekam di penjara selama 35 tahun usai merampok Bank of Columbia yang berada di Columbia, Alabama. Setelah dipindahkan ke 3 penjara, John dan Clarence akhirnya dipindahkan ke Alcatraz, sementara Alfred masih mendekam di Penjara Atlanta.
Terakhir ada Allen West, sang "sepuh" narapidana yang sudah 20 kali masuk penjara. Pria kelahiran New York, 25 Maret 1929 ini sempat melakukan aksi pencurian mobil sebelum Ia mendekam di Penjara Atlanta dan dipindahkan ke Penjara Florida. Saat Ia mencoba kabur dari penjara, Ia gagal dan berakhir di Alcatraz.
Baca Juga: Israel Takut Terhadap Kutukan 8 Dekade, Bakal Alami Nasib Serupa dengan 2 Negara Yahudi Terdahulu?
Upaya Pelarian
Keempat napi tersebut memang sudah saling mengenal sejak mendekam di Penjara Florida dan Georgia. Kebetulan pada Desember 1961, mereka berempat ditempatkan di dalam sel tahanan yang saling bersebelahan, jadi mereka bisa merencanakan upaya melarikan diri dari Alcatraz.
Selang 6 bulan kemudian, mereka sudah membuat lubang yang mengarah ke jalur ventilasi udara. Lubang ini berada di bawah wastafel dalam sel tahanan. Dalam prosesnya, mereka menggunakan potongan pisau, sendok dan bor listrik buatan mereka dari motor penyedot debu. Untuk menutupi lubang tersebut, dipasang kardus di atasnya. Dan pada saat proses pelubangannya, Frank akan memainkan akordion untuk menutupi suara bor di dalam sel.
Setelah ukuran lubangnya cukup, keempat napi itu mulai berjalan dari ventilasi udara menuju sel kosong yang berada tepat di atas sel mereka. Keempat napi itu menjadikannya sebagai ruang workshop untuk membuat rakit, pelampung sampai topeng plastik yang nantinya akan mereka tinggalkan di dalam sel mereka guna mengelabui Polisi yang berjaga. Soal bagaimana cara mereka bisa membuat semua itu, jawabannya ada pada majalah Popular Mechanics dan Sports Illustrated.
Singkat cerita, tibalah waktu pelarian mereka. Bermodalkan jalur ventilasi udara, Frank, John dan Clarence berhasil kabur dari penjara, sementara Allen sengaja untuk tinggal di penjara guna menutupi semua jejak pelarian rekan-rekannya.
Baca Juga: Menelusuri Sejarah Tugu Abel Tasman dan Tragedi Mengerikan Gunung Marapi 1992
Sekitar pukul 22:00 waktu setempat, Frank, John dan Clarence mulai berlayar ke arah utara menuju Angel Island. Setelah semua jejak pelarian tertutup, Allen kembali ke sel tahanannya dan tidur.
Upaya Pencarian
Hilangnya 3 napi Alcatraz baru diketahui keesokan paginya pada 12 Juni 1962. Pasukan gabungan antara, Polisi, Militer sampai Penjaga Pantai dikerahkan untuk mencari keberadaan Frank, John dan Clarence.
Setelah 2 hari berlalu, tim Penjaga Pantai baru menemukan dayung di dekat pesisir pantai Angel Island, bersamaan dengan sebuah dompet milik salah satu diantara John atau Clarence.
Baca Juga: Oven Homicide: Kasus Pembunuhan Legendaris Finlandia, Korbannya Ditemukan di Dalam Tungku Perapian
Satu minggu setelah penemuan dayung dan dompet, tim gabungan menemukan sobekan jas hujan dekat pantai San Francisco. Diduga kalau jas hujan tersebut digunakan sebagai bahan utama perahu yang digunakan para napi untuk kabur dari penjara.
Dan pada keesokan harinya, tim Biro Intelijen Federal AS (FBI) menemukan jaket penyelamat di dekat Pulau Alcatraz. Atas penemuan jaket tersebut, tim FBI berkesimpulan kalau ketiga napi yang kabur, mati tenggelam. Meski begitu, pasukan gabungan tidak melakukan pencarian ke dasar laut untuk mengonfirmasi kesimpulan tersebut.
Di tanggal 17 Juli 1962, sebuah kapal dari Norwegia mengaku menemukan jasad pada jarak 28 kilometer dari Jembatan Golden Gate. Para awak kapal membiarkan jasad itu terapung selama 3 bulan, sebelum akhirnya mereka melaporkan temuan mereka pada bulan Oktober 1962. Setelah dilakukan autopsi, ternyata mayat tersebut bukanlah salah satu dari 3 napi yang kabur dari Alcatraz.
Investigasi Berlanjut
Allen sebagai perencana dari upaya pelarian 3 rekannya langsung diinvestigasi lebih lanjut oleh Polisi. Karena selama proses investigasi Allen dinilai kooperatif dengan Polisi, Allen tidak mendapat hukuman tambahan dari aksinya.
Terkait apakah benar kalau Frank, John dan Clarence mati tenggelam? Kesimpulan tersebut masih diragukan kebenarannya sampai saat ini. Pasalnya, ada laporan dari beberapa pihak yang mengaku pernah melihat atau terlibat dalam proses pelarian 3 napi tersebut.
Kembali ke tanggal 12 Juni 1962, ada pengakuan dari seorang pengacara dan Polisi San Francisco.
Baca Juga: Arak-Arakan Lawa Pipi, Tradisi Unik Idul Adha di Maluku Tengah
Menurut pengakuan sang pengacara yang bernama Eugenia MacGowan, Ia mengaku mendapat telepon dari seorang yang mengaku dirinya sebagai John Anglin. Dalam percakapan tersebut, John meminta Eugenia untuk menjadi pengacaranya sekaligus menjadwalkan pertemuan antara Dia dengan Marsekal Militer AS. Eugenia menolak permintaan itu dan langsung mengakhiri panggilannya.
Sementara dalam pengakuannya Polisi San Francisco yang bernama Robert Checchi, pada 12 Juni 1962 pukul 01:00 waktu setempat, Ia melihat 3 orang pria meninggalkan sebuah perahu di sebuah pantai dekat Jembatan Golden Gate.
Sialnya, Robert malah membiarkan 3 pria tersebut pergi. FBI menilai perbuatan Robert sebagai perbuatan yang bodoh karena tidak segera melaporkannya kepada satuannya. Seandainya Robert melaporkan temuannya, saat itu juga Frank, John dan Clarence bisa diringkus kembali oleh pihak berwajib.
Baca Juga: Misteri Hilangnya Anak-Anak Sodder di Malam Natal 1945, yang Masih Dicari hingga Kini
Sudah terlambat bagi pihak berwajib untuk melanjutkan pencarian mereka berdasarkan laporannya Robert, karena laporan tersebut baru mereka terima beberapa hari setelah Robert terakhir kali melihat para napi yang kabur itu.
Memasuki awal tahun 1965, FBI mendapat rumor kalau John dan Clarence berada di sana. Mereka pun berangkat ke lokasi untuk mencari mereka, namun tidak berhasil.
Barulah di tahun 2015, salah satu teman dari keluarga Anglin yang bernama Fred Brizzi memberikan sebuah bukti berupa foto yang Ia ambil saat berada di Rio de Janeiro, Brazil pada tahun 1975. Dalam foto itu, Fred menyebut kalau Ia sedang berfoto bersama John dan Clarence.
Baca Juga: 4 Jenis Ilmu Palasik di Sumatera Barat: Berubah jadi Hewan hingga Mengincar Bayi
Aparat berwenang pun segera melakukan investigasi terhadap fotonya Brizzi, dimana hasilnya positif. Foto tersebut terbukti diambil pada tahun 1975. Namun, lagi-lagi pihak berwenang terlambat dalam menangkap targetnya. Pengakuan Fred ini baru diungkap melalui acara dokumenter di saluran History Channel yang berjudul "Alcatraz: Search for the Truth".
Lanjut ke tahun 1967, seorang pria yang mengaku sebagai teman sekelas Frank, mengaku pernah bertemu dengannya di Maryland. Menurut pengakuan pria ini, Frank yang sekarang wajahnya sudah berkumis dan berjenggot. Hanya itu saja yang Ia bisa sampaikan, sayangnya penuturan soal ciri fisik Frank seperti itu terkesan terlalu umum, artinya setiap pria berjanggut dan berkumis di AS bisa saja mengaku sebagai Frank Morris.
Dari semua keterangan para saksi, pengakuan dari keluarga Anglin yang sangat menarik perhatian FBI. Sejak Hari Natal tahun 1962, keluarga Anglin mengaku sering mendapat surat dan kartu ucapan dari seseorang yang tidak dikenal. Di beberapa kesempatan, si pengirim tidak mencantumkan identitasnya. Tapi pada akhirnya, si pengirim ini mulai membuka identitasnya sebagai Jerry dan Joe.
Salah satu saudara kandung John dan Clarence lainnya yang bernama Robert mengaku kalau keluarganya mendapatkan surat dan kartu ucapan dari Jerry dan Joe setiap tahun hingga tahun 1987.
Robert menduga kalau Jerry dan Joe ini adalah John dan Clarence yang sedang menyamar. Tapi sayangnya, Robert tidak bisa melacak keberadaan Jerry dan Joe ini.
Poin menarik soal pengakuan keluarga Anglin terjadi saat Bapak dan Ibu Anglin meninggal dunia. Kejadian pertama terjadi di tahun 1973, dimana saat itu Ibu Anglin menghembuskan nafas terakhirnya. Di acara pemakamannya, keluarga Anglin mengaku menerima 2 orang wanita bertubuh tinggi dengan riasan wajah yang aneh.
Baca Juga: Menelusuri Jejak Misteri Palasik, Sosok Penghisap Darah Bayi di Ranah Minang
Selanjutnya di tahun 1989 saat Pak Anglin meninggal dunia, mereka kembali mendapat tamu 2 pria jangkung berjanggut tebal yang sama sekali tidak mereka kenal. Saat kedua pria itu mendekati peti mati Pak Anglin, Robert mengaku melihat 2 tamunya itu menangis sesenggukan.
Dari ceritanya Robert, FBI nampaknya menarik kesimpulan mereka soal kematian para napi yang kabur akibat tenggelam. Mereka turut berasumsi kalau 2 tamu yang dilihat Robert bisa jadi merupakan John dan Clarence yang sedang menyamar.
Selain pengakuan para saksi, sejumlah peneliti bahkan sampai tertarik untuk melakukan penelitian guna membantu proses investigasi FBI. Dengan memperhitungkan kondisi cuaca, perairan Teluk San Francisco hingga cuaca pada saat kejadian, mereka berkesimpulan kalau para napi tersebut sangat memungkinkan untuk berhasil sampai ke daratan.
Baca Juga: Misteri Kematian Natacha de Crombrugghe yang Tulangnya Ditemukan Terjepit Batu Batu Besar
Pada akhirnya, Penjara Alcatraz resmi ditutup pada 21 Maret 1963 karena biaya operasional yang tinggi dan erosi laut yang mengikis gedung penjara secara perlahan. Tapi sebelum ditutup, ada 1 lagi percobaan kabur yang dilakukan oleh seorang napi bernama John Paul Scott.
Aksi tersebut terjadi pada 16 Desember 1962, dimana Scott melakukan aksi pelariannya sendirian. Ia membuat sebuah pelampung lengan dari gumpalan sarung tangan karet.
Scott berhasil berenang sejauh 5 kilometer dan berhasil mencapai Fort Point. Tapi sialnya, John langsung terkena hipotermia sesampainya di pesisir pantai. Ia pun berhasil ditolong oleh warga setempat dan langsung dibawa ke Letterman Army Hospital. Setelah kondisinya pulih, Scott kembali dibawa ke Penjara Alcatraz.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wikipedia June 1962 Alcatraz Escape Attempt