INDOZONE.ID - Hampir satu hari bersama warga Kampung Rohua, Desa Sepa, Kecamatan Amahai, Maluku Tengah, melihat lebih dalam kehidupan warga pelosok di pesisir laut timur Indonesia. Sedang asik bercengkrama, langkah kaki segerombol orang terdengar diatas tanah bergelombang di kampung itu.
Keluar dari rumah berbentuk unik dengan pakaian yang tak lazim, tapi mereka sangat ramah dan menebar senyuman ke kami. Ialah Suku Naulu, suku yang masih menjaga tradisi leluhur mereka.
Akhir bulan Mei 2026 lalu, kami jurnalis Indozone berkesempatan melihat langsung hingga bercengkrama dengan masyarakat Suku Naulu. Suku ini memang syarat akan sejarah salah satu suku di Indonesia.
Baca juga: Apa Saja Agama Asli Indonesia? Warisan Spiritual Nusantara dari Sunda Wiwitan hingga Kejawen
Perjalanan kami sangatlah jauh dari kota metropolitan di Indonesia. Kita harus terbang via Bandara Soekarno Hatta Jakarta menuju Ambon via Bandara Pattimura.
Selisih waktu dua jam dari WIB ke WIT cukup membuat kami jetleg. Langkah kaki kami teruskan menggunakan mobil roda empat menuju Pelabuhan Tulehu demi mencapai Pelabuhan Amahai.
Ombak tinggi kami lalui menggunakan kapal dengan waktu tempuh sekitar dua jam lamanya. Tiba di Pulau Seram, perjalanan kami lanjut menggunakan mobil hingga tiba di Kampung Rohua.
Baca juga: Sejarah Provinsi di Indonesia: Dari Delapan hingga Mekar Menjadi 38 Provinsi
Agenda kami saat itu memang bukan untuk berjumpa dengan masyarakat Suku Naulu melainkan untuk melihat pendistribusian hewan kurban di pelosok Maluku. Pemandangan disana memang didominasi pantai lantaran titik itu merupakan pesisir pantai.
Pandangan kami seketika tertuju ke bagian agak dalam pemukikan di Kampung Rohua. Daya tarik sangat kuat ketika melihat adanya rumah-rumah berdiri dengan unik.
Rumah tersebut berbentuk panggung dengan topangan kayu-kayu maupun bambu dan beratap tanpa genteng alias berdaun sagu. Rumah tersebut juga tidak memiliki tembok.
Gelap gulita tanpa cahaya, mereka hidup tanpa cahaya di rumah mereka sebagai bentuk menjaga tradisi para leluhur. Untuk aktivitas kehidupan mereka normal layaknya masyarakat pelosok yang dijalani oleh mereka dengan berkebun hingga menjadi nelayan.
Ditengah acara pemotongan hewan kurban kami bersama masyarakat muslim di Kampung Rohua, diujunga sana, masyarakat Suku Naulu hanya memantau. Ustaz Amin, salah satu tokoh disana melihat, malambaikan tangan dan memanggil mereka.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan