Sejarah Tugu Abel Tasman dan Tragedi Mengerikan Gunung Marapi 1992 (foto: Instagram/ @_dap14)
INDOZONE.ID - Gunung Marapi, terletak di Sumatera Barat, adalah salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia. Selain menjadi tujuan populer bagi para pendaki dan pencinta alam, Gunung Marapi juga menyimpan cerita kelam.
Di jalur pendakian menuju puncak, tepatnya di Puncak Merpati, berdirilah Tugu Abel Tasman, sebuah monumen yang menjadi pengingat tragedi mengerikan yang terjadi pada tahun 1992.
Tragedi Mengerikan Gunung Marapi 1992
Pada tanggal 5 Juli 1992, sebuah rombongan yang terdiri dari 4 turis asing, salah satu diantara mereka adalah Abel Tasman, seorang alumni SMA 6 Padang, bersama rombongannya yang berjumlah 15 orang memulai pendakian menuju Puncak Marapi.
Namun, naas gunung berapi tersebut tiba-tiba meletus, letusan ini sangat dahsyat dan terjadi tanpa peringatan dini, menjadikan banyak pendaki yang berada di jalur pendakian dalam bahaya besar.
Baca Juga: Misteri Kematian Natacha de Crombrugghe yang Tulangnya Ditemukan Terjepit Batu Batu Besar
Pada saat itu, Abel Tasman dan Sulastri berada sekitar 10-15 meter dari Puncak Merpati, dan mereka tidak sempat menghindar dari letusan tersebut.
Letusan ini menewaskan beberapa pendaki dan menyebabkan luka serius pada banyak lainnya. Tim penyelamat berjuang keras untuk mengevakuasi para korban dalam kondisi yang sangat sulit dan berbahaya. Kejadian ini menjadi salah satu tragedi terburuk dalam sejarah pendakian Gunung Marapi.
Sejarah Tugu Abel Tasman (foto: Instagram/ @_dap14)
Untuk mengenang tragedi tersebut dan menghormati para korban, terutama Abel Tasman yang menjadi simbol dari semangat dan keberanian para pendaki, didirikanlah sebuah tugu peringatan.
Tugu Abel Tasman dibangun pada 5 Juli 1994, terletak di jalur pendakian menuju puncak Gunung Marapi, sebagai pengingat abadi akan bahaya dan kekuatan alam yang tidak bisa diprediksi.
Tugu Abel Tasman bukan hanya monumen sejarah, tetapi juga simbol edukasi dan refleksi. Keberadaannya menjadi pengingat bagi para pendaki untuk selalu mempersiapkan diri dengan matang, memperhatikan kondisi cuaca, dan mengikuti aturan pendakian.
Tragedi 1992 menjadi pelajaran berharga agar pendaki lebih bertanggung jawab dan menghormati alam, tetapi juga menjadi pengingat bagi semua pendaki akan pentingnya kewaspadaan dan persiapan matang sebelum menaklukkan gunung berapi aktif.
Baca Juga: Misteri di Pegunungan Ural Rusia: Insiden Dyatlov Pass yang Tak Terpecahkan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/ Mwv.mystic