Gigi Putih Gak Berlaku, Intip Ohaguro Tradisi Menghitamkan Gigi yang Jadi Simbol Status Sosial Kaum Elite Zaman Dulu
INDOZONE.ID - Kalau zaman sekarang orang-orang rela merogoh kocek dalam-dalam demi melakukan veneer atau bleaching biar gigi kelihatan putih berkilau, tren seribu tahun lalu di Asia justru sebaliknya. Di masa lampau, standar senyuman yang menawan dan elegan bukan dinilai dari gigi yang putih bersih, melainkan kegelapan pekat di balik bibir.
Yap, para wanita dewasa kelas atas pada masa itu sengaja mewarnai gigi mereka menjadi hitam legam mengilap. Tradisi unik ini dikenal dengan nama ohaguro di Jepang atau nhuộm răng di Vietnam. Gak cuma di Asia, kebiasaan ini juga eksis di Filipina sampai ke suku-suku asli di benua Amerika.
Nahasnya, begitu memasuki abad ke-19, para pejabat kolonial Barat yang datang ke Asia merasa syok. Melansir dari Ancient Origins, bangsa Barat saat itu langsung mengecap tradisi gigi hitam ini sebagai sesuatu yang primitif, kuno, dan barbar. Pandangan miring inilah yang akhirnya mengubah rasa kagum masyarakat lokal menjadi penolakan dan rasa minder.
Baca juga: Bukan Sekadar Bertani, Ladang Gilir Balik Jadi Bagian Budaya Suku Dayak
Bukti Nyata dari Tengkorak Berusia 2.000 Tahun
Tren gigi hitam ini bukan sekadar cerita fiksi. Bukti arkeologis tertua berhasil ditemukan di situs Zaman Besi Dong Xa, Vietnam utara, yang diperkirakan berasal dari tahun 550 SM hingga 50 M.
Arkeolog dari Australian National University, Yue Zhang, menemukan lapisan hitam pekat yang sengaja dioleskan pada enamel gigi dari tengkorak-tengkorak kuno di sana. Setelah diteliti secara kimia, racikan pewarna hitam ini ternyata dibuat dengan cara melarutkan serbuk besi ke dalam cairan cuka. Larutan asam tersebut kemudian dicampur dengan zat tanin yang diambil dari tanaman teh atau empedu tumbuhan hingga membentuk pasta hitam pekat. Proses pengolesannya pun harus dilakukan berulang kali selama berminggu-minggu sampai warnanya mengunci sempurna.
Gak cuma buat gaya-gayaan, pewarnaan gigi ini ternyata punya manfaat medis yang bikin ilmuwan melongo. Lapisan pasta hitam tersebut terbukti ampuh memperkuat enamel, mencegah gigi berlubang, sekaligus memperlambat pengikisan gigi. Karena zaman dulu belum ada dokter gigi secanggih sekarang, ramuan ini jadi solusi pintar buat menjaga kesehatan mulut mereka.
Simbol Status Sosial dan Pembeda dari Hewan
Di kawasan Asia, gigi hitam mengilap adalah simbol dari keanggunan, kedewasaan, dan status sosial kaum elite. Para wanita merasa perpaduan antara bedak wajah yang putih polos dengan gigi hitam pekat memberikan efek kontras yang sangat estetik dan seksi.
Memasuki Periode Edo di Jepang, tren ohaguro makin naik kelas karena diadopsi oleh kaum pria dari kalangan samurai dan bangsawan istana. Bagi mereka, menghitamkan gigi secara sengaja adalah simbol peradaban yang membedakan manusia dengan hewan atau roh jahat. Logikanya simpel: karena semua gigi hewan di alam liar itu berwarna putih, maka manusia yang berbudaya harus tampil beda dengan gigi yang hitam mengilap.
Eksis Juga di Hutan Amazon dan Suku Aztec
Bergeser ke benua Amerika, antropolog dari Oxford, Dr. Thomas Zumbrioch, mencatat kalau Suku Shuar dan Yagua di hutan hujan Peru serta Ekuador juga punya tradisi serupa. Baik pria maupun wanita di sana hobi mengunyah daun, pucuk muda, dan buah dari 40 jenis tanaman berbeda untuk membuat gigi mereka menjadi hitam. Di Amazon, ritual ini menandai fase transisi seorang remaja yang beranjak dewasa.
Sementara itu pada peradaban pra-Kolombia, kaum sosialita dari suku Otomi, Huaxtec, hingga bangsawan Aztec juga gemar mewarnai gigi mereka dengan warna merah atau hitam mengilap. Warna merahnya didapat dari cochineal (pigmen dari serangga), sementara warna hitam didapat dari campuran getah pohon dan jelaga mineral. Sama seperti di Asia, suku-suku ini menganggap gigi berwarna adalah bukti superioritas manusia atas binatang.
Baca juga: Apakah Imlek Budaya Atau Kepercayaan Agama? Fakta yang Jarang DIketahui tentang Tahun Baru China
Punah karena Barat, Kini Comeback Lewat Budaya Pop
Eksistensi gigi hitam mulai meredup pada akhir abad ke-19 karena negara-negara Asia mulai melakukan modernisasi dan kiblat budayanya beralih ke Barat. Di Jepang misalnya, era Restorasi Meiji secara resmi melarang ohaguro demi mendukung penampilan ala orang Barat yang mengagungkan gigi putih bersih.
Uniknya, roda sejarah selalu berputar. Belakangan ini, tren menggelapkan gigi justru kembali naik daun di Amerika Utara lewat pengaruh budaya pop, khususnya di kalangan musisi hip-hop dan pencinta fesyen Gothic.
Banyak performer yang sengaja memakai pewarna gigi temporer berwarna hitam atau ungu tua. Toko-toko perhiasan besar di dunia bahkan mulai ramai memajang grillz (pelindung gigi modis) berwarna hitam legam untuk meniru gaya pernis mengilap dari masa lalu.
Sejarah panjang pewarnaan gigi ini menjadi bukti nyata kalau standar kecantikan itu gak pernah mutlak. Yang berubah sebenarnya bukan giginya, melainkan isi kepala masyarakat tentang arti kata "cantik" itu sendiri!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Nationalgeographic