INDOZONE.ID - Sebanyak 36 biksu dilaporkan telah tiba di Kendal dan singgah untuk bermalam di Gereja Santo Antonius Padua sebelum melanjutkan perjalanan menuju Candi Borobudur dalam rangka menyambut perayaan Hari Raya Waisak.
Perjalanan kaki menempuh ratusan kilometer tersebut dikenal dalam tradisi Buddhis dengan istilah thudong.
Tradisi ini bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan memiliki makna spiritual yang erat kaitannya dengan penerapan ajaran Buddha Gautama.
Baca juga: Makna Hari Waisak 2025: Cahaya Kelahiran Buddha, Misteri Naskah Kuno, dan Pesan Damai untuk Dunia
Lantas, seperti apa tradisi thudong dan pelaksanaannya? Berikut penjelasan lebih lengkap mengenai tradisi thudong di bawah ini!
Apa Itu Thudong?
Tradisi Thudong merupakan praktik hidup sederhana yang dijalankan para biksu dengan berpegang pada tiga dari Empat Kebutuhan Pokok (paccaya), yakni jubah, makanan, dan tempat berlindung.
Dilansir Access to Insight, praktik ini telah berlangsung lebih dari 2.500 tahun dan masih dijalankan oleh para bhikkhu di berbagai negara hingga sekarang. Meski begitu, catatan sejarah mengenai tradisi tersebut tidak terlalu banyak ditemukan.
Di Thailand, misalnya, sejumlah dokumen kuno bernuansa religius maupun sekuler ikut musnah saat ibu kota Ayutthaya mengalami kebakaran pada tahun 1767.
Namun, jauh sebelum peristiwa itu terjadi, keberadaan para bhikkhu Araññika atau pertapa penghuni hutan sudah banyak dikenal dalam tradisi Buddhis.
Dalam praktiknya, para biksu menjalani kehidupan yang membuat mereka harus menghindari segala aktivitas yang berkaitan dengan unsur duniawi.
Praktik tersebut juga dijalankan dengan cara menjauh dari keramaian, tinggal di kawasan hutan, serta memperoleh makanan melalui tradisi pindapata atau berkeliling dari rumah ke rumah.
Dalam perjalanan Thudong, para biksu biasanya hanya membawa perlengkapan sederhana seperti mangkuk pindapatta, payung, maupun tenda kecil.
Mereka pun mengenakan jubah secukupnya dan membawa barang seperlunya selama perjalanan spiritual berlangsung.
Pelaksanaan Thudong bertujuan melatih kesabaran dan pengendalian diri yang dalam ajaran Buddha dianggap sebagai bagian penting dari praktik dharma.
Para biksu dituntut mampu bertahan hidup dalam kesederhanaan sambil menghadapi berbagai kondisi alam, mulai dari terik matahari hingga hujan selama perjalanan berlangsung.
Selain itu, mereka juga hanya makan satu kali sehari dan minum seadanya. Para biksu yang menjalankan ritual thudong juga tinggal atau beristirahat di tempat seadanya.
Pelaksanaan Thudong Masa Kini
Tradisi Thudong yang masih dijalankan hingga sekarang merupakan bentuk penerapan ajaran Buddha Gautama dalam kehidupan para biksu.
Baca juga: Makna Filosofis di Balik Sejarah dan Perayaan Waisak
Seiring perkembangan zaman, beberapa praktiknya memang mengalami penyesuaian agar lebih relevan dengan kondisi saat ini.
Jika pada masa lampau para biksu biasanya mengasingkan diri dari keramaian dan beristirahat di hutan atau gua selama perjalanan, kini mereka dapat singgah di vihara maupun tempat ibadah tertentu.
Meski demikian, perubahan tersebut tidak menghilangkan makna utama Thudong sebagai latihan spiritual dalam menjalani hidup sederhana dan penuh disiplin.
Ritual thudong memuat banyak nilai yang bisa diterapkan dalam keseharian. Pelaksanaannya mengajarkan siapa saja untuk hidup sederhana dan tetap membumi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Acces To Insight