Selasa, 31 MARET 2026 • 10:32 WIB

Peninggalan Sriwijaya: Prasasti, Candi, dan Jejak Sejarahnya

Author

Ilustrasi. Peninggalan Kerajaan Sriwijaya: Prasasti dan Candi (Nano Banana)

INDOZONE.ID - Pernahkah Anda membayangkan sebuah kemaharajaan maritim Nusantara yang kekuasaannya membentang hingga ke Thailand, Kamboja, dan Semenanjung Malaya, jauh sebelum era modern dimulai? Itulah Sriwijaya, sebuah imperium besar yang menguasai jalur perdagangan Selat Malaka sejak abad ke-7 Masehi. Kejayaan masa lalu ini tidak lenyap begitu saja ditelan zaman; ia mewariskan artefak dan struktur kuno yang terus dipelajari oleh para sejarawan di seluruh dunia. Lantas, apa saja jejak yang menjadi saksi bisu kebesaran mereka, dan pesan apa yang sebenarnya ingin mereka sampaikan kepada generasi kita saat ini?

Artikel di Indozone.id ini akan mengupas tuntas berbagai peninggalan Kerajaan Sriwijaya, menelusuri akar sejarah, fungsi, serta maknanya yang sangat penting bagi pembentukan identitas kemaritiman dan toleransi beragama di Nusantara.

Pengertian dan Sejarah Singkat Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya adalah salah satu kerajaan maritim terbesar dalam sejarah Indonesia yang berpusat di Pulau Sumatera, tepatnya di sekitar Palembang. Nama "Sriwijaya" berasal dari bahasa Sansekerta, di mana Sri berarti bercahaya atau gemilang, dan Wijaya berarti kemenangan. Keberadaan Sriwijaya pertama kali diungkap ke dunia akademis modern oleh sejarawan Prancis, Prof. George Cœdès, pada tahun 1918 melalui esainya yang berjudul "Le Royaume de Çrīvijaya".

Apakah Kerajaan Sriwijaya Buddha atau Hindu? Pertanyaan ini sering kali muncul dalam diskursus sejarah. Secara resmi dan dominan, Kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan yang bercorak agama Buddha Mahayana dan Vajrayana. Meskipun demikian, kerajaan ini sangat toleran dan inklusif. Terdapat perpaduan budaya dan sinkretisme dengan ajaran Hindu (terutama aliran Siwa) di beberapa wilayah kekuasaannya. Hal ini membuktikan bahwa sejak berabad-abad lampau, masyarakat Nusantara telah mengenal harmoni dan hidup berdampingan di tengah keragaman keyakinan.

Baca juga: Kerajaan Kutai: Kerajaan Tertua di Indonesia yang Jadi Titik Awal Peradaban Nusantara

Apa Saja Peninggalan Kerajaan Sriwijaya?

Kejayaan Sriwijaya di masa lampau dapat dibuktikan melalui ragam temuan arkeologis. Peninggalan Kerajaan Sriwijaya ini umumnya terbagi menjadi dua kategori utama, yakni bukti tertulis berupa prasasti dan bukti arsitektural berupa candi maupun situs permukiman kuno.

1. Prasasti-Prasasti Peninggalan Sriwijaya

Untuk mempermudah pemahaman mengenai letak dan esensi dari masing-masing prasasti, berikut adalah tabel ringkasan peninggalan Kerajaan Sriwijaya berupa prasasti:

Nama Prasasti Lokasi Penemuan Bahasa & Aksara Isi atau Makna Singkat
Kedukan Bukit Palembang, Sumatera Selatan Melayu Kuno, Pallawa Kisah perjalanan suci (Siddhayatra) Dapunta Hyang dan kemenangan Sriwijaya.
Telaga Batu Palembang, Sumatera Selatan Melayu Kuno, Pallawa Sumpah dan kutukan bagi pejabat atau rakyat yang memberontak.
Talang Tuo Palembang, Sumatera Selatan Melayu Kuno, Pallawa Pembangunan Taman Sriksetra oleh Sri Jayanasa untuk kemakmuran rakyat.
Kota Kapur Pulau Bangka Melayu Kuno, Pallawa Kutukan bagi mereka yang melanggar perintah raja, penaklukan Bhumi Jawa.
Karang Berahi Jambi Melayu Kuno, Pallawa Ancaman dan kutukan bagi daerah yang tidak tunduk pada Sriwijaya.
Palas Pasemah Lampung Selatan Melayu Kuno, Pallawa Penaklukan wilayah selatan dan kutukan bagi pembangkang.
Ligor Nakhon Si Thammarat, Thailand Sansekerta Pembangunan Tisamaya Caitya dan ekspansi ke Semenanjung Malaya.
Hujung Langit Lampung Barat Melayu Kuno, Jawa Kuno Penetapan daerah sima (bebas pajak) berangka tahun 997 Masehi.
Leiden KITLV Leiden, Belanda (Lempeng Tembaga) Sansekerta, Tamil Hubungan diplomasi antara dinasti Chola (India) dan Syailendra (Sriwijaya).
Nalanda Nalanda, India Sansekerta Permintaan Raja Balaputradewa untuk mendirikan vihara bagi pelajar Sriwijaya di India.

Penjelasan Detail Prasasti:

1. Prasasti Kedukan Bukit

Prasasti Kedukan Bukit (Gunawan Kartapranata, wikimedia.org

Ditemukan di tepi Sungai Tatang, Palembang. Prasasti ini memuat angka tahun yang merujuk pada era 680-an Masehi. Prasasti ini sangat fundamental karena menjadi akta kelahiran tidak resmi dari kedatuan Sriwijaya, menceritakan Dapunta Hyang yang membawa puluhan ribu tentara untuk membangun wanua (perkampungan) yang makmur.

2. Prasasti Telaga Batu

Prasasti Telaga Batu, Peninggalan Kerajaan Sriwijaya (Gunawan Kartapranata, wikimedia.org

Berlokasi di sekitar Kolam Telaga Biru, Palembang. Prasasti ini sangat unik karena bentuknya yang menyerupai batu prasasti dengan hiasan tujuh kepala ular kobra. Isinya adalah kutukan berlapis bagi siapa saja yang melakukan makar terhadap raja.

3. Prasasti Talang Tuo

Prasasti Talang Tuo, Peninggalan Kerajaan Sriwijaya (Gunawan Kartapranata, wikimedia.org)

Menunjukkan sisi humanis dan ekologis peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Dikeluarkan pada 23 Maret 684 M, prasasti ini mencatat pembuatan Taman Sriksetra yang ditanami pohon kelapa, pinang, aren, dan sagu untuk kesejahteraan semua makhluk hidup.

4. Prasasti Kota Kapur, Karang Berahi, dan Palas Pasemah

Prasasti Kota Kapur, Peninggalan Kerajaan Sriwijaya (Roby diery, wikimedia.org

Ketiga prasasti ini memiliki benang merah yang sama, yakni berisi sumpah serapah dan kutukan (persumpahan). Ini adalah strategi politik Sriwijaya untuk memberikan efek psikologis dan legitimasi kekuasaan di daerah-daerah taklukannya di Bangka, Jambi, dan Lampung.

5. Prasasti Ekspedisi Luar Negeri (Ligor, Leiden, Nalanda)

Prasasti Ligor membuktikan jangkauan Sriwijaya hingga ke Thailand Selatan. Prasasti Leiden memuat relasi kuat dengan penguasa Tamil di India. Sementara itu, Prasasti Nalanda menceritakan diplomasi tingkat tinggi di mana Raja Balaputradewa dari Suwarnadwipa (Sumatera) meminta Raja Dewapaladewa dari Benggala untuk mengizinkan pembangunan biara bagi mahasiswa Sriwijaya yang sedang menuntut ilmu di Nalanda.

2. Candi Peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Situs Lainnya

Selain mahir dalam literasi kuno, Kerajaan Sriwijaya juga meninggalkan warisan arsitektur megah berupa bangunan keagamaan dan tata kota.

1. Candi Muara Takus

Terletak di Kabupaten Kampar, Riau. Ini adalah candi peninggalan Sriwijaya yang paling ikonik dengan susunan batu bata merah dan arsitektur stupa yang menjulang. Meskipun secara mayoritas bercorak Buddha, para ahli arkeologi menemukan adanya sentuhan ornamen Hindu, membuktikan asimilasi budaya yang harmonis di masa lalu.

2. Candi Muaro Jambi

Membentang seluas 3.981 hektare di tepian Sungai Batanghari, Jambi, kompleks ini merupakan situs kepurbakalaan terluas di Asia Tenggara. Berbeda dari Candi Borobudur yang terbuat dari batu andesit, Muaro Jambi dibangun dari susunan bata merah. Di sinilah letak episentrum pendidikan agama Buddha yang menampung ribuan biksu.

3. Situs Wanu Sriwijaya

Sebuah area rekonstruksi tata kota Sriwijaya di mana arkeolog menemukan sisa industri, pecahan keramik dari Dinasti Tang, serta tembikar. Situs ini memberikan gambaran bagaimana masyarakat Sriwijaya hidup sehari-hari.

4. Situs Bingin Jungut dan Tingkap

Ditemukan di kawasan Sumatera Selatan dan Jambi. Kedua situs ini menyumbangkan artefak penting, seperti arca Awalokiteswara dan patung Buddha berdiri di atas teratai yang menunjukkan tingginya cita rasa seni pahat masa itu.

5. Situs Karanganyar

Terletak di selatan Bukit Siguntang, Palembang. Situs ini membuktikan bahwa Sriwijaya memiliki kemampuan tata kelola air (water management) tingkat lanjut, dibuktikan dengan temuan jaringan parit, kanal, dan kolam buatan kuno.

3. Fungsi dan Makna Peninggalan Sriwijaya

Secara akademis, setiap peninggalan Kerajaan Sriwijaya memiliki tiga fungsi sentral. Pertama, fungsi politik, di mana prasasti kutukan digunakan sebagai instrumen hukum untuk menjaga stabilitas negara. Kedua, fungsi keagamaan, terbukti dari banyaknya stupa, candi, dan prasasti yang didedikasikan untuk pencapaian spiritual (Siddhayatra). Ketiga, fungsi sosial-ekonomi, seperti Prasasti Talang Tuo yang menjadi bukti bahwa penguasa Sriwijaya sangat memedulikan ketahanan pangan dan kesejahteraan ekologis rakyatnya.

Baca juga: Mengungkap Jejak Kerajaan Sriwijaya: Dari Penguasa Laut Sampai Pusat Ilmu di Asia Tenggara

Catatan Sejarah dari Sumber Asing

Eksistensi Kerajaan Sriwijaya tidak akan bersinar tanpa adanya validasi dari catatan penjelajah asing. Salah satu catatan paling kredibel berasal dari biarawan asal Tiongkok, I-Tsing (Yijing), yang singgah di Sriwijaya pada akhir abad ke-7 Masehi.

Dalam jurnal perjalanannya, I-Tsing menuliskan, "Di kota berbenteng Fo-shih (Sriwijaya), terdapat lebih dari seribu biksu Buddha yang pikiran dan praktiknya tidak berbeda dengan yang ada di India." Ia bahkan merekomendasikan agar setiap biksu Tiongkok yang ingin belajar ke Nalanda, India, sebaiknya menetap dan belajar tata bahasa Sansekerta di Sriwijaya terlebih dahulu selama 1-2 tahun.

Peran Sriwijaya sebagai Pusat Pembelajaran Buddha

Bukti-bukti seperti Prasasti Nalanda, Candi Muaro Jambi, dan catatan I-Tsing mengerucut pada satu fakta sejarah yang membanggakan: Sriwijaya adalah kiblat pendidikan agama Buddha terbesar di luar India pada masanya.

Mahaguru agama Buddha tingkat dunia bermukim di sini, salah satunya adalah Dharmakirti (Sakyakirti). Mahasiswa dan biksu dari Tibet, Tiongkok, dan Asia Tenggara berlayar ke Sumatera bukan hanya untuk berdagang rempah, melainkan untuk mencari pencerahan spiritual dan ilmu pengetahuan. Hal ini menjadikan Sriwijaya sebagai pelopor konsep "internasionalisasi pendidikan" di kawasan Asia.

Pentingnya Melestarikan Peninggalan Sejarah

Sejarawan terkemuka Indonesia, Marwati Djoened Poesponegoro, dalam berbagai literatur sejarah nasional sering menegaskan bahwa artefak kuno adalah jati diri bangsa. Peninggalan Kerajaan Sriwijaya bukan sebatas puing-puing masa lalu, melainkan kompas yang mengingatkan kita bahwa bangsa Indonesia memiliki DNA sebagai bangsa maritim yang tangguh, terbuka terhadap diplomasi global, dan menjunjung tinggi toleransi antar-budaya.

Bagi pelajar dan mahasiswa saat ini, mempelajari prasasti dan candi Sriwijaya adalah langkah krusial untuk mencegah amnesia sejarah dan menumbuhkan rasa bangga terhadap peradaban leluhur.

Berdasarkan tinjauan komprehensif di atas, peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang meliputi prasasti, candi, dan situs arkeologi lainnya adalah bukti tak terbantahkan dari sebuah peradaban maritim dan pusat intelektual yang sangat maju di Asia Tenggara. Sriwijaya yang bercorak Buddha Mahayana telah meninggalkan warisan berupa sistem hukum, tata kelola lingkungan, pendidikan, dan diplomasi internasional yang sangat relevan hingga hari ini.

Mari kita jaga kelestarian situs-situs bersejarah ini dengan mengunjunginya, mempelajarinya, dan menyebarkan nilai-nilai luhurnya. Menjawab pertanyaan di awal artikel; jejak bisu tersebut bukanlah sekadar tumpukan batu bata atau guratan aksara usang, melainkan sebuah pesan abadi dari masa lalu. Seperti pepatah yang mengatakan, "Sebuah bangsa yang besar tidak hanya diukur dari seberapa jauh ia melangkah ke depan, tetapi dari seberapa dalam ia mampu menghargai akar sejarah yang menopangnya."

FAQ (Frequently Asked Questions)

1. Apa saja peninggalan dari Kerajaan Sriwijaya?
Peninggalan Kerajaan Sriwijaya meliputi prasasti (seperti Kedukan Bukit, Talang Tuo, Kota Kapur), candi (seperti Muara Takus dan Muaro Jambi), serta artefak berupa arca, tembikar, dan sisa tata kota kuno di berbagai situs di Sumatera.

2. Apa nama candi peninggalan Kerajaan Sriwijaya?
Candi peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang paling terkenal adalah Candi Muara Takus di Riau dan kompleks Candi Muaro Jambi di Jambi.

3. Apakah Sriwijaya beragama Buddha atau Hindu?
Kerajaan Sriwijaya secara resmi adalah pusat agama Buddha Mahayana dan Vajrayana di Asia Tenggara. Namun, kerajaan ini sangat toleran, sehingga unsur-unsur agama Hindu (terutama Siwa) juga berkembang dan berpadu secara harmonis di beberapa wilayah kekuasaannya.

4. Di mana letak pusat Kerajaan Sriwijaya?
Berdasarkan temuan mayoritas prasasti awal seperti Prasasti Kedukan Bukit, para sejarawan sepakat bahwa pusat awal dan utama Kerajaan Sriwijaya berada di sekitar kota Palembang, Sumatera Selatan, di tepian Sungai Musi.

Referensi Utama:

  1. Cœdès, George. (1918). Le Royaume de Çrīvijaya. Bulletin de l'École française d'Extrême-Orient.
  2. Poesponegoro, M. D., & Notosusanto, N. (2008). Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Kuno. Balai Pustaka.
  3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Peraturan.bpk.go.id, Gramedia

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU