Jumat, 07 NOVEMBER 2025 • 20:00 WIB

Kisah Pangeran Antasari, Pejuang Kalimantan yang Tak Pernah Takut Belanda

Author

Ilustrasi Pangeran Antasari. (Youtube, Facebook)

INDOZONE.ID - Nama-nama seperti Pangeran Diponegoro dan Tuanku Imam Bonjol sering disebut sebagai simbol perlawanan rakyat Indonesia. Namun, di pedalaman Kalimantan Selatan, ada satu sosok yang tak kalah gagah dan berani yaitu Pangeran Antasari, tokoh pejuang yang menjadi simbol perlawanan rakyat Banjar dan Dayak terhadap penjajahan Belanda.

Awal Mula Perlawanan

Pada masa itu, Kesultanan Banjar memiliki pengaruh besar di Kalimantan. Namun, seperti kerajaan lain di Nusantara, Belanda perlahan masuk dengan dalih perdagangan, lalu mulai mencampuri urusan politik. Mereka bahkan menentukan siapa yang layak menjadi sultan dan menempatkan pemimpin boneka yang tunduk pada kolonial.

Warga Banjar yang masih memegang teguh adat dan ajaran Islam menolak keras. Di tengah situasi itu, muncul sosok Pangeran Antasari, bangsawan yang berani menentang campur tangan Belanda. Baginya, perlawanan ini bukan sekadar politik, tetapi pertarungan untuk mempertahankan harga diri dan keyakinan.

Baca juga: Ikrar 'Haram' Pangeran Antasari, Pahlawan Nasional dari Kalimantan dalam Perang Banjar Melawan Belanda

Latar Belakang dan Kepemimpinan

Lahir sekitar tahun 1797, Pangeran Antasari merupakan keturunan langsung dari Sultan Banjar terdahulu. Ia tumbuh sebagai bangsawan yang sederhana, dekat dengan rakyat, jujur, dan religius. Ketika situasi kian memanas, Antasari memilih turun langsung ke medan perang ketimbang berdiam di istana.

Yang membedakan Antasari dari banyak pemimpin lain adalah caranya merangkul semua kalangan. Ia tidak hanya mengandalkan pasukan bangsawan, tetapi juga rakyat biasa, petani, hingga suku Dayak yang berbeda keyakinan. Ia menegaskan bahwa perjuangan melawan penjajahan adalah urusan semua orang yang ingin hidup merdeka.

Taktik Perang Gerilya di Hutan Kalimantan

Dengan medan Kalimantan yang luas, penuh sungai dan hutan lebat, Pangeran Antasari menggunakan taktik gerilya. Ia melancarkan serangan mendadak, sabotase logistik, dan pemutusan jalur komunikasi Belanda.

Sementara itu, Belanda membalas dengan operasi besar-besaran. Mereka membakar kampung, menyebar mata-mata, dan mencoba memecah belah rakyat Banjar dengan suap dan intimidasi. Meski pasukan Antasari semakin sedikit, semangat mereka justru semakin kuat, karena mereka berjuang bukan demi kekuasaan, melainkan demi keyakinan.

Baca juga: Di Balik Perlawanan Pangeran Diponegoro yang Bikin Belanda Mengalami Kerugian Ekonomi

Akhir Perjuangan dan Warisan Semangat

Pangeran Antasari wafat pada 11 Oktober 1862 akibat penyakit cacar. Namun, semangat juangnya tidak ikut mati. Rakyat Banjar terus melanjutkan perjuangan yang ia mulai, membuktikan bahwa keberanian tak selalu lahir dari kekuasaan, tetapi dari keyakinan dan kehormatan.

Pada tahun 1968, pemerintah Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden. Kini, namanya diabadikan sebagai nama jalan, universitas, hingga kapal perang.

Lebih dari sekadar nama, semangat Pangeran Antasari tetap hidup: menolak penindasan dan berani melawan ketidakadilan di masa lalu maupun masa kini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Research Gate

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU