INDOZONE.ID - Pernahkah terpikir dari mana air hujan yang turun setiap hari berasal? Dan ke mana perginya air setelah mengalir di sungai atau meresap ke tanah?
Jawabannya ada pada satu mekanisme alam yang disebut daur air. Sebuah proses berkelanjutan yang memastikan air terus bersikulasi di bumi tanpa benar-benar habis.
Daur air adalah proses perputaran air yang terjadi secara terus-menerus antara permukaan bumi dan atmosfer. Air berpindah wujud dan lokasi melalui serangkaian tahapan fisika sederhana. Menguap, mengembun, jatuh sebagai hujan, lalu mengalir kembali ke sumbernya.
Baca juga: Apakah Air Hujan Bersih dan Aman untuk Diminum? Ini Penjelasan Lengkapnya!
Karena sifatnya yang siklikal, proses ini tidak memiliki titik awal maupun titik akhir yang mutlak, setiap tahap saling terhubung dan berulang membentuk lingkaran tanpa putus.
Yang menarik, jumlah total air di bumi sebenarnya relatif konstan sejak jutaan tahun lalu. Air yang menguap hari ini bisa jadi adalah air yang sama yang pernah mengaliri sungai purba ribuan tahun silam.
Daur air lah yang bertanggung jawab mendaur ulang persediaan air tersebut agar tetap tersedia dalam bentuk yang bisa dimanfaatkan makhluk hidup.
Proses dimulai ketika energi panas matahari memanaskan permukaan air di lautan, danau, sungai, hingga genangan kecil sekalipun.
Panas ini membuat molekul air bergerak semakin cepat hingga akhirnya berubah wujud dari cair menjadi gas (uap air), lalu naik ke atmosfer.
Sekitar 90 persen uap air di atmosfer berasal dari evaporasi permukaan laut, mengingat luasnya wilayah perairan yang menutupi lebih dari 70 persen permukaan bumi.
Selain evaporasi dari badan air, ada pula proses serupa yang disebut transpirasi, yaitu penguapan air dari permukaan daun tumbuhan.
Gabungan antara evaporasi dan transpirasi ini sering disebut sebagai evapotranspirasi, dan keduanya sama-sama berkontribusi mengisi atmosfer dengan uap air.
Faktor-faktor seperti suhu udara, kelembapan, kecepatan angin, dan intensitas sinar matahari sangat memengaruhi laju evaporasi.
Itulah mengapa daerah tropis dengan suhu tinggi seperti Indonesia cenderung memiliki tingkat penguapan yang lebih besar dibandingkan wilayah beriklim dingin.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Science Daily, Jurnal Aquatic & Sains Lokal