Sabtu, 25 OKTOBER 2025 • 16:50 WIB

Pertempuran Shanghai: Konflik Tiga Bulan Cina-Jepang yang Dipicu Keributan di Jembatan Marco Polo

Author

Ilustrasi Pertempuran Shanghai (instagram @daily_history_aesthetic) 

INDOZONE.ID - Pertempuran Shanghai 1937 menandai invasi pertama Jepang ke Cina dalam Perang Dunia II. 

Konflik ini dipicu oleh ketegangan lama dan ambisi Jepang di Asia Timur.

Perang Shanghai menjadi pertempuran sengit dan kompleks yang kemudian berkembang menjadi bagian dari Perang Tiongkok-Jepang Kedua serta konflik internasional yang lebih besar.

Penyebab Awal Pertempuran

Perang besar antara Cina dan Jepang terjadi pada tahun 1937 dari sebuah perkelahian kecil di dekat Beijing.

Tidak banyak prajurit yang menyadari bahwa percikan itulah yang memicu Perang Sino-Jepang Kedua. 

Baca juga: Resolusi Jihad: Seruan Kiai dan Ulama yang Menggelorakan Perlawanan terhadap Belanda

Perang ini kemudian melibatkan kekuatan asing seperti Nazi Jerman dan Uni Soviet, dan memicu Perang Dunia Kedua di Asia. 

Pasukan Jepang yang ditempatkan di Beijing pada tanggal 7 Juli 1937 memutuskan untuk melakukan latihan malam di dekat Jembatan Marco Polo.

Cina menanggap mereka sebagai kekuatan asing yang tidak diinginkan. 

Maslaah muncul karena, Jepang tidak memberi tahu pasukan Cina bahwa mereka akan bergerak. Akibatnya, pasukan Cina menembak. 

Perkelahian di Jembatan Marco Polo, atau Jembatan Lugouqiao di Cina, memicu konflik yang benihnya telah memanas selama bertahun-tahun. 

Baca juga: Jejak Mistis Tradisi Gowok di Banyumas: Sejarah Wanita Penuntun Seksual Remaja Pria

Sejak berakhirnya Pemberontakan Boxer hampir empat puluh tahun sebelumnya, pasukan Jepang dan tentara asing lainnya telah ditempatkan di Cina, tetapi Jepang bukan hanya negara asing yang mencari keuntungan ekonomi. 

Jepang telah mengambil Manchuria pada tahun 1931 dan Provinsi Rehe pada tahun 1932. Mereka juga ingin menguasai Cina yang telah terbagi selama beberapa dekade.

Setelah pertukaran tembakan pertama pada 7 Juli, seorang prajurit Jepang hilang. 

Tidak lama kemudian, komandan lokal, Kolonel Renya Mutaguchi, memutuskan untuk melanjutkan dengan tembakan artileri ke posisi Cina. 

Baca juga: London Beer Flood: Kelalaian di Balik Petaka Tsunami Bir yang Menelan Korban Jiwa

Jepang meminta pasukan Cina untuk mundur, tetapi mereka menolak. 

Dalam apa yang mereka sebut sebagai "Insiden Cina", militer Jepang berusaha memaksakan kehendaknya dengan mengirimkan lebih banyak pasukan ke wilayah tersebut.

Persiapan Pertempuran

Pada 1928, Chiang Kai-shek secara teori menyatukan Cina. Akan tetapi Partai Nasionalis terbagi secara ideologis dan banyak provinsi masih dipimpin panglima militer regional. 

Cina menghadapi masalah dengan kekuatan militer yang lebih lemah daripada Jepang. 

Beberapa pakar, seperti Xu Yongchang, menyarankan agar Cina menahan diri untuk menghindari perang besar. 

Baca juga: Sejarah Kelam Sampit: Konflik Berdarah antara Suku Dayak dan Madura

Setelah fokus pada pemberantasan komunis, Chiang kini melihat ancaman Jepang sebagai masalah yang lebih mendesak.

Sementara pemimpin militer Jepang, seperti Jenderal Matsui Iwane, menginginkan serangan total terhadap Cina. 

Jepang menganggap Cina sebagai boneka asing yang harus dikontrol oleh Jepang. 

Negosiator yang dikirim Cina dalam upaya diplomatik untuk mengirimkan malah ditangkap oleh militer Jepang. Ketegangan pun semakin meningkat. 

Baca juga: Dari Sumatra ke Dunia: Awal Mula Shell dan Peran Aeilko Jans Zijlker

Jepang mengancam pemerintah Chiang Kai-shek. Dengan sekitar 950 ribu tentara, pasukan Jepang lebih besar dan lebih kuat. 

Sementara pasukan Cina hanya berjumlah 1,8 juta personel, dengan hanya sekitar 300 ribu personel terlatih yang setia kepada Chiang.

Jalannya Perang Shanghai

Tujuan pertempuran di Shanghai adalah untuk menarik pasukan Jepang dari utara, melindungi sumber daya vital, dan memungkinkan intervensi dari negara lain. 

Chiang juga berharap bantuan dari negara Barat. Istrinya, Song Meiling, mengajukan permohonan kepada AS melalui siaran radio. 

Baca juga: Pertempuran Meester Cornelis: Saat Inggris Rebut Jawa dari Prancis

Song mengatakan bahwa Cina akan melakukan yang terbaik untuk mempertahankan dirinya jika dunia Barat tidak peduli.

Pada 13 Agustus, Jepang mulai menembaki posisi Cina dengan senjata kapal perang, yang membuat meningkatnya konflik di Shanghai. 

Ratusan ribu pengungsi mencari perlindungan di zona internasional saat pasukan dari kedua belah pihak tiba. 

Pada 17 Agustus, Cina melakukan serangan balasan terhadap garnisun Jepang, tetapi tidak berhasil mengalahkannya. 

Akibatnya, Jepang mulai mendorong kembali pasukan Cina melalui pertempuran sengit di wilayah perkotaan. 

Baca juga: Lapisan Sosial Kerajaan Makassar: Dari Bangsawan Anakarung hingga Rakyat Merdeka

Pertempuran dengan Jepang berlanjut pada bulan September dan Oktober, menggunakan segala cara, termasuk gas beracun. 

Meskipun pasukannya mengalami kerugian besar, Chiang yang semula menginginkan perlawanan yang lebih terbuka, kini memutuskan untuk bertahan di Shanghai. 

Pada akhir pertempuran di Shanghai, yang merupakan salah satu yang terbesar dalam Perang Dunia Kedua sebelum Stalingrad, terlibat lebih dari 750 ribu tentara Cina dan 250 ribu tentara Jepang.

Dampak Pertempuran Shanghai

Meskipun terjadi perlawanan yang keras, pasukan Tiongkok pada akhirnya harus mundur dari Shanghai. 

Baca juga: Jules Brunet: Sang The Last Samurai Sesungguhnya

Pada November 1937, pasukan Jepang berhasil merebut Shanghai sepenuhnya setelah berbulan-bulan pertempuran. 

Kemenangan ini datang dengan konsekuensi yang sangat besar. 

Ribuan tantara dan warga sipil telah meninggal di Tiongkok, dan pertempuran dan serangan udara Jepang menyebabkan kerusakan yang signifikan di Shanghai.

Namun, Chiang Kai-shek, pemimpin Partai Nasionalis Tiongkok, tidak menyerah meskipun kekalahan ini. 

Mereka memilih untuk mempertahankan perjuangan mereka di tempat lain. 

Satu alasan Tiongkok mempertahankan Shanghai adalah untuk menunda invasi Jepang dan mendapatkan dukungan dari negara-negara lain.

Baca juga: John Gotti, Merintis Karier Mafia dari Jalanan Bronx ke Puncak Kekuasaan

Invasi lanjutan Jepang ke Nanjing

Jepang lalu menyerang Nanjing, ibu kota politik dan administratif Tiongkok, setelah menang di Shanghai.

Tapi apa yang terjadi setelahnya menjadi salah satu tragedi perang paling terkenal dalam sejarah: Pembantaian Nanjing. 

Pada Desember 1937, Jepang melakukan serangan brutal ke Nanjing. 

Ini menyebabkan banyak pembunuhan, pemerkosaan, dan kejahatan lainnya terhadap warga sipil dan prajurit Tiongkok yang menyerah. 

Peristiwa ini dianggap sebagai salah satu kejahatan perang terbesar dalam sejarah kontemporer.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: "The Battle Of Shanghai." Sejarah Terkini (1916-1940)

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU