Jendral Jan Willem Janssen (sumber: Wellmart Canada)
INDOZONE.ID - Kekalahan Belanda atas Prancis dalam Perang Napoleon membuat Prancis memperoleh kuasa penuh atas Pulau Jawa. Saat itu, Pulau Jawa dipimpin oleh seorang gubernur jenderal bernama Herman Willem Daendels (1762–1818). Daendels ditugaskan oleh Napoleon untuk mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Kerajaan Inggris. Salah satu bukti pelaksanaan tugasnya, selain membangun Jalan Raya Pos, adalah pembangunan benteng pertahanan di Kota Batavia (Jakarta).
Sesuai namanya, benteng ini terletak di wilayah Meester Cornelis (Jatinegara). Benteng tersebut memiliki bentuk bintang tujuh dengan panjang sekitar 1.600 meter dan lebar 550–730 meter. Pertahanan benteng dilengkapi 280 meriam yang dipasang di dinding dan pos penjagaan, serta mampu menampung lebih dari 17.000 prajurit.
Melihat Pulau Jawa berada di bawah kendali Prancis, Lord Minto Gubernur Jenderal Kerajaan Inggris, berencana mengurangi intervensi Prancis terhadap Pulau Jawa yang saat itu dipimpin oleh pengganti Daendels, Jan Willem Janssens.
Baca juga: Jalan Raya Pos dan Transformasi Paleis Buitenzorg Menjadi Istana Bogor
Pada pertengahan tahun 1811, Lord Minto melancarkan ekspedisi militer menuju Pulau Jawa. Ekspedisi ini dipimpin oleh seorang warga Amerika yang pernah membantu Inggris dalam Perang Kemerdekaan Amerika, Letnan Jenderal Sir Samuel Auchmuty.
Sebanyak 12.000 tentara dan 100 kapal tiba di Teluk Batavia pada 4 Agustus 1811, dan segera melancarkan serangan terhadap Batavia pada pukul sebelas malam. Setelah merebut Batavia dari tangan Prancis, pada 10 Agustus, pasukan Inggris bergerak menuju Benteng Meester Cornelis yang saat itu menjadi kamp militer utama Prancis.
Alasan Inggris menyerang benteng tersebut adalah karena Meester Cornelis terletak di jalur penghubung antara Batavia dan Buitenzorg (Bogor), yang memungkinkan Inggris mengakses wilayah-wilayah penting di seluruh Pulau Jawa.
Lord Minto (sumber: Britanica)
Pada 14 Agustus 1811, Inggris memulai serangan meriam dari sisi utara Benteng Meester Cornelis, menandai awal pertempuran sengit. Selama beberapa hari berikutnya, terjadi baku tembak intens antara pasukan Prancis dan Inggris, dengan kedua belah pihak berusaha keras merebut keunggulan.
Pada pagi buta 22 Agustus, Prancis melancarkan serangan cepat dan berhasil merebut tiga meriam milik Inggris. Namun, keuntungan tersebut tidak bertahan lama karena mereka segera dipukul mundur oleh Resimen Serdadu ke-69 Inggris.
Pertempuran sempat mereda pada 23 Agustus, tetapi kembali memanas keesokan harinya saat posisi pasukan Prancis semakin melemah. Seorang pengkhianat di pihak Prancis membantu Jenderal Rollo Gillespie merebut dua dari tiga benteng kunci pertahanan Meester Cornelis.
Meski Gillespie sedang sakit, ia tetap memimpin serangan dan berhasil merebut benteng terakhir serta menangkap Jenderal Jauffret dari pihak Prancis. Namun, upaya Inggris mengakses gudang amunisi gagal setelah dua mayor Belanda mengorbankan diri dengan meledakkan gudang tersebut.
Kehilangan tiga benteng kunci membuat moral pasukan Prancis merosot tajam. Banyak tentara Belanda yang bersekutu dengan Prancis melakukan desersi dan menyatakan ketidaksetiaan mereka. Pada tengah malam 25 Agustus, setelah penyerbuan sengit, bendera Inggris akhirnya berkibar di atas Benteng Meester Cornelis. Kemenangan ini tidak hanya menjadi prestasi strategis bagi Inggris, tetapi juga mengubah peta kekuasaan di Pulau Jawa yang sebelumnya berada di bawah kendali Prancis dan Belanda.
Baca juga: Pertempuran Meester Cornelis: Gerbang Utama Kerajaan Inggris dalam Menduduki Hindia Belanda
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Cambridge.org