INDOZONE.ID - Semua dimulai pada tahun 1750 kala Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff membangun Istana Bogor di Kampoeng Baroe, atau dikenal dengan Kota Bogor. Tahukah kamu bahwa bagian ini menjadi bagian prioritas dalam pembangunan Jalan Raya Pos (Grote Postweg) pada masa Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels yang menghubungkan Batavia (Jakarta) dengan Bogor? Bangunan ini awalnya memiliki tiga tingkatan dengan arsitektur Blenheim Palace.
Sebagian gedung ini awalnya dibangun bertingkat oleh Gubernur Jenderal Mossel setelah serangan Kesultanan Banten yang mengakibatkan kehancuran, disusul dengan adanya kerusakan akibat gempa bumi pada 10 Oktober 1834 sebab Gunung Salak. Kemudian pada tahun 1850, Paleis Buitenzorg (Istana Bogor) dibangun kembali, tetapi kali ini tidak dibuat bertingkat karena letak geografisnya yang berada di kawasan rawan gempa. Paleis Buitenzorg (Istana Bogor) mulai aktif berdiri pada 1850 saat masa pemerintahan Gubernur Jenderal Albertus Jacob Duymaer van Twist.
Pada 1870, Gubernur Jenderal menggunakan Istana Bogor sebagai tempat peristirahatan, bukan lagi sebagai tempat tetirah. Paleis Buitenzorg (Istana Bogor) difokuskan sebagai tempat kediaman resmi Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Pada sisi arsitektur, terjadi adanya perubahan selama masa Gubernur Jenderal Belanda maupun Inggris (Daendels, van der Capellen, dan Sir Thomas Stamford Raffles), yang mana gedung ini dibangun dengan gaya neo klasik (Eropa) abad ke-19 yang dipengaruhi oleh arsitektur Eropa (Belanda).
Di sekitar istana, terdapat barak besar yang digunakan sebagai tempat istirahat pasukan Eropa yang bekerja bagi pemerintah Hindia Belanda (Indisch Leger). Kala itu Pemerintah Hindia Belanda memiliki sekitar 40.000 tentara dengan sepertiga tentaranya berasal dari bangsa Eropa (Belanda, Jerman, Inggris, Belgia, Swiss, dan Perancis).
Istana Bogor. (Z Creators/Vivi Sanusi)
Bogor pun mengalami perkembangan pada masa pemerintahan kolonial Inggris hingga renovasi Istana Bogor yang sebagian tanahnya dijadikan Kebun Raya (Botanical Garden). Pada periode Raffles, dilakukan perombakan atas rumah peristirahatan Istana Bogor menjadi sebuah istana dengan luas mencapai 14.892m2 dan luas halamannya 28,4 hektar.
Baca Juga: Jalan Raya Pos Daendels Abad ke-19: Jejak 'Berdarah' Kolonial di Jawa
Raffles juga membangun sebuah kebun sekitar istana yang kemudian diberi nama Hortus Bogoriensis. Oleh Jepang, Paleis Buitenzorg (Istana Bogor) dijadikan markas tentara dan kondisinya dibiarkan tidak terawat. Pada akhir 1949, Istana Bogor diserahkan kepada Pemerintah Indonesia setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia. Kemudian Istana Bogor dan Kebun Raya Bogor menjadi suatu kesatuan lanskap.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Kebunraya.id