INDOZONE.ID - Di balik lembah-lembah sunyi kawasan Banyumas, Jawa Tengah ada sebuah profesi yang sudah jarang diucapkan bahkan ditemui. Kata itu adalah Gowok, sebuah tradisi lama yang kini diselimuti kabut stigma dan kesalahpahaman.
Kata-kata itu belakang populer lagi di tahun ini lantaran muncul film berjudul 'Gowok: Kamasutra Jawa' yang tayang di Netflix berlatar masa lalu.
Dalam pandangan modern, kata itu dihubungkan dengan hal yang tabu dan mistis. Hanya saja, beberapa penelitian antropoligis dan jurnal, Gowok justru berakar dari ritual budaya yang sarat nilai spiritual, edukatif, dan simbolik.
Adegan di film Gowok: Kamasutra Jawa (IMDB)
Menurut catatan yang ditemukan dalam penelitian budaya Banyumas dan beberapa jurnal seperti Jurnal Ilmu Sosial & Humaniora Universitas Jenderal Soedirman, istilah Gowok mulanya merujuk pada sosok perempuan tua yang membimbing remaja laki-laki menuju kedewasaan. Ia bukan “pelacur” dalam pengertian modern, melainkan semacam guru kehidupan yang bertugas memberi pemahaman tentang tanggung jawab, etika pernikahan, dan pengendalian diri.
Baca juga: Mengurai Sejarah G30S PKI: Latar Belakang, Kronologi, dan Perdebatan Pelaku
Dalam konteks lama, masyarakat agraris Jawa percaya bahwa kedewasaan fisik harus disertai kesiapan batin. Karena itu, bimbingan dari seorang Gowok dianggap sebagai bentuk ritus peralihan (rite of passage), mirip dengan tradisi inisiasi di berbagai kebudayaan dunia.
Ritual ini dilakukan dengan aturan adat yang ketat, di bawah pengawasan tetua kampung, dan memiliki unsur simbolik yang mengajarkan kehormatan terhadap perempuan bukan eksploitasi terhadapnya.
Beberapa peneliti, seperti Budi Sardjono, menyebut asal-usul “Gowok” mungkin berakar dari pengaruh Tionghoa-Jawa pada masa lalu. Ada kemungkinan nama itu berasal dari perempuan Tionghoa bernama Goo Wok Niang, yang konon dikenal sebagai pengasuh dan guru sopan santun bagi anak-anak bangsawan lokal. Dari percampuran budaya dan lidah masyarakat Jawa, nama itu berubah menjadi “Gowok”.
Selain pengaruh luar, Gowok juga dianggap bagian dari sistem sosial masyarakat Banyumas kuno — masyarakat yang sangat egaliter namun juga kental dengan spiritualitas lokal. Dalam lingkungan yang masih memegang teguh nilai-nilai animisme dan sinkretisme, seorang Gowok dipercaya memiliki aura mistis dan karisma batin, karena ia berperan sebagai penjaga keseimbangan antara nafsu dan kesadaran diri.
Baca juga: Kasuari dan Perayaan Tahun Baru: Simbol Totemisme dalam Tradisi Suku Asmat
Banyak cerita rakyat Banyumas menyebut bahwa seorang Gowok sejati tidak bisa dipilih sembarangan. Ia harus memiliki ilmu kebatinan, kemampuan menenangkan jiwa, bahkan dipercaya dapat melihat “aura” seseorang. Beberapa kisah tua menggambarkan Gowok sebagai sosok yang memegang minyak wangi suci dan kain selendang merah, simbol daya pengasihan dan pengetahuan rahasia.
Di beberapa desa, makam perempuan yang dipercaya sebagai Gowok terakhir masih dijadikan tempat ziarah oleh sebagian warga tua. Mereka menyebutnya bukan untuk mencari pesugihan, tapi memohon ketenangan dan keharmonisan rumah tangga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal