Senin, 08 SEPTEMBER 2025 • 20:00 WIB

Aksi Revolusi Mogok Kerja oleh VSTP untuk Menentang Kolonialisme Belanda

Author

Buruh Kereta Api di Depan Kantor Samarang Joana Stoomtram Maatschappij (Sumber: Dok. Geheugen van Nederland)

INDOZONE.ID - Semarang termasuk kota pada zaman Hindia Belanda dengan pembangunan rel kereta api yang dibuat oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda dengan tujuan perdagangan. Proses pembangunan dibantu oleh perusahaan swasta Nederland Indische Spoorweg Maatschappij yang berdiri pada 10 Agustus 1867, di mana jalur rel yang dibangun luasnya mulai dari Semarang sampai ke wilayah Tanggung.

Ramainya perdagangan di kota-kota Hindia Belanda akibat pembangunan rel kereta api mengakibatkan tingginya urbanisasi masyarakat yang pergi untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

Baca juga: Dari Gerobak Sapi ke Jalur Kereta: Sejarah Transportasi Kayu Jati di Jawa

Vereninging van Spoor-en Tramwegpersoneel atau yang lebih dikenal dengan nama VSTP adalah serikat buruh kereta api yang dibentuk pada 14 November 1908 di Semarang oleh 63 buruh Eropa dari perusahaan Nederland Indische Spoorweg Maatschappij (NISM), Samarang Joana Stoomtram Maatschappij (SJS), dan Samarang Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS). Pembentukan VSTP di Semarang tidak terlepas dari status Kota Semarang sebagai kota pertama di Hindia Belanda yang dibangun jaringan kereta api, serta posisinya sebagai salah satu kota dagang besar di Hindia Belanda karena memiliki pelabuhan-pelabuhan favorit untuk kegiatan ekspor dan impor komoditas barang. Namun, kondisi Semarang yang ramai dan cukup maju tersebut tidak didukung dengan keadilan dan kesejahteraan rakyatnya.

Kemajuan VSTP juga didukung oleh kedatangan Henk Sneevliet, seorang sosialis yang bekerja sebagai staf redaksi Soerabajasche Handelsblad. Ia pindah ke Semarang dan menjabat sebagai sekretaris di Semarangsche Handels Vereeniging (Guskannur et al., 2013). Sneevliet sendiri adalah seorang sosialis yang memiliki hubungan dekat dengan Semaoen, seorang komunis yang datang ke Semarang pada 1916, tiga tahun setelah kedatangan Sneevliet. Di Semarang, dengan pengaruh Marxisme, keduanya memberikan pengaruh pada sarekat buruh untuk melawan kolonialisme Belanda.

Sneevliet bersama Bersgma, Brandstedder, dan Dekker kemudian membentuk organisasi politik bernama Indische Social Democratische Vereeniging (ISDV) yang berhaluan komunisme, dengan surat kabarnya Het Vrije Woord sebagai alat propaganda, dan kemudian berkolaborasi dengan VSTP (Pramartha, 2022). Sneevliet membuat sebuah perubahan di tubuh VSTP, di mana awalnya anggota didominasi oleh orang-orang Eropa, kemudian bergeser didominasi orang-orang pribumi, dengan alasan banyak pribumi memiliki tingkat intelektual yang tinggi (Ingleson, 2013).

Dengan ditangkapnya Semaoen, yang merupakan sosok berpengaruh dalam perkumpulan buruh itu, para anggota VSTP melakukan aksi mogok kerja. Puncak konfliknya terjadi pada 13 Mei 1923, ketika 10.000 buruh ikut serta dalam aksi tersebut. Aksi pemogokan berfokus pada Jawatan Kereta Api Negara dengan jumlah 8.285 pemogok. Selain buruh kereta api, banyak pula pedagang pasar umum, pegawai toko mesin, bahkan sopir mobil dan truk yang ikut serta. Dalam hitungan hari, aksi tersebut sudah melebar ke Pekalongan, Tegal, Madiun, Surabaya, serta Cirebon. Aksi pemogokan kerja ini segera berkembang tidak terarah hingga mencapai pusat-pusat buruh kereta api di Jawa.

Baca juga: Stasiun Bogor dan Jejak Rel Kolonial: Kisah Pembangunan Jalur Kereta Pertama di Jawa

Puncaknya, pada Mei 1923 para buruh kereta api mengadakan mogok besar-besaran yang menyebabkan perusahaan-perusahaan perkeretaapian merugi, terutama tiga perusahaan yang membentuk VSTP sebagai persatuan serikat buruh kereta api (NISM, SJS, dan SCS) (Wahyudi, 2019).

Karena pemogokan kerja yang mereka lakukan, para buruh dipecat oleh perusahaan. Aksi tersebut dianggap termasuk gerakan radikal yang mengancam posisi kolonial Hindia Belanda, baik di internal perusahaan tempat mereka bekerja maupun dalam ruang lingkup politik.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Journal.unnes.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU