Jumat, 27 JUNI 2025 • 15:30 WIB

Perjalanan Tari Yangge di Tiongkok, dari Propaganda ke Komunitas

Author

Tari Yangge

INDOZONE.ID - Tari Yangge merupakan salah satu bentuk seni rakyat yang telah mengalami transformasi besar seiring waktu, khususnya selama masa pemerintahan Partai Komunis Tiongkok (PKT). 

Pada awalnya, tari ini muncul sebagai bagian dari upacara pertanian dan perayaan komunitas yang sederhana. 

Namun, seiring dengan berkembangnya sejarah politik Tiongkok, tari Yangge tidak hanya menjadi ekspresi budaya, tetapi juga alat untuk menyebarkan ideologi politik.

Tari Yangge diperkirakan berasal pada masa Dinasti Song (959-1278 M), dan awalnya digunakan dalam perayaan petani untuk menyambut musim panen atau sebagai bagian dari ritual keagamaan. 

Baca juga: Ajian Kancing Konci: Ilmu Sakti Kuno yang Bisa 'Ngunci' Lawan Cuma Lewat Tatapan

Secara harfiah, "yangge" berarti "lagu penanam padi" atau "lagu rakyat," yang menggambarkan keterlibatan masyarakat dalam kegiatan kolektif. 

Pada masa ini, tari Yangge ditarikan oleh masyarakat pedesaan dalam bentuk parade yang melibatkan gerakan-gerakan sederhana yang mencerminkan aktivitas sehari-hari, seperti membawa air atau berkerja di ladang.

Seiring dengan naiknya kekuasaan PKT pada tahun 1949, tari Yangge menjadi alat penting dalam propaganda politik. 

PKT melihat potensi besar dalam seni ini untuk menyatukan massa, terutama petani dan buruh, di bawah ideologi komunis. 

Di bawah pengaruh Mao Zedong, tari Yangge disesuaikan dengan tema-tema yang mendukung revolusi, seperti "Saudara dan Saudari Mengolah Tanah" dan "Suami dan Istri Belajar Membaca." 

Baca juga: 5 Weton yang Dipercaya Membawa Banyak Rezeki di Bulan Suro, Apa Saja?

PKT memperkenalkan bentuk baru tari ini yang lebih sesuai dengan agenda politik mereka, yaitu sebagai bentuk penyuluhan kepada masyarakat untuk mendukung reformasi sosial, literasi, dan perubahan ekonomi.

Yangge menjadi bagian dari pertunjukan massal dalam parade politik dan rapat besar yang dihadiri oleh ribuan orang. 

Selama periode ini, yang awalnya merupakan bentuk seni rakyat yang sederhana, kini menjadi simbol kekuatan politik yang menyebarkan ideologi PKT di seluruh negeri. 

Tari Yangge digunakan sebagai alat untuk mengedukasi rakyat tentang pentingnya produksi pertanian, revolusi budaya, dan kesetaraan sosial.

Namun, meskipun tari Yangge menjadi sangat populer pada masa-masa awal pemerintahan PKT, pada awal Revolusi Kebudayaan (1966-1976), bentuk seni ini mengalami penindasan. 

Jiang Qing, istri dari Mao Zedong, memainkan peran penting dalam melarang berbagai bentuk seni tradisional yang dianggap tidak sesuai dengan ideologi proletariat yang baru. 

Pada masa ini, tari Yangge yang masih mempertahankan elemen-elemen tradisional dianggap sebagai simbol dari "budaya lama" yang harus dihancurkan. 

Baca juga: Teror Tuyul di Malam Hari: Makhluk Gaib Pencuri Uang yang Meresahkan Warga di Bantul 2 Dekade Lalu

Oleh karena itu, tari Yangge dan seni rakyat lainnya yang tidak mendukung agenda komunis menjadi sasaran reformasi keras.

Setelah berakhirnya Revolusi Kebudayaan pada 1976, tari Yangge mulai mengalami kebangkitan. Pada tahun 1990-an, kelompok-kelompok yang terdiri dari warga senior di Beijing mulai kembali menari Yangge sebagai kegiatan sosial di taman-taman atau lapangan terbuka. 

Meskipun di luar kontrol politik, banyak orang yang menari Yangge tanpa memikirkan pengaruh ideologis yang pernah melekat padanya. 

Para penari, kebanyakan wanita yang sudah lanjut usia, menganggap tari ini sebagai cara untuk berkumpul, berolahraga, dan menjaga hubungan sosial.

Berdasarkan pengamatan penulis yang ikut bergabung dalam kelompok tari di Beijing pada tahun 2004 dan 2006, para penari ini tidak merasa bahwa mereka sedang membawa pesan politik, melainkan lebih pada aspek kesenangan dan kebersamaan. 

Baca juga: Riset DNA Terbaru, Manusia Ternyata Nyaris Punah: Pernah Tinggal 1.280 Orang di Dunia Akibat Krisis

Mereka menari untuk menjaga kesehatan fisik dan mental serta menjaga ikatan sosial yang telah terjalin selama bertahun-tahun. 

Dalam kelompok ini, yang beranggotakan hingga tiga puluh orang, setiap pertemuan terasa ritualistik, dengan latihan yang dimulai setiap pagi atau sore, diikuti dengan canda tawa dan saling berbagi pengalaman.

Meskipun tari Yangge kini bebas dari kontrol pemerintah, gerakan dan tema yang dulu digunakan untuk tujuan politik tetap bertahan dalam ingatan kolektif para penari. 

Sebagian besar penari yang terlibat dalam tari Yangge saat ini mungkin tidak berfokus pada tujuan politis, tetapi mereka tetap mengingat sejarah tari ini yang sarat dengan simbol ideologis. 

Dengan berlatih tari ini, mereka tidak hanya merayakan sejarah dan budaya mereka, tetapi juga menciptakan ruang bagi diri mereka untuk berhubungan dengan identitas dan komunitas mereka.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Asian Theatre Journal

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU