Kurt Godel ilmuwan matematika (sumber: wikipedia)
INDOZONE.ID - Kalau dengar nama Einstein, mungkin langsung kebayang sosok ilmuwan jenius yang mengubah dunia lewat teori relativitasnya. Tapi enggak banyak yang tahu kalau Einstein punya sahabat dekat yang juga jenius, tapi di bidang matematika dan logika. Namanya Kurt Godel.
Godel ini bukan matematikawan biasa. Di tahun 1930-an, dia sempat bikin dunia akademik gempar lewat temuannya yang disebut Godels Incompleteness Theorem. Teori ini secara sederhana bilang bahwa matematika itu nggak bisa membuktikan semua kebenarannya sendiri. Artinya, ada batas logis dalam sistem matematika yang bikin sebagian kebenaran nggak bisa dijelaskan dari dalam sistem itu sendiri. Gila, kan?
Tapi itu belum seberapa. Yang bikin Godel makin menarik adalah keinginannya untuk membuktikan keberadaan Tuhan pakai logika matematika.
Sekilas mungkin terdengar aneh, apa hubungannya matematika sama eksistensi Tuhan? Tapi ternyata logika dan matematika itu berangkat dari dasar yang sama. Dan Godel adalah salah satu ahli logika paling hebat di zamannya. Bahkan dia sering disandingkan dengan Aristoteles.
Di dunia logika, dikenal dua jenis pengetahuan: apriori (pengetahuan yang datang dari logika tanpa pengalaman) dan aposteriori (pengetahuan dari pengalaman). Gödel mainnya di wilayah apriori, yang artinya dia membangun argumen berdasarkan struktur logika murni, bukan pengalaman atau bukti fisik.
Nah, dari logika itu juga muncul konsep soal dua jenis keberadaan:
Yang pertama, contingent existence, alias keberadaan yang bergantung pada sesuatu yang lain. Contohnya manusia, benda, atau bahkan planet. Semuanya bisa ada, bisa juga enggak.
Yang kedua, necessary existence, yaitu sesuatu yang keberadaannya mutlak. Harus ada, dan keberadaannya nggak tergantung sama apapun.
Pertanyaannya: kalau semua hal yang kita kenal itu bersifat contingent, maka apa (atau siapa) yang menjadi dasar dari semua keberadaan itu? Di sinilah Godel mulai bicara soal Tuhan, bukan dari sisi agama, tapi dari logika murni.
Kurt Godel sahabat Einstein (sumber: Wikipedia)
Godel mengembangkan argumen ontologis yang sempat dipikirkan juga oleh filsuf seperti Anselmus dan Descartes. Tapi bedanya, Godel menuliskannya dalam bentuk simbol dan formula matematika yang kaku dan rapi. Dengan begitu, argumen ini bisa diuji secara logis, bukan cuma jadi spekulasi.
Inti argumennya sederhana tapi dalam:
Godel menyimpan argumen ini selama puluhan tahun. Bukan karena ragu, tapi karena tahu seberapa sensitif topik ini. Dia takut orang salah paham dan malah menyalahartikan maksudnya. Baru menjelang akhir hidupnya, di tahun 1970, Godel menyerahkan argumen ini ke teman sesama ahli logika untuk dipublikasikan.
Yang menarik, dia sama sekali nggak berniat memaksakan pandangan religius. Buat Godel, ini murni soal logika dan deduksi. Mau percaya atau enggak, terserah. Tapi yang jelas, dia membuktikan satu hal, bahwa logika dan kepercayaan bisa berada dalam satu meja diskusi.
Mungkin kita enggak akan langsung “dicerahkan” soal keberadaan Tuhan cuma karena baca argumen Gödel. Tapi setidaknya, kita jadi tahu bahwa sains dan spiritualitas bukan dua hal yang selalu bertentangan. Kadang, mereka cuma bicara dengan bahasa yang berbeda.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Youtube Rumah Editor