Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 05 JUNI 2025 • 13:05 WIB

Jugun Ianfu: Kisah Pilu di Balik Kekejaman Penjajahan Militer Jepang

Jugun Ianfu: Kisah Pilu di Balik Kekejaman Penjajahan Militer JepangTawanan tentara Jepang saat PD II. (Wikipedia)

INDOZONE.ID - Siapa yang mengenal istilah Jugun Ianfu? Sebutan ini merujuk pada praktik kelam selama pendudukan Jepang di Indonesia, di mana ribuan perempuan dipaksa menjadi pelayan seks bagi tentara Jepang.

Istilah ini berasal dari bahasa Jepang, yang secara harfiah berarti "perempuan penghibur militer." Namun, kenyataannya, istilah ini menyiratkan eksploitasi seksual sistematis yang meninggalkan trauma mendalam.

Praktik Jugun Ianfu dimulai pada awal 1940-an ketika militer Jepang mendirikan rumah-rumah pelacuran atau ianjo di wilayah pendudukan. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di Korea, Tiongkok, Filipina, dan negara-negara lain di Asia Tenggara.

Perempuan dari berbagai latar belakang, mulai dari remaja belia hingga ibu muda, direkrut dengan cara penipuan atau paksaan. Mereka dijanjikan pekerjaan atau pendidikan, tetapi malah dijebloskan ke dalam sistem eksploitasi.

Baca Juga: Kurt Gödel: Ilmuwan yang Ngebuktiin Tuhan Ada Lewat Rumus Matematika

Motif utama pembentukan sistem Jugun Ianfu ialah untuk menjaga moral dan kesehatan tentara Jepang. Mereka yang kelelahan fisik dan mental akibat perang diberikan akses kepada perempuan di ianjo.

Ironisnya, meskipun sistem ini diklaim untuk mengurangi penyebaran penyakit kelamin, kenyataannya banyak tentara tetap terinfeksi, dan kekerasan seksual di luar ianjo tetap berlangsung.

Proses perekrutan Jugun Ianfu sangat tertutup. Tentara Jepang bekerja sama dengan aparat lokal seperti lurah dan camat.

Dengan dalih pekerjaan atau pendidikan, perempuan muda dari desa-desa dikumpulkan dan dikirim ke ianjo. Beberapa bahkan ditangkap langsung di rumah mereka. Tidak jarang, perekrutan ini dilakukan dengan intimidasi dan kekerasan.

Setelah perang berakhir, nasib para Jugun Ianfu semakin pilu. Mereka ditinggalkan tanpa dukungan, baik oleh militer Jepang maupun masyarakat.

Banyak dari mereka mengalami stigma sosial yang berat, dianggap sebagai “ransum Jepang” atau mantan pelacur. Trauma fisik dan psikologis membekas sepanjang hidup mereka. Beberapa bahkan kehilangan kemampuan untuk memiliki keturunan akibat kekerasan seksual yang dialami.

Baca Juga: Kisah Penculikan Persephone oleh Hades: Cinta Terlarang di Balik Perubahan Siklus Musim Dunia

Meski peristiwa Jugun Ianfu telah berlalu puluhan tahun, luka sejarah ini tidak boleh dilupakan. Kesaksian para korban, seperti Kim Hak Soon dari Korea Selatan, membuka mata dunia pada tahun 1991.

Namun, perjuangan untuk mendapatkan pengakuan dan keadilan terus berlanjut hingga kini. Pemerintah Jepang telah memberikan beberapa permintaan maaf resmi. Tetapi bagi para korban, permintaan maaf saja tidak cukup untuk menghapus derita yang mereka alami.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Jurnal

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Jugun Ianfu: Kisah Pilu di Balik Kekejaman Penjajahan Militer Jepang

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!