Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 13 MEI 2025 • 12:05 WIB

Cerita Ngeri Dunia Medis sebelum 1846, Belum Ada Anastesi hingga Operasi Penentu Hidup dan Mati

Cerita Ngeri Dunia Medis sebelum 1846, Belum Ada Anastesi hingga Operasi Penentu Hidup dan MatiIlustrasi Operasi Tanpa Anastesi.

INDOZONE.ID - Pernah bayangin dioperasi dalam keadaan sadar, ngerasain tiap sayatan dan nggak ada bantuan anastesi sama sekali? Jaman dulu, ruang bedah bukan tempat untuk sembuh melainkan tempat bertahan hidup.

Jeritan pasien, darah di mana-mana, dan dokter yang kerja kilat buat nyelamatin nyawa. Nggak ada drama, yang ada cuma sakit untuk perjuangan hidup dan mati.

Sebelum tahun 1846, dunia kedokteran belum mengenal yang namanya anastesi. Jadi kalau ada pasien yang butuh operasi, ya harus kuat nahan rasa sakitnya.

Baca Juga: Tahta dan Tanah Jajahan: Politik Konservatif di Hindia Belanda Abad ke-19

Dari amputasi sampai angkat tumor, semuanya dilakukan saat pasien masih sadar dan ngerasain semua prosesnya.

Dokter waktu itu nggak cuma dituntut harus pintar, tapi juga harus super cepat. Makin lama operasi, makin besar risiko pasien kena infeksi, syok, bahkan meninggal. Ruang bedah lebih kayak ajang kecepatan dalam bertindak.

Katanya, salah satu tantangan paling berat adalah amputasi. Pasien harus dipegang kuat-kuat biar nggak bergerak.

Dokter langsung kerja cepat untuk motong jaringan hidup sambil melawan waktu. Nggak ada waktu buat ragu, karena setiap detik sangat berarti buat nyawa pasien.

Cerita Ngeri Dunia Medis sebelum 1846, Belum Ada Anastesi hingga Operasi Penentu Hidup dan MatiIlustrasi Operasi Tanpa Anastesi.

Di antara dokter-dokter legendaris zaman itu, ada nama Robert Liston. Ia dijuluki sebagai "Pisau Tercepat" di West End karena bisa mengamputasi kaki dalam 30 detik.

Waktu itu, kecepatan bukan soal pamer tapi soal nyawa. Liston dianggap penyelamat karena makin cepat dia kerja, makin besar harapan hidup pasiennya.

Tapi kecepatan juga punya risiko. Dalam salah-satu operasinya, Liston tanpa sengaja menyabet tangan pasien, asisten, dan baju penonton. Ketiganya berujung meninggal karena infeksi.

Tragedi ini dicatat sebagai satu-satunya operasi dengan tingkat kematian 300 persen. Bukan prestasi, tapi peringatan bahwa kecepatan kadang bisa jadi bumerang.

Perubahan besar datang di tahun 1846 saat William Morton, seorang dokter gigi dari Amerika, mengenalkan penggunaan eter buat anastesi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Instagram @marikitaungkap

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Cerita Ngeri Dunia Medis sebelum 1846, Belum Ada Anastesi hingga Operasi Penentu Hidup dan Mati

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!