Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 15 MEI 2025 • 20:05 WIB

Perlawanan Cik Di Tiro dan Spirit Ulama Aceh di Abad Penjajahan

Perlawanan Cik Di Tiro dan Spirit Ulama Aceh di Abad PenjajahanTengku Cik di Tiro bukan hanya seorang komandan perang, tapi juga seorang mursyid yang meniupkan ruh perlawanan ke setiap pelosok.

INDOZONE.ID - "Tak akan tunduk sebelum mati. Tak akan diam saat diinjak." Itulah semangat yang membakar dada para pejuang Aceh di akhir abad ke-19, saat bayang-bayang kolonialisme Belanda mencoba menaklukkan bumi Serambi Mekkah.

Tapi yang mereka hadapi bukan sekadar pasukan bersenjata, melainkan barisan ulama yang menjadikan jihad sebagai jalan hidup.

Tengku Cik di Tiro bukan hanya seorang komandan perang, tapi juga seorang mursyid yang meniupkan ruh perlawanan ke setiap pelosok dayah dan desa.

Di tengah dunia Islam yang sedang terpuruk, Aceh berdiri gagah—menjadi simbol bahwa ketika iman bertemu keberanian, lahirlah perlawanan yang tidak bisa dibungkam oleh meriam dan tipu daya.

Baca Juga: Mitos dan Fakta Seputar Tempat yang ‘Menentang Gravitasi’

Di penghujung abad ke-19, Kesultanan Aceh berdiri sebagai salah satu wilayah Muslim terakhir di Nusantara yang belum berhasil ditaklukkan sepenuhnya oleh Belanda.

Tapi Aceh bukan hanya sisa dari kejayaan masa lalu—ia adalah negeri yang hidup dengan denyut ilmu, dakwah, dan kehormatan.

Dayah-dayah (pesantren tradisional Aceh) menjadi pusat pendidikan dan perlawanan. Ulama di sana bukan sekadar guru, tapi pemimpin umat, pengatur strategi, bahkan penggerak jihad.

Ketika Belanda mulai menyerang, mereka tidak hanya menghadapi rakyat biasa—mereka menghadapi komunitas yang menjadikan Al-Qur'an dan sejarah Rasul sebagai peta perjuangan.

Baca Juga: Bikin Penasaran! Ternyata Ini Faktor yang Bikin Warna Kucing Berbeda-beda

Tengku Muhammad Saman, yang lebih dikenal dengan nama Tengku Cik di Tiro, adalah bukti nyata bahwa ilmu dan keberanian bisa menyatu dalam satu sosok.

Beliau bukan bangsawan, bukan jenderal, tapi seorang ulama karismatik yang menggembleng umat dari balik mimbar sekaligus memimpin mereka ke medan tempur.

Setelah menuntut ilmu di berbagai dayah di Aceh dan sempat bermukim di Tanah Suci, semangat perjuangannya makin membara saat melihat tanah airnya mulai diinjak-injak oleh penjajah kafir.

Kepulangan beliau dari Mekkah bukan untuk hidup tenang, tapi untuk memulai jihad fi sabilillah. Tahun 1881, beliau mendeklarasikan perang terhadap Belanda.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Jurnal Ilmu-ilmu Sejarah

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Perlawanan Cik Di Tiro dan Spirit Ulama Aceh di Abad Penjajahan

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!