INDOZONE.ID - Taukah kalian, bahwa Perang Diponegoro merupakan perang terbesar yang pernah terjadi di pulau Jawa. Perang tersebut berlangsung di Jawa Tengah selama 5 tahun antara 20 Juli 1825sampai 28 Maret 1830.
Perang ini melibatkan masyarakat pribumi Jawa dengan tentara Belanda. Pada saat berlangsung nya perang tersebut, masyarakat pribumi jawa dipimpin oleh pangeran Yogyakarta atau yang biasa disebut dengan Pangeran Diponegoro.
Di samping itu Belanda dipimpin oleh Jenderal De Kock. Perang ini cukup memakan banyak nyawa baik dari masyarakat pribumi maupun orang yang dari pihak Belanda.
Terjadinya perang tersebut pastinya ada beberapa faktor yang memicu, salah satunya yaitu; Pegawai Keraton dan juga Bupati yang dipecat.
Baca Juga: Alami Teror Mistis di Tol Cipularang, Sopir Truk Distop Sosok Perempuan di KM 97
Awal timbul ketegangan ini dimulai saat Sultan Hamengkubuwono II memecat dan juga menggeser para jejeran pegawai keraton dan juga para buapti. Pegawai keraton dan juga Bupati ini dulunya dipilih oleh Sultan Hamengkubuwono I.
Sultan Hamengkubuwono II memiliki alasan tersendiri, mengapa beliau memecat para pegawai dan bupati tersebut, yaitu karena beliau menginginkan pemerintahan yang kuat, yang di mana Sultan Hamengkubuwono II ini dibantu oleh orang-orang terdekatnya.
Dengan adanya alasan tersebut, beliau pun melantik pembantu di pemerintahannya dari kalangan menantunya.
Di antara nya yaitu, Raden Adipati Danu Rejo II sebagai seorang patih, sedangkan Raden Temenggung Sumodinigerat sebagai Wedana Lebet dan Raden Ronggo Prawirodirdjo III sebagai Wedana Monconegoro Timur.
Baca Juga: 5 Arti Mimpi Melihat Uang Banyak Menurut Primbon Jawa, Pertanda Rezeki atau Petaka?
Adanya tindakan tersebut, Kanjeng Ratu memberikan nasehat kepada Sultan Hamengkubuono II. Namun, nasehatnya tidak di dengarkan oleh Sultan.
Dengan adanya konflik yang ada didalam keluarga tersebut, dapat membuka peluang bagi Belanda untuk menerapkan sebuah taktiknya yang bertindak sebagai penolong.
Pada akhirnya Belanda menawarkan untuk ikut campur tangan perpecahan yang terjadi di Keraton. Cara yang licik yang dilakukan oleh Belanda ini sudah biasa dan sering diterapkan untuk mempertahankan kekuasaanya dan juga mengembangkan pengaruhnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal