Ilustrasi pergundikan di zaman Hindia-Belanda. (Wikipedia)
INDOZONE.ID - Faktor utama yang memicu munculnya pergundikan, pelacuran, dan berbagai pekerjaan nonformal lainnya adalah tekanan ekonomi serta keterbatasan kesempatan kerja bagi perempuan. Namun, dalam beberapa situasi, perempuan justru memiliki peran signifikan dalam perekonomian.
Pergundikan semakin berkembang pesat dengan diterapkannya sistem ekonomi liberal di Hindia Belanda, yang membuka akses ekonomi dan mendatangkan para pengusaha, terutama laki-laki yang datang tanpa pasangan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode sejarah.
Pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, perempuan di Hindia Belanda memainkan peran yang beragam dalam perekonomian. Faktor lingkungan dan kondisi sosial turut mempengaruhi keterlibatan mereka dalam dunia kerja.
Namun, ketimpangan gender yang terjadi pada masa itu menyebabkan perempuan tidak hanya mengurus rumah tangga, tetapi juga harus bekerja demi mencukupi kebutuhan keluarga.
Baca Juga: Ajian Lembu Sekilan: Ilmu Sakti Warisan Patih Gajah Mada yang Bikin Kebal
Salah satu fenomena yang marak pada masa itu adalah sistem pergundikan dan prostitusi. Banyak perempuan pribumi yang menjadi nyai atau gundik bagi pria Eropa tanpa ikatan pernikahan resmi.
Praktik ini semakin berkembang pesat setelah tahun 1870, ketika ekonomi Hindia Belanda terbuka bagi perusahaan swasta, terutama di sektor perkebunan. Tidak hanya laki-laki, perempuan dan anak-anak juga bekerja sebagai buruh dengan upah rendah.
Meskipun kehidupan ekonomi seorang nyai umumnya lebih baik, tidak semua perempuan menjalani peran ini secara sukarela.
Baca Juga: Mengenal Iles-iles, Tanaman Liar yang Nggak Bisa Diremehkan
Sebagian besar terpaksa melakukannya karena tekanan ekonomi, keterbatasan pekerjaan, utang keluarga, atau karena norma patriarki yang menempatkan perempuan di bawah kendali laki-laki, terutama ayah mereka.
Minimnya jumlah perempuan Eropa di Hindia Belanda juga menjadi faktor yang mendorong praktik pergundikan. Banyak pria Eropa yang akhirnya memilih perempuan pribumi sebagai pasangan tidak resmi.
Selain itu, desakan ekonomi dan ketidakadilan struktural membuat semakin banyak perempuan yang terlibat dalam prostitusi demi bertahan hidup. Lalu kelahiran anak-anak Indo-Eropa berkontribusi terhadap terjadinya akulturasi budaya.
Interaksi antara budaya dan gaya hidup masyarakat Belanda serta bumiputera berkembang hingga melahirkan kebudayaan baru yang dikenal sebagai Kebudayaan Indis.
Proses perpaduan kedua budaya ini berlangsung melalui saling mempengaruhi tanpa menghilangkan identitas masing-masing.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Journal Of History Studies