Kisah Nyai Dasima (Radar Mukomuko)
INDOZONE.ID - Sebutan Nyai merujuk pada wanita pribumi yang hidup bersama laki-laki Eropa di Hindia Belanda tanpa pernikahan resmi.
Menurut Hellwig (2007: 36), kata Nyai berasal dari bahasa Bali, Sunda, dan Jawa yang berarti perempuan muda, adik perempuan, atau sebagai istilah panggilan.
Istilah pernyaian atau pergundikan muncul dari fenomena ini. Kebanyakan Nyai berasal dari keluarga kelas bawah yang dijual orang tuanya demi kebutuhan ekonomi.
Sementara sebagian dari kalangan priyayi diserahkan demi menjaga jabatan ayahnya di pemerintahan kolonial.
Baca Juga: Misteri Gunung Tambora, Letusan yang Mengguncang Dunia Pada Abad 19
"Nyai" awalnya memiliki makna positif di berbagai daerah, seperti istri pengasuh pesantren di Jawa atau gelar untuk wanita terhormat di Kalimantan.
Namun, pada masa kolonial, Nyai menjadi istilah untuk perempuan pribumi yang menjadi gundik atau simpanan pria Belanda.
Praktik ini berawal dari larangan pemerintah kolonial membawa perempuan Belanda ke Hindia Belanda sejak tahun 1630, menyebabkan pria Belanda mencari pasangan dari kalangan pribumi.
Fenomena nyai muncul pada masa kolonial, di mana wanita pribumi, terutama dari kalangan miskin atau kelas bawah di Jawa, menjadi simpanan pria Eropa. Hanya wanita yang cantik, bersih, dan pintar yang bisa diangkat menjadi nyai.
Sebagian nyai berasal dari keluarga priyayi atau dijadikan nyai untuk memperbaiki ekonomi keluarga. Nyai menjalankan peran sebagai nyonya rumah, mengenakan pakaian dan perhiasan mahal dari tuannya.
Meskipun mendapat keuntungan materi, nyai sering dikucilkan oleh masyarakat pribumi karena dianggap mengkhianati agama dan budaya.
Para Nyai tidak hanya melayani kebutuhan seksual, tetapi juga mengurus rumah tangga dan diperlakukan seperti istri meskipun tidak resmi.
Anak-anak hasil hubungan ini sering menghadapi diskriminasi; laki-laki hanya bisa menjadi tentara atau pegawai rendahan, sedangkan perempuan sering terjebak dalam prostitusi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal Candi