Tragedi Pendakian Gunung Salak 1987, Menewaskan Enam Siswa dalam Ekspedisi.
INDOZONE.ID - Pendakian gunung bukanlah aktivitas yang bisa dilakukan tanpa persiapan matang. Kurangnya persiapan fisik, logistik, dan pemahaman medan dapat memicu datangnya musibah.
Inilah yang terjadi pada enam siswa Sekolah Teknik Menengah (STM) Pembangunan Jakarta Timur yang mendaki Gunung Salak, Jawa Barat, pada Februari 1987.
Perjalanan yang dimaksudkan sebagai petualangan justru berakhir menjadi tragedi yang masih menyisakan misteri hingga kini.
Delapan siswa awalnya berencana mendaki, namun hanya enam yang benar-benar berangkat, antara lain Ahmad Rudiat, Chaerudin, Eddy Pujanto, Irvan Supandi, Mulyadi, dan Wisnu Herwanto.
Mereka berangkat tanpa izin orang tua dan dengan persiapan yang terburu-buru. Tujuan pendakian adalah membuka jalur baru menuju Pancuran 7, sebuah air terjun di kawasan puncak Gunung Salak yang saat itu masih jarang dijamah.
Baca Juga: Kisah Baekuni, Predator yang Membunuh dan Memutilasi 14 Anak Jalanan
Pendakian mereka dilakukan dengan minim perlengkapan, tanpa peta, dan hanya membawa bekal untuk dua hari. Bahkan, mereka masih mengenakan seragam sekolah saat memulai perjalanan pada 20 Februari 1987.
Dari keenam siswa yang berangkat, hanya dua yang memiliki pengalaman dalam dunia pendakian dan tergabung dalam kelompok pecinta alam sekolah, yakni Ahmad Rudiat dan Mulyadi.
Kelompok pecinta alam TEPEPA dari STM Pembangunan Jakarta Timur.
Hingga 22 Februari 1987, tidak ada kabar dari keenam siswa tersebut. Keluarga mulai khawatir, terutama ayah Ahmad Rudiat, yang segera mencari anaknya ke sekolah.
Ia adalah satu-satunya siswa yang meminta izin orang tua, namun tanpa menjelaskan secara rinci bahwa ia akan membuka jalur baru.
Dua siswa yang batal berangkat juga memberikan informasi kepada pihak sekolah, yang kemudian berkoordinasi dengan tim pencari dan penyelamat (SAR) untuk memulai pencarian.
Pada awalnya, pencarian difokuskan di jalur Warungloa, tempat beberapa pendaki mengaku melihat rombongan STM. Namun, setelah seminggu pencarian, diketahui bahwa para siswa tersebut kemungkinan mengambil jalur berbeda.
Salah satu senior pecinta alam sekolah, Kelly, yang sebelumnya merintis jalur tersebut, menduga bahwa juniornya tersesat di rute lain. Ia kemudian ikut mencari melalui jalur Sukamantri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram @mwv.mystic