Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Jumat, 15 DESEMBER 2023 • 10:40 WIB

Menelisik Mitos Sandekala: Asal-Usul Pamali Keluar Rumah di Waktu Maghrib

Menelisik Mitos Sandekala: Asal-Usul Pamali Keluar Rumah di Waktu MaghribIlustrasi anak-anak bermain di waktu senja.

INDOZONE.ID - Pada masa kecil kita, pastinya terdapat sejuta kisah dan kenangan yang berkesan dalam diri pribadi kita. Salah satunya mitos yang masih melekat di benak banyak orang adalah tentang Sandekala.

Sebagian dari kalian pasti mengenal mitos Sandekala ini, apalagi waktu masih kecil sering kali kita ditakut-takuti oleh orang tua “Jangan keluar maghrib, nanti diculik Sandekala!”

Dalam KBBI, Sandikala adalah senja kala. Dalam Jurnal yang berjudul “The Myth of Maghrib Prohibition in “Sandekala” Film: Reception Analysis Toward Indonesian Audiences”, Sandekala berasal dari bahasa Sunda yaitu ‘sande’ yang artinya bukan dan ‘kala’ artinya waktu, dengan kata lain 'Sandekala' ini berarti 'belum waktunya'.

Baca Juga: Dinasti Qin, Dinasti Pertama yang Menyatukan China

Sandekala ini adalah cerita yang berkembang secara turun temurun dari masyarakat Sunda yang berkaitan dengan mitos makhluk halus yang suka berkeliaran ketika pergantian waktu dari sore ke malam hari.

Biasanya masyarakat Sunda menyebutnya hantu senja. Wujud sandekala ini bertubuh raksasa dan memiliki sayap dengan kedua matanya berwarna merah menyala.

Sebagian masyarakat Indonesia berpendapat bahwa keluar dan melakukan aktivitas selama waktu maghrib atau senja adalah pamali atau haram atau tidak diperbolehkan.

Barangsiapa yang melanggar maka akan datang makhluk halus yang bernama Sandekala dan akan mengganggu dan menculik siapa saja yang keluar rumah atau bermain di waktu maghrib.

Biasanya masyarakat Sunda menggunakan mitos ini untuk menakuti anak-anak agar tidak bermain pada waktu maghrib atau menjelang malam.

Baca Juga: Fakta Lengkap Pulau Poveglia yang Jadi Neraka di Laguna Venesia: Suara Tak Kasat Mata hingga Legenda Dokter Gila

Dalam buku yang berjudul Manusia dan Gunung karya Pepep DW mengatakan bahwa masyarakat Sunda meyakini larangan itu timbul karena mereka percaya bahwa ada ketidakseimbangan yang terjadi di alam setiap peralihan waktu.

Ketidakseimbangan yang terjadi di alam tersebut bisa memberikan dampak buruk bagi manusia dan alam sekitarnya.

Selain itu, dalam jurnal yang berjudul “The Myth of Sandekala in Novel Senjakala by Risa Saraswati Based on Levi-Strauss’ Structuralism Approach” menyatakan bahwa selain terjadinya ketidakseimbangan alam pada waktu senja.

Larangan keluar rumah atau bermain pada waktu senja berkaitan juga dengan agama yang dianut oleh mayoritas Masyarakat Sunda yaitu agama Islam, karena pada waktu senja harusnya digunakan untuk beribadah kepada Tuhan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Jurnal Nasional

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Menelisik Mitos Sandekala: Asal-Usul Pamali Keluar Rumah di Waktu Maghrib

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!