INDOZONE.ID - Gladiator Romawi sering dikenal sebagai petarung arena yang bertarung demi hiburan publik.
Akan tetapi, di balik pertarungan yang berlangsung di arena, ada sistem perekrutan yang terorganisir dan cukup ketat.
Berdasarkan laman The Collector, Kamis (21/05/2026) gladiator bukan berasal dari satu kelompok yang sama, melainkan terdiri dari budak, penjahat, tawanan perang, hingga pria merdeka yang memilih masuk ke dunia pertarungan.
Pada awal perkembangan pertandingan gladiator, sebagian besar petarung direkrut dari kalangan budak, penjahat yang dihukum, dan tawanan perang.
Baca juga: Inilah 5 Fakta Menarik tentang Penguasa Romawi Kaisar Nero yang Jarang Diketahui
Mereka umumnya tidak memiliki kebebasan untuk menolak. Banyak gladiator dibeli oleh lanista, yaitu pemilik sekolah gladiator yang mengelola pelatihan sekaligus kehidupan para petarung.
Tawanan perang yang ditangkap dalam ekspansi militer Romawi juga menjadi salah satu sumber utama gladiator.
Sistem ini membuat arena pertarungan tidak lepas dari struktur kekuasaan dan kontrol sosial di Kekaisaran Romawi.
Seiring waktu, gladiator tidak lagi hanya berasal dari orang-orang yang dipaksa.
Pada abad ke-1 Masehi, mulai muncul pria merdeka yang secara sukarela bergabung dengan sekolah gladiator.
Sebagian dari mereka datang dari latar belakang ekonomi sulit, sementara lainnya adalah mantan tentara.
Mereka menandatangani kontrak resmi untuk menjadi gladiator dalam jangka waktu tertentu.
Langkah ini menunjukkan bahwa arena gladiator juga dipandang sebagai peluang untuk mengubah nasib.
Baca juga: Hannibal Barca, Jenderal Militer Legendaris yang Membuat Gentar Pasukan Romawi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The Collector