Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Sabtu, 16 MEI 2026 • 10:54 WIB

Tragedi Perang Bubat: Acara Pernikahan Menjadi Perang Sunda-Majapahit yang Masih Diragukan Sejarahwan

Tragedi Perang Bubat: Acara Pernikahan Menjadi Perang Sunda-Majapahit yang Masih Diragukan SejarahwanIlustrasi perang Bubat (Gemini AI)

INDOZONE.ID - Perang Bubat merupakan salah satu peristiwa paling kontroversial dalam sejarah nusantara di era kerajaan. Konflik yang terjadi pada 1357 M itu melibatkan Kerajaan SUnda dan Kerajaan Majapahit di masa pemerintahan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada.

Peristiwa ini bukan perang biasa, melainkan sebuah tragedi diplomatik. Bermula dari acara penikahan kerajaan, yang kemudian menjadi pembantaian rombongan Kerajaan Sunda di Lapangan Bubat, Majapahit. Biang keroknya disebut-sebut adalah Patih Gajah Mada.

Kisah tersebut tercatat dalam sejumlah naskah kuno seperti Pararaton, Kidung Sunda, Kidung Sundayana, hingga Carita Parahyangan.

Awal Hubungan Sunda dan Majapahit

Pada abad ke-14, Majapahit sedang berada di puncak kejayaan politik dan militer. Di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk dan Gajah Mada, kerajaan ini berupaya memperluas pengaruh ke berbagai wilayah Nusantara.

Baca juga: Alasan Kenapa Gajah Mada Jarang Ditemukan sebagai Nama Jalan di Jawa Barat: Berkaitan Perang Bubat?

Sementara itu, Kerajaan Sunda masih menjadi salah satu kerajaan besar yang berdiri independen di wilayah barat Pulau Jawa. Dalam sejumlah kajian sejarah, Sunda dikenal memiliki hubungan dagang dan politik yang cukup kuat dengan kerajaan-kerajaan lain.

Menurut beberapa sumber sejarah, Hayam Wuruk tertarik menikahi putri Sunda bernama Dyah Pitaloka atau Dyah Pitaloka Citraresmi setelah melihat kecantikannya melalui lukisan atau cerita utusan kerajaan. Lamaran tersebut kemudian dikirimkan kepada Raja Sunda, Linggabuana.

Bagi pihak Sunda, lamaran itu dipandang sebagai bentuk hubungan setara antarkerajaan besar. Raja Linggabuana kemudian menerima lamaran tersebut dan berangkat menuju Majapahit bersama keluarga kerajaan serta pengawal untuk mengantarkan Dyah Pitaloka.

Kedatangan Rombongan Sunda ke Bubat

Rombongan Sunda tiba di wilayah Bubat, sebuah lapangan atau pesanggrahan di utara ibu kota Majapahit, Trowulan. Awalnya, kedatangan itu dipersiapkan sebagai prosesi pernikahan kerajaan yang megah.

Namun situasi mulai berubah ketika Mahapatih Gajah Mada menyampaikan pandangan berbeda. Menurut interpretasi politik Gajah Mada, pernikahan itu seharusnya menjadi simbol penaklukan Sunda terhadap Majapahit, bukan hubungan setara.

Baca juga: Perang Bubat dan Mitos Pernikahan Orang Jawa dengan Sunda

Gajah Mada meminta agar Dyah Pitaloka diserahkan sebagai bentuk upeti atau tanda tunduk Kerajaan Sunda kepada Majapahit. Tuntutan itulah yang memicu ketegangan besar antara kedua pihak.

Bagi Raja Linggabuana, tuntutan tersebut dianggap penghinaan terhadap martabat Kerajaan Sunda. Ia menolak keras permintaan Gajah Mada karena sejak awal rombongan Sunda datang sebagai keluarga calon besan, bukan kerajaan taklukan.

Pertempuran di Lapangan Bubat

Ketegangan yang semula berupa perdebatan diplomatik akhirnya berubah menjadi konflik terbuka. Pasukan Majapahit mengepung rombongan Sunda di Lapangan Bubat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Doaj.org

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Tragedi Perang Bubat: Acara Pernikahan Menjadi Perang Sunda-Majapahit yang Masih Diragukan Sejarahwan

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!