Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Jumat, 15 MEI 2026 • 21:00 WIB

Alasan Kenapa Gajah Mada Jarang Ditemukan sebagai Nama Jalan di Jawa Barat: Berkaitan Perang Bubat?

Alasan Kenapa Gajah Mada Jarang Ditemukan sebagai Nama Jalan di Jawa Barat: Berkaitan Perang Bubat?Ilustrasi jalan Gajah Mada (Youtube)

INDOZONE.ID - Di banyak kota besar Indonesia, nama Gajah Mada begitu mudah ditemukan. Mulai dari jalan utama, gedung, kampus, hingga pusat bisnis memakai nama sang Mahapatih Kerajaan Majapahit yang dikenal lewat Sumpah Palapa dan ambisinya menyatukan Nusantara.

Namun situasinya terasa berbeda ketika memasuki wilayah Jawa Barat. Dibanding daerah lain di Pulau Jawa, nama Jalan Gajah Mada memang jauh lebih jarang ditemukan. Hal ini sering memunculkan pertanyaan di masyarakat: mengapa sosok sebesar Gajah Mada tidak terlalu populer di tanah Sunda?

Jawabannya tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang hubungan antara Majapahit dan Kerajaan Sunda yang meninggalkan trauma budaya hingga ratusan tahun kemudian.

Sosok Gajah Mada dan Ambisi Menyatukan Nusantara

Dalam catatan sejarah, Gajah Mada dikenal sebagai tokoh besar Majapahit pada abad ke-14. Ia adalah Mahapatih yang terkenal dengan Sumpah Palapa, sebuah janji untuk tidak menikmati kenikmatan dunia sebelum berhasil menyatukan wilayah Nusantara di bawah pengaruh Majapahit.

Baca juga: Ajian Kabut Sakti Gajah Mada: Saat Kabut Jadi Senjata Rahasia Majapahit

Di banyak daerah Indonesia, Gajah Mada dipandang sebagai simbol persatuan, kekuatan politik, dan kejayaan Nusantara. Namanya diabadikan sebagai jalan protokol di kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, hingga Surabaya.

Namun di tanah Sunda, sosok ini memiliki memori sejarah yang jauh lebih kompleks.

Perang Bubat dan Luka Sejarah Orang Sunda

Alasan Kenapa Gajah Mada Jarang Ditemukan sebagai Nama Jalan di Jawa Barat: Berkaitan Perang Bubat?Patung Gajah Mada (Instagram/ baka.neko.baka)

Hubungan Sunda dan Majapahit berubah drastis setelah terjadinya Perang Bubat pada tahun 1357.

Peristiwa ini bermula ketika Raja Majapahit, Hayam Wuruk, berniat menikahi putri Sunda, Dyah Pitaloka. Rombongan kerajaan Sunda kemudian datang ke Majapahit untuk melaksanakan pernikahan tersebut.

Namun menurut kisah yang berkembang dalam naskah kuno dan tradisi lisan Sunda, Gajah Mada menganggap kedatangan rombongan Sunda bukan sebagai keluarga calon pengantin, melainkan simbol penyerahan diri Sunda kepada Majapahit.

Baca juga: Ajian Lembu Sekilan: Ilmu Sakti Warisan Patih Gajah Mada yang Bikin Kebal

Kesalahpahaman itulah yang kemudian berubah menjadi tragedi berdarah di Lapangan Bubat. Raja Sunda beserta pengawalnya gugur dalam pertempuran, sementara Dyah Pitaloka disebut memilih bunuh diri demi menjaga kehormatan kerajaan Sunda.

Dalam ingatan budaya masyarakat Sunda, tragedi Bubat bukan sekadar perang biasa. Peristiwa itu dipandang sebagai penghinaan terhadap martabat Sunda. Karena itulah, nama Gajah Mada sering diasosiasikan dengan luka sejarah yang masih hidup dalam memori kolektif masyarakat Sunda hingga sekarang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Youtube

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Alasan Kenapa Gajah Mada Jarang Ditemukan sebagai Nama Jalan di Jawa Barat: Berkaitan Perang Bubat?

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!