INDOZONE.ID - Ketika berbicara tentang peradaban Tiongkok kuno, sosok Huangdi atau Kaisar Kuning selalu menjadi salah satu tokoh yang memainkan peran sentral.
Huangdi atau Kaisar Kuning merupakan salah satu tokoh legendaris dalam sejarah dan mitologi Tiongkok Kuno.
Dikenal sebagai salah satu “Lima Kaisar”, Huangdi dianggap sebagai pendiri peradaban Tiongkok dan tokoh yang memberikan kontribusi besar bagi masyarakat pada zamannya.
Kaisar Kuning berperan mengonsolidasikan banyak wilayah menjadi bagian dari kekuasaannya.
Baca juga: Ratu Kalinyamat: Srikandi Jepara Abad XVI yang Tangguh dan Visioner
Kaisar Kuning sering kali dianggap sebagai penyusun beberapa teks kuno Tiongkok, seperti Huangdi Sijing (Ilmu Politik) dan Huangdi Neijing (Ilmu Kedokteran).
Hingga saat ini, kultus mengenai Kaisar Kuning terus berkembang dan bahkan menjadi simbol kekuatan dan nasionalisme negara Tiongkok.
Kaisar Kuning dalam konsep mitologi kuno digambarkan sebagai bagian integral dari “Kosmologi Lima Tahap”.
Secara istilah, Huangdi dapat berarti ‘kuning’ yang menyimbolkan makna religius pada periode pra-dinasti.
Pada kronik-kronik tradisional, disebutkan mengenai eksistensi Kaisar Kuning sebagai sosok pemimpin yang menyatukan daratan Tiongkok.
Baca juga: Ignatius Loyola, Serdadu yang Menjadi Perintis Ordo Jesuit dan Latihan Rohania Ignatian
Huangdi sering dikaitkan dengan berbagai penemuan penting yang mengubah masyarakat Tiongkok, misalnya, dia dianggap memperkenalkan busur dan panah untuk berperang yang meningkatkan kemampuan berburu dna pertahanan.
Selain itu, penemuan roda kereta juga sering dikaitkan dengan kepemimpinannya yang memungkinkan mobilitas dan perdagangan antarwilayah menjadi lebih mudah.
Huangdi dikenal sebagai pemimpin yang mampu menyatukan berbagai suku di daratan Tiongkok, legenda menyebutkan bahwa ia bertarung melawan musuh legendarisnya yaitu Chiyou dalam Pertempuran Zhuolu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Heaven And Earth In Early Han Thought