INDOZONE.ID - Tari Yangge merupakan salah satu bentuk seni rakyat yang telah mengalami transformasi besar seiring waktu, khususnya selama masa pemerintahan Partai Komunis Tiongkok (PKT).
Pada awalnya, tari ini muncul sebagai bagian dari upacara pertanian dan perayaan komunitas yang sederhana.
Namun, seiring dengan berkembangnya sejarah politik Tiongkok, tari Yangge tidak hanya menjadi ekspresi budaya, tetapi juga alat untuk menyebarkan ideologi politik.
Tari Yangge diperkirakan berasal pada masa Dinasti Song (959-1278 M), dan awalnya digunakan dalam perayaan petani untuk menyambut musim panen atau sebagai bagian dari ritual keagamaan.
Baca juga: Ajian Kancing Konci: Ilmu Sakti Kuno yang Bisa 'Ngunci' Lawan Cuma Lewat Tatapan
Secara harfiah, "yangge" berarti "lagu penanam padi" atau "lagu rakyat," yang menggambarkan keterlibatan masyarakat dalam kegiatan kolektif.
Pada masa ini, tari Yangge ditarikan oleh masyarakat pedesaan dalam bentuk parade yang melibatkan gerakan-gerakan sederhana yang mencerminkan aktivitas sehari-hari, seperti membawa air atau berkerja di ladang.
Seiring dengan naiknya kekuasaan PKT pada tahun 1949, tari Yangge menjadi alat penting dalam propaganda politik.
PKT melihat potensi besar dalam seni ini untuk menyatukan massa, terutama petani dan buruh, di bawah ideologi komunis.
Di bawah pengaruh Mao Zedong, tari Yangge disesuaikan dengan tema-tema yang mendukung revolusi, seperti "Saudara dan Saudari Mengolah Tanah" dan "Suami dan Istri Belajar Membaca."
Baca juga: 5 Weton yang Dipercaya Membawa Banyak Rezeki di Bulan Suro, Apa Saja?
PKT memperkenalkan bentuk baru tari ini yang lebih sesuai dengan agenda politik mereka, yaitu sebagai bentuk penyuluhan kepada masyarakat untuk mendukung reformasi sosial, literasi, dan perubahan ekonomi.
Yangge menjadi bagian dari pertunjukan massal dalam parade politik dan rapat besar yang dihadiri oleh ribuan orang.
Selama periode ini, yang awalnya merupakan bentuk seni rakyat yang sederhana, kini menjadi simbol kekuatan politik yang menyebarkan ideologi PKT di seluruh negeri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Asian Theatre Journal