Rabu, 25 FEBRUARI 2026 • 09:05 WIB

Mengenal Krionika, Proses Membekukan Tubuh Manusia untuk "Dibangkitkan Lagi"

Author

ilustrasi Krionika atau dalam bahasa internasional dikenal sebagai cryonics (IMDb)

INDOZONE.ID - Ketika kamu mendengar kata krionika, apa yang langsung terlintas di pikiran? 

Mungkin hal-hal seperti The Matrix, Avengers, atau pembekuan tubuh manusia yang bisa bikin kamu hidup lagi di masa depan. 

Fenomena yang satu ini memang sering terdengar aneh, mistis, atau bahkan seperti fiksi ilmiah, tapi nyatanya, krionika adalah konsep nyata yang sudah dipraktikkan oleh beberapa orang di dunia.

Krionika (atau dalam bahasa internasional dikenal sebagai cryonics) adalah proses ilmiah yang secara ekstrim membekukan tubuh manusia setelah kematian. 

Tujuannya agar suatu hari di masa depan tubuh itu dibangkitkan kembali ketika teknologi medis sudah lebih maju. 

Baca juga: Hutan 'Migrasi' ke Utara Bukan Kabar Baik, Tanda Ekosistem Kian Tertekan

Belakangan ini, krionika sering banget jadi bahan obrolan dan perdebatan di dunia sains dan teknologi. 

Ada yang penasaran, ada juga yang skeptis. Tapi sebenarnya, krionika itu apa sih? Gimana prosesnya sampai orang bisa “diawetkan” setelah meninggal? 

Dan kenapa ada yang rela keluar uang puluhan ribu dolar demi layanan ini?. Yuk kita bahas dari awal.

Apa Itu Krionika?

Kalau dijelasin dengan cara yang simpel, krionika itu adalah proses membekukan tubuh manusia di suhu yang sangat rendah setelah seseorang dinyatakan meninggal secara klinis. 

Tujuannya? Dengan harapan suatu hari nanti, ketika ilmu pengetahuan sudah jauh lebih maju, tubuh itu bisa “dihidupkan” kembali atau setidaknya disembuhkan dari penyakit yang dulu belum ada obatnya.

Baca juga: Kata-Kata yang Terdengar 'Setelah Mati': Penjelasan Ilmiah dari Dokter ICU

Dalam praktiknya, tubuh atau kadang cuma otaknya saja, disimpan dalam kondisi super dingin supaya kerusakan sel dan jaringan bisa berhenti hampir sepenuhnya. 

Ini jelas bukan sekadar dimasukkan ke freezer biasa. Ada teknologi khusus yang dipakai untuk menjaga suhu ekstrem dan mencegah kerusakan lebih lanjut.

Istilah “cryonics” sendiri, menurut Encyclopedia Britannica, berasal dari bahasa Yunani krýos yang berarti “dingin seperti es”. 

Para pendukung krionika percaya bahwa kematian itu sebenarnya sebuah proses, bukan titik akhir yang mutlak. 

Selama struktur otak masih terjaga, mereka yakin suatu hari nanti memori, kepribadian, dan identitas seseorang bisa dipulihkan kembali lewat teknologi masa depan.

Baca juga: Mengenal Stephenson 2-18: Bintang Terbesar di Alam Semesta yang Bisa Menelan Matahari

Tapi penting banget untuk dicatat: sampai sekarang, belum pernah ada satu pun manusia yang berhasil dihidupkan kembali setelah dibekukan dengan metode krionika. 

Jadi, untuk saat ini, krionika masih berada di wilayah spekulasi, campuran antara sains, harapan besar, dan keyakinan bahwa teknologi masa depan bisa melakukan hal-hal yang hari ini masih terasa mustahil.

Bagaimana Proses Krionika Bekerja?

Kalau kamu membayangkan krionika itu cuma seperti membekukan tubuh jadi es batu di kulkas rumah, itu jauh banget dari kenyataannya. 

Prosesnya rumit, presisi, dan dirancang khusus supaya bagian paling penting dari tubuh, terutama otak, tetap terjaga sebaik mungkin.

Secara garis besar, begini tahapannya:

Baca juga: Mengapa Satu Hari di Neptunus Hanya 16 Jam?

1. Legal Death (Kematian Hukum)

Proses krionika baru boleh dimulai setelah seseorang secara medis dan hukum dinyatakan meninggal. 

Biasanya artinya jantung sudah berhenti berdetak dan tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan yang terdeteksi.

2. Stabilisasi Sesegera Mungkin

Begitu kematian dikonfirmasi, tim krionika bergerak cepat. Tubuh didinginkan dan sirkulasi tetap dijaga sementara waktu untuk memperlambat kerusakan sel. 

Karena setelah jantung berhenti, sel-sel tubuh, terutama di otak, mulai rusak dalam hitungan menit.

Baca juga: Mengenal Eksoplanet: Definisi, Ciri dan Fakta Menariknya

3. Pemberian Cryoprotectant

Tubuh tidak langsung “dibekukan” begitu saja. Cairan tubuh diganti dengan cairan khusus yang disebut cryoprotectant, semacam zat anti-freeze medis. 

Tujuannya untuk mencegah terbentuknya kristal es yang bisa merobek dan merusak sel. Tanpa tahap ini, pembekuan biasa justru akan menghancurkan jaringan.

4. Vitrifikasi

Ini tahap paling teknis dan penting. Alih-alih membeku jadi es padat, cairan di dalam sel diubah menjadi kondisi seperti kaca padat pada suhu sangat rendah, proses ini disebut vitrifikasi. 

Dengan cara ini, pembentukan kristal es bisa dihindari dan kerusakan jaringan diminimalkan.

Baca juga: Fosil Spinosaurus 'Mengerikan' Berjambul Pedang Ditemukan di Gurun Sahara Niger

5. Penyimpanan Jangka Panjang

Setelah semua tahap selesai, tubuh disimpan dalam tangki besar berisi nitrogen cair pada suhu sekitar −196°C. 

Dalam kondisi ini, aktivitas biologis praktis berhenti total. Tubuh kemudian “ditunggu” sampai suatu hari, entah kapan, teknologi mungkin cukup maju untuk membalikkan kondisi tersebut.

Seluruh proses ini butuh koordinasi cepat, tim khusus, dan biaya yang tidak sedikit, bisa puluhan hingga ratusan ribu dolar. 

Karena belum diakui sebagai prosedur medis yang terbukti, banyak kritik menyebut krionika lebih sebagai bentuk harapan ekstrim terhadap masa depan, atau bahkan “menunda kematian”, bukan benar-benar menyelamatkan nyawa.

Baca juga: Benda-benda Langit di Sekitar Kita: Dari Planet sampai Meteor yang Sering Disebut Bintang Jatuh

Harapan vs Realita: Apakah Tubuh Bisa Hidup Lagi?

Di sinilah titik kontroversinya, banyak orang yang percaya krionika bisa jadi second chance, kesempatan kedua untuk hidup di masa depan ketika teknologi sudah mampu menyembuhkan penyakit yang dulu tak terobati. 

Beberapa penyedia layanan krionika bahkan bilang tujuan mereka bukan cuma mempertahankan struktur seluler, tapi suatu hari nanti mendiagnosis dan memperbaiki kondisi tubuh seperti penyakit genetik, kanker, atau bahkan penuaan. 

Tetapi banyak ahli dari komunitas sains tradisional meragukan klaim tersebut. 

Mereka menyebut krionika lebih sebagai pseudosains atau spekulasi daripada sesuatu yang terbukti secara ilmiah, karena sampai saat ini belum pernah ada bukti bahwa manusia yang dibekukan bisa dibangkitkan lagi. 

Baca juga: Tak Lagi Disebut Planet, Ini Fakta Seputar Planet Katai

Bahkan dalam beberapa pendapat, proses pembekuan dan atau pencairan bisa merusak struktur otak secara permanen. 

Siapa yang Memilih Krionika?

Kebanyakan orang yang mengambil jalan krionika adalah mereka yang sudah memikirkan pilihan ini jauh sebelum meninggal. 

Biasanya mereka adalah individu dengan minat kuat terhadap futurisme, transhumanisme, atau teknologi yang memanjangkan hidup. 

Ada juga beberapa nama tokoh terkenal yang memilih untuk dikrionikakan setelah meninggal. 

Beberapa memilih seluruh tubuhnya agar nanti bisa dihidupkan lagi seperti dulu. 

Baca juga: Lubang Misterius di Aceh Bukan Sinkhole, Ini Penjelasan Ilmiah dan Faktanya

Ada juga yang hanya memilih otak saja atau yang disebut neuropreservation karena mereka percaya sebagian besar identitas diri manusia ada di otak. 

Tantangan Besar di Depan

Jujur aja, krionika masih dalam tahap yang sangat spekulatif dan experimental. 

Tantangan utamanya bukan cuma soal menjaga tubuh tetap utuh, tapi soal bagaimana cara menghidupkan mereka kembali. 

Dunia medis saat ini baru bisa membekukan sel, embrio, atau jaringan kecil, tapi belum mampu membangkitkan makhluk kompleks seperti manusia setelah mati. 

Selain itu, ada debat etika dan hukum juga, seperti apa hak seseorang yang “disimpan” di masa depan? 

Baca juga: Asteroid 7 Iris Hiasi Langit Ramadan 2026, Catat Waktu Terbaik Mengamatinya!

Siapa yang bertanggung jawab kalau teknologi gagal? Atau kalau tubuh rusak secara tak terduga? Semua ini belum punya jawaban pasti.

Krionika membawa kita pada pertanyaan paling deep yang pernah manusia pikirkan: apa itu kematian? Apakah itu benar-benar akhir berikutnya? Atau hanya satu fase sementara sampai teknologi bisa kembali membawa kita hidup lagi?

Intinya, sampai teknologi masa depan benar-benar mampu membangkitkan manusia dari pembekuan ekstrim, krionika tetap berada di ranah harapan, spekulasi, dan eksperimentasi. 

Buat yang tertarik, ini bukan sekadar ilmu, tapi juga filosofi tentang kehidupan, kematian, dan masa depan umat manusia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU