Kuburan orang meninggal dunia. (photo/Ilustrasi/Pexels/Mike)
INDOZONE.ID - Pernahkah Anda membayangkan, apakah seseorang yang dinyatakan meninggal masih bisa "mendengar" apa yang terjadi di sekitarnya? Sebuah laporan dari peneliti yang dipublikasikan NYU Langone mengungkap temuan mencengangkan tentang pengalaman detik-detik akhir kehidupan, termasuk momen ketika dokter mengucapkan "waktu kematian".
Dr. Sam Parnia, dokter perawatan intensif dan direktur penelitian resusitasi di NYU Langone, telah bertahun-tahun mengumpulkan kesaksian dari pasien yang selamat setelah mengalami henti jantung. Para penyintas ini menggambarkan adanya kesadaran yang masih tersisa, bahkan setelah tubuh mereka dinyatakan tidak responsif.
Yang menarik, pengalaman ini secara ilmiah berbeda dari sekadar halusinasi, mimpi, atau ilusi. Dalam laporan NYU Langone, para peneliti menegaskan bahwa pengalaman mendekati kematian ini tidak sama dengan kategori kesadaran umum lainnya.
Para penyintas menggambarkan adanya "persepsi terpisah dari tubuh" dan "evaluasi hidup yang bermakna", serta kemampuan mengamati kejadian di sekitar ruangan saat mereka dianggap tidak sadar. Yang lebih mengejutkan, beberapa pasien bisa mengingat kembali percakapan, gerakan, dan detail ruangan dengan akurasi yang mengganggu, termasuk momen ketika upaya resusitasi dihentikan dan kata-kata "waktu kematian" diucapkan.
Penjelasan ilmiahnya mulai terungkap melalui pemantauan aktivitas otak. Peneliti menemukan lonjakan gelombang otak (seperti gamma, delta, theta, alpha, dan beta) selama CPR, bahkan hingga satu jam setelah resusitasi dilakukan. Pola-pola ini tumpang tindih dengan proses yang terkait dengan kesadaran dan memori.
Baca juga: Perawat Kroasia yang Baru Ditemukan 40 Tahun Setelah Meninggal
Dr. Parnia menjelaskan bahwa temuan ini mungkin merupakan sinyal awal dari apa yang disebut pengalaman mendekati kematian. Otak, dalam situasi krisis akibat henti jantung, masih menunjukkan aktivitas yang memungkinkan terbentuknya ingatan.
Bagi kita, "waktu kematian" adalah cap akhir yang menutup segalanya. Namun, penelitian ini membuka kemungkinan bahwa bagi sebagian orang, kata-kata itu justru terdengar saat sesuatu di dalam otak mereka masih sangat hidup. Ini bukan sekadar cerita horor tentang alam baka, melainkan jendela untuk memahami misteri terbesar manusia: kesadaran di ambang kematian.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Vice.com