Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 24 FEBRUARI 2026 • 18:00 WIB

Hutan 'Migrasi' ke Utara Bukan Kabar Baik, Tanda Ekosistem Kian Tertekan

Author

Hutan Migrasi ke Utara Bukan Kabar Baik, Tanda Ekosistem Kian TertekanHutan Amazon. (neomondo)

INDOZONE.ID - Perubahan iklim terus menunjukkan dampaknya, kali ini melalui fenomena sunyi namun masif: hutan-hutan di kawasan utara Bumi (boreal) perlahan-lahan bergerak menjauh dari garis khatulistiwa. Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Biogeosciences, dengan melibatkan ilmuwan dari NASA Goddard Space Flight Center, mengungkap temuan penting tentang pergeseran ini.

Dengan menganalisis citra satelit selama puluhan tahun dari program Landsat milik NASA, para peneliti menemukan bahwa antara tahun 1985 hingga 2020, tutupan pohon di seluruh bioma hutan boreal terus menyusut di bagian selatan dan meluas ke utara. Hutan boreal, sabuk hijau luas yang membentang di Kanada, Alaska, Skandinavia, dan Rusia, tercatat bergeser ke utara sekitar 0,29 derajat lintang dalam kurun waktu 36 tahun.

Baca juga: Krill, Pahlawan Super Kecil Penjaga Ekosistem Paling Murni di Bumi dari Keruntuhan

Di permukaan, perluasan ini mungkin terdengar seperti kabar baik. Tercatat, hutan boreal bertambah luas sekitar 12 persen selama periode studi. Hutan yang masih muda ini diperkirakan mampu menyerap tambahan karbon sebesar 1,1 hingga 5,9 gigaton, menjadikannya salah satu penyerap karbon (carbon sink) terbesar di daratan Bumi.

Namun, kabar buruknya adalah pendorong utama migrasi ini merupakan pemanasan global yang sama yang justru membuat hutan-hutan tersebut kian tidak stabil. Di wilayah selatan yang lebih hangat, hutan mundur dan mengalami degradasi. Sementara di utara, meski hutan baru tumbuh, mereka menghadapi ancaman baru.

Ancaman di Habitat Baru: Api, Hama, dan Tanah Kering

Peningkatan suhu memicu serangkaian masalah serius di ekosistem yang rapuh ini. Di Kanada bagian barat, misalnya, terjadi peningkatan drastis kebakaran hutan skala besar. Serangan kumbang kulit kayu (bark beetle) juga meluas, mematikan jutaan pohon pinus. Musim dingin yang lebih pendek dan musim panas yang lebih panas membuat tanah mengering dan ekosistem semakin tertekan.

Baca juga: Opperhoutvester: Kolaborasi Praja dan Rakyat dalam Pelestarian Hutan Mangkunegaran

Akibatnya, meski ada perluasan di beberapa wilayah, kerugian besar di wilayah lain justru meniadakan keuntungan tersebut. Para ilmuwan memperingatkan bahwa kemungkinan kematian hutan skala besar di masa depan semakin meningkat.

Hutan boreal selama ini menjadi penyangga utama terhadap perubahan iklim, menyimpan karbon dalam jumlah sangat besar. Jika hutan-hutan ini terus tertekan dan kehilangan stabilitas, dampaknya pada akhirnya akan dirasakan juga oleh manusia. Memahami secara detail bagaimana hutan ini tumbuh, mati, dan merespons suhu yang terus naik menjadi semakin krusial dan mendesak untuk dilakukan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Vice.com

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Hutan 'Migrasi' ke Utara Bukan Kabar Baik, Tanda Ekosistem Kian Tertekan

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!