Ilustrasi alam semesta. (Magnific)
INDOZONE.ID - Melalui detektor gelombang gravitasi terbesar yang pernah dikembangkan, para ilmuwan memperkuat temuan sebelumnya bahwa alam semesta dipenuhi getaran kosmik yang terus berlangsung.
Berdasarkan laporan Live Science, dengungan di latar belakang tersebut diduga berasal dari tumbukan lubang hitam supermasif yang berada di pusat galaksi-galaksi besar.
Data dari detektor tersebut, yang memanfaatkan jaringan bintang neutron berputar cepat di berbagai wilayah galaksi, mengindikasikan bahwa suara latar gelombang gravitasi ternyata lebih kuat dibanding perkiraan sebelumnya.
Baca juga: Dari Flower Moon hingga Blue Moon, Ini Fenomena Langit Mei 2026
Para peneliti juga menyusun peta gelombang gravitasi paling rinci yang pernah dibuat dan menemukan area dengan aktivitas tinggi atau “hotspot” menarik di wilayah Belahan Bumi Selatan.
Gelombang gravitasi sendiri merupakan riakan pada struktur ruang dan waktu, yang muncul akibat pergerakan atau tabrakan benda-benda bermassa sangat besar dan padat di alam semesta.
Lubang hitam merupakan salah satu objek paling padat dan bermassa terbesar di alam semesta, yang terbentuk dari sisa kematian bintang.
Karena tidak dapat diamati secara langsung, para ilmuwan mempelajarinya melalui gelombang gravitasi yang muncul saat dua lubang hitam saling mendekat atau bertabrakan.
Sama seperti cahaya, gelombang gravitasi juga memiliki spektrum tersendiri. Lubang hitam supermasif menghasilkan gelombang dengan frekuensi rendah namun kekuatan sangat besar, sehingga pengamatannya memerlukan detektor berskala luar biasa besar, bahkan setara ukuran galaksi.
Sejumlah tim astronom di berbagai negara mengembangkan detektor gelombang gravitasi berskala galaksi dengan memantau pergerakan kelompok bintang tertentu secara sangat teliti. Salah satu proyek terbesar adalah Eksperimen MeerKAT Pulsar Timing Array.
Melalui penelitian yang dipublikasikan di jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society, para peneliti melaporkan bukti tambahan mengenai keberadaan gelombang gravitasi berfrekuensi rendah, sekaligus menemukan beberapa hasil yang berbeda dibanding penelitian sebelumnya.
Para ilmuwan mendeteksi sinyal yang menunjukkan, bahwa aktivitas alam semesta mungkin lebih dinamis dari perkiraan awal.
Selain itu, mereka juga menyusun peta struktur kosmik hasil penggabungan galaksi dengan tingkat detail yang lebih baik ketimbang sebelumnya.
Di pusat sebagian besar galaksi, para ilmuwan mengklaim bahwa di sana terdapat objek raksasa yang dikenal sebagai lubang hitam supermasif. Meskipun massanya sangat besar, milyaran kali massa Matahari, raksasa kosmik ini sulit untuk dipelajari.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Live Science