Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Jumat, 15 MEI 2026 • 20:00 WIB

Cognitive Bias di Kasus Juri Cerdas Cermat, Guru Besar UI: Einstein Pun Mau Mengakui Salah Kalau Keliru

Cognitive Bias di Kasus Juri Cerdas Cermat, Guru Besar UI: Einstein Pun Mau Mengakui Salah Kalau KeliruProfesor Zulys dari MIPA UI dan dua juri LCC 4 Pilar Kalbar (Instagram)

INDOZONE.ID - Polemik Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang melibatkan juri dan siswi SMAN 1 Pontianak mendapat sorotan dari Guru Besar Fakultas MIPA Universitas Indonesia, Agustino Zulys.

Professor Zulys menilai polemik tersebut tidak semata soal benar atau salah dalam perlombaan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana manusia rentan terhadap cognitive bias atau bias berpikir, terutama ketika berada dalam posisi otoritas.

“Bukan peserta yang salah jawab, tapi ketika jawaban benar, dikalahkan oleh ego juri. Secara sains, manusia itu memang tidak objektif sepenuhnya,” ujarnya seperti yang dilihat di akun Instagramnya.

Menurutnya, secara neurosains, otak manusia memiliki kecenderungan untuk mempertahankan keyakinannya sendiri, terlebih ketika seseorang sudah dianggap ahli, senior, juri, atau memiliki jabatan tertentu.

Baca juga: Penjelasan Profesor MIPA UI Terkait Ego Juri Cerdas Cermat yang Anti Kritik Secara Ilmiah

“Otak kita punya sesuatu yang disebut cognitive bias, bias berpikir. Apalagi ketika seseorang sudah dianggap ahli, senior, juri, atau punya jabatan. Otak manusia cenderung otomatis menganggap pendapatnya benar,” kata Professor Zulys.

Ia menegaskan bahwa dalam dunia ilmu pengetahuan, otoritas seseorang tidak otomatis menjadikan pendapatnya selalu benar. Inti dari sains, kata dia, adalah validitas data dan keterbukaan terhadap koreksi.

“Padahal dalam realitasnya, doktor, profesor, ilmuwan besar bisa salah. Karena inti sains bukan siapa yang bicara. Tapi apakah datanya benar?” lanjutnya.

Professor Zulys juga menjelaskan adanya mekanisme lain bernama confirmation bias, yakni kecenderungan manusia mencari pembenaran terhadap pendapatnya sendiri. Hal itu membuat seseorang lebih mudah defensif ketika dikoreksi di depan umum.

Baca juga: Fakta di Balik Emas Monas dan Asal-usulnya: Termasuk Nasib Tragis Sang Penyumbang

“Makanya ketika dikoreksi di depan umum, otak menganggap itu seperti ancaman. Tubuh langsung merespon, adrenalin naik, emosi meningkat, logika prefrontal cortex menurun sementara,” jelasnya.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat banyak orang sulit mengakui kesalahan karena ego dan respons emosional mengambil alih logika berpikir.

Padahal, lanjutnya, esensi ilmu pengetahuan justru terletak pada keterbukaan terhadap kritik dan kemungkinan salah jika ditemukan teori yang lebih baik.

“Padahal justru, sains sejati sangat rendah hati. Boleh diuji, boleh jadi salah jika ditemukan teori baru yang lebih baik,” ucapnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Instagram

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Cognitive Bias di Kasus Juri Cerdas Cermat, Guru Besar UI: Einstein Pun Mau Mengakui Salah Kalau Keliru

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!