Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Jumat, 15 MEI 2026 • 16:27 WIB

Penjelasan Profesor MIPA UI Terkait Ego Juri Cerdas Cermat yang Anti Kritik Secara Ilmiah

Penjelasan Profesor MIPA UI Terkait Ego Juri Cerdas Cermat yang Anti Kritik Secara IlmiahProfesor Zulys dari MIPA UI dan dua juri LCC 4 Pilar Kalbar (Instagram)

INDOZONE.ID - Polemik Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang menyeret perdebatan antara peserta dan juri mendapat perhatian dari Guru Besar Fakultas MIPA Universitas Indonesia, Agustino Zulys.

Dalam pernyataannya, Professor Zulys menyoroti sikap juri yang dinilai tidak menerima kritik dari siswi SMAN 1 Pontianak terkait jawaban dalam kompetisi tersebut. Ia menegaskan bahwa dalam dunia ilmu pengetahuan, kebenaran seharusnya tidak ditentukan oleh jabatan maupun otoritas seseorang.

“Bukan peserta yang salah jawab, tapi ketika jawaban benar, dikalahkan oleh ego juri. Secara sains, manusia itu memang tidak objektif sepenuhnya,” ujarnya yang dilihat Indozone dalam akun Instagram miliknya.

Menurutnya, dalam kajian neurosains, manusia memiliki kecenderungan alami yang disebut cognitive bias atau bias berpikir. Kondisi ini membuat seseorang lebih mudah meyakini pendapatnya sendiri, terlebih ketika berada dalam posisi yang dianggap memiliki otoritas.

Baca juga: Asal Muasal Kuntilanak Dijelaskan Secara Ilmiah, Penelitinya dari Jerman

“Otak kita punya sesuatu yang disebut cognitive bias, bias berpikir. Apalagi ketika seseorang sudah dianggap ahli, senior, juri, atau punya jabatan. Otak manusia cenderung otomatis menganggap pendapatnya benar,” kata Professor Zulys.

Ia menekankan bahwa dalam sains, ukuran utama bukanlah siapa yang berbicara, melainkan validitas data dan argumen yang disampaikan.

“Padahal dalam realitasnya, doktor, profesor, ilmuwan besar bisa salah. Karena inti sains bukan siapa yang bicara. Tapi apakah datanya benar?” lanjutnya.

Professor Zulys juga menjelaskan adanya mekanisme psikologis lain bernama confirmation bias, yakni kecenderungan manusia mencari informasi yang mendukung keyakinan atau egonya sendiri. Situasi itu, menurutnya, sering membuat seseorang sulit menerima koreksi, terutama ketika disampaikan di ruang publik.

“Makanya ketika dikoreksi di depan umum, otak menganggap itu seperti ancaman. Tubuh langsung merespon, adrenalin naik, emosi meningkat, logika prefrontal cortex menurun sementara,” jelasnya.

Baca juga: 9 Tahun Pembunuhan Akseyna Belum Terungkap: BEM UI Suarakan 3 Tuntutan dan Gelar Peringatan di Danau Kenanga

Akibat respons tersebut, seseorang bisa menjadi defensif dan enggan mengakui kesalahan. Padahal, lanjutnya, esensi ilmu pengetahuan justru terbuka terhadap kritik dan kemungkinan salah.

“Padahal justru, sains sejati sangat rendah hati. Boleh diuji, boleh jadi salah jika ditemukan teori baru yang lebih baik,” ucapnya.

Ia kemudian menyinggung konsep falsifikasi yang diperkenalkan filsuf ilmu Karl Popper, yakni teori ilmiah harus terbuka untuk diuji dan dibantah demi menemukan kebenaran yang lebih baik.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Instagram

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Penjelasan Profesor MIPA UI Terkait Ego Juri Cerdas Cermat yang Anti Kritik Secara Ilmiah

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!