Senin, 19 JANUARI 2026 • 19:30 WIB

Legenda Monyet Keramat Ngujang, Penjaga Makam yang Dipercaya Warga Tulungagung

Author

Ilustrasi monyet. (Pexels/Donald Tong)

INDOZONE.ID - Dikenal luas sebagai Wisata Kethekan, Desa Ngujang di Tulungagung menyimpan legenda mistis yang tersembunyi di balik ratusan monyet abu-abu penghuni makam keramat. 

Di bawah naungan pohon-pohon besar, satwa liar ini dipercaya sebagai penjaga spiritual yang menjaga keseimbangan antara tradisi dan realitas alam masyarakat setempat hingga hari ini.

Asal-usul Nama Ngujang dan Kisah Sunan Kalijaga

Asal-usul nama 'Ngujang' lahir dari beragam interpretasi lokal. Sebagian masyarakat meyakini nama ini merujuk pada tiruan bunyi kera 'nguk-ngak' yang kerap memecah keheningan makam. 

Baca juga: Kisah Mistis Cermin Keramat: Rahasia di Balik Kecantikan Abadi Mbok Sari

Namun, versi lain yang lebih kental dengan nuansa religius menyebutkan bahwa Ngujang bermula dari teguran Sunan Kalijaga kepada santri-santrinya yang membangkang. 

Alih-alih mengaji, para santri tersebut justru asyik memanjat pohon, hingga akhirnya sebuah 'sabda' spiritual mengubah mereka menjadi sosok kera yang kini menghuni kawasan tersebut.

Monyet Keramat dan Mitos Pesugihan

Kawasan Makam Ngujang kerap diterpa desas-desus mengenai praktik pesugihan dan perjanjian gaib dengan entitas berwujud kera. 

Mitos ini semakin mengakar lewat berbagai kisah peringatan, seperti kemalangan yang menimpa mereka yang sengaja menyakiti monyet di sana, atau gangguan spiritual yang dialami keluarga yang nekat membawa pulang anak kera. 

Terlepas dari bumbu mistisnya, narasi ini menjadi pengingat kuat bagi manusia untuk senantiasa menghormati alam dan menjaga etika terhadap sesama makhluk hidup.

Pernyataan Juru Kunci: Bukan Gaib, Tapi Dilindungi

Berdasarkan keterangan juru kunci makam, Bapak Ribut, monyet-monyet tersebut merupakan bagian dari ekosistem lokal dan bukan makhluk supranatural. 

Hubungan historis yang panjang dengan lokasi pemakaman membuat masyarakat menganggapnya sebagai penjaga secara adat. 

Ia juga memberikan jaminan bahwa satwa-satwa ini tidak akan bersikap agresif selama wisatawan tetap bersikap santun dan menghormati keberadaan mereka di sana.

Simbol Kearifan Lokal dan Harmoni Alam

Fenomena monyet Ngujang merupakan potret nyata kearifan lokal Tulungagung dalam memadukan spiritualitas, tradisi, dan konservasi alam. Hubungan harmonis ini terlihat jelas saat pengunjung berbagi makanan dengan kawanan kera, menciptakan jembatan interaksi yang unik antara manusia dan satwa. 

Di tengah keramaian tersebut, makam Ngujang tetap berdiri tenang sebagai destinasi ziarah bagi mereka yang ingin merefleksikan diri dan mencari ketenteraman spiritual.

Baca juga: Kisah Mistis Penjual Garam Kasar di Pemakaman Angker, Jalan Pintas Kekayaan yang Berujung Nyawa

Wisata Kethekan sebagai Daya Tarik Budaya

Kawasan ini kini berkembang pesat sebagai destinasi Wisata Kethekan yang digemari wisatawan domestik. Keunikan interaksi dengan ratusan kera jinak di area sakral ini menciptakan identitas khas bagi Desa Ngujang. 

Hal inilah yang menjadikannya destinasi yang menonjol dibandingkan tempat wisata religi lain di wilayah Tulungagung.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: YouTube

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU