Kamis, 15 MEI 2025 • 17:06 WIB

Kisah Perlawanan Lokal yang Sering Dilupakan dalam Buku Sejarah

Author

INDOZONE.ID - Kalau ngomongin sejarah Indonesia, di kepala kita biasanya muncul tokoh-tokoh penting seperti Soekarno, hatta, cut nyak dien dan ibu kartini. Tapi kamu tau? Ada banyak sekali kisah perlawanan lokal yang luar biasa tapi sayangnya sering dilupakan di buku sejarah Indonesia. Padahal mereka ikut andil dalam membentuk semangat perjuangan bangsa, siapa saja itu? 

Yuk, kita kenalan sama beberapa tokoh-tokoh dan komunitas yang berani melawan ketidakadilan lewat cara mereka sendiri. Mulai dari pendidik perempuan sampai suku adat yang menjaga tanah leluhur.

Perang Padri (1803–1838) merupakan salah satu konflik besar yang terjadi di Minangkabau, Sumatra Barat.

Rohana Kudus (Suara Perempuan dari Sumatera Barat)

Di balik dunia pers yang dulu didominasi pria, ada satu nama perempuan yang bersinar yakni Rohana Kudus. Dia bukan cuma wartawati pertama Indonesia, tapi juga pendiri sekolah khusus perempuan di Sumatera Barat. Bayangin, di zaman di mana perempuan masih dianggap "nggak perlu sekolah", Rohana malah ngajarin mereka baca tulis, menjahit, bahkan berpikir kritis.

Rohana Kudus/Go Sumut

Lewat tulisan-tulisannya, Rohana angkat isu kesetaraan gender, pendidikan, dan kebebasan berpikir. Nggak heran kalau dia jadi inspirasi banyak perempuan sampai hari ini.

Dewi Sartika (Pendidikan adalah Perlawanan)

Nama Dewi Sartika sering disebut waktu Kartinian, tapi tahu nggak sih kalau perjuangannya itu benar-benar nyata di lapangan? Dia mendirikan Sakola Istri di Jawa Barat, sekolah yang ngajarin perempuan bukan cuma teori, tapi juga keterampilan praktis biar mereka bisa mandiri.

Dewi Sartika/Wikipedia

Bagi Dewi, pendidikan itu bentuk perlawanan paling damai tapi berdampak panjang. Lewat ilmu, perempuan bisa bangkit dan bebas dari belenggu ketidakadilan.

Lasminingrat (Sastra untuk Kaum Hawa)

Kalau kamu suka baca, kamu bakal suka banget sama kisah Lasminingrat. Beliau aktif menerjemahkan karya sastra Barat ke bahasa Sunda biar kaum perempuan bisa punya akses ke dunia luar. Di Garut, Lasminingrat jadi pelopor pendidikan perempuan lewat pendekatan budaya lokal.

Lasminingrat/Wikipedia

Bagi dia, perempuan punya hak untuk cerdas, dan sastra adalah salah satu jalannya.

Tan malaka (Bapak Republik yang dilupakan)

Kalau bicara soal perlawanan lokal yang sering dilupakan, nama Tan Malaka selalu layak dibawa ke meja. Ia bukan cuma seorang pemikir, tapi juga pejuang yang lahir di masa penuh gejolak dan memilih berdiri tegak di tengah pusaran ideologi. Lahir di Suliki, Sumatera Barat, Tan Malaka tumbuh sebagai sosok cerdas, kritis, dan sangat idealis.

Tan malaka/Gramedia

Tan Malaka dikenal sebagai Bapak Komunis Indonesia, tapi jangan buru-buru menyamakan paham Komunisme yang ia anut dengan bayangan kelam yang sering melekat di benak masyarakat sekarang. Ia adalah PKI generasi awal, namun sejak awal pula dia menentang arah yang diambil partai tersebut. Menurut Tan, PKI telah keliru karena tunduk pada garis keras Stalin. Ia sendiri lebih condong pada pemikiran Trotsky, yang kala itu dianggap "pengkhianat" oleh penganut Stalinisme. Ironisnya, Tan Malaka justru dicap pengkhianat oleh PKI sendiri karena menolak pemberontakan PKI pada 1926 dan 1948. Musso bahkan menyebutnya musuh.

Namun dibalik semua itu, Tan Malaka berdiri untuk satu hal yang tak bisa ditawar: kemerdekaan 100%. Ia menolak kompromi. Di matanya, kemerdekaan sejati hanya akan lahir dari tangan sendiri, bukan dari pemberian bangsa asing. Ia mengkritik Soekarno-Hatta yang dinilainya terlalu mengandalkan janji kemerdekaan dari Jepang. Mungkin saja Bung Karno dan Bung Hatta punya pertimbangan sendiri demi menghindari lebih banyak darah tumpah. Tapi bagi Tan Malaka, kemerdekaan tidak seharusnya dinegosiasikan.

Tragisnya, Tan Malaka dibunuh oleh bangsanya sendiri pada 1949. Hingga hari ini, jasadnya tak diketahui pasti, hanya disinyalir terkubur di antara makam tak bertuan di Selopanggung.

Baca Juga: Peristiwa 2 Juni: Hari Kelahiran Tan Malaka dan Peringatan Tsunami Banyuwangi

Perlawanan Suku Dayak Jaga Hutan, Jaga Harga Diri

Di Kalimantan, Suku Dayak punya cara sendiri buat melawan kolonialisme. Mereka nggak cuma angkat senjata, tapi juga menghidupkan ritual dan hukum adat buat melindungi tanah dan hutan mereka dari eksploitasi.

Perlawanan Dayak itu bentuk kecintaan pada alam, budaya, dan identitas. Mereka percaya, saat hutan dijaga, roh leluhur juga tetap hidup. Sebuah filosofi yang relevan banget di zaman modern ini.

Maluku dan Gerakan Perlawanan Bawah Tanah

Kita semua tahu tentang Perang Pattimura, tapi Maluku juga punya banyak cerita perlawanan lain yang lebih "diam-diam". Mereka memanfaatkan jaringan dagang rempah-rempah buat komunikasi rahasia dan menyusun strategi perlawanan.

Di balik aroma cengkeh dan pala, ada semangat nasionalisme yang tumbuh dari pelabuhan ke pelabuhan. Gerakan ini jadi cikal bakal nasionalisme modern yang jarang disorot.

Kaum Tani Melawan Lewat Panen

Jangan lupakan para petani yang dulu jadi korban kebijakan tanam paksa Belanda. Mereka bukan cuma kerja rodi, tapi juga ngatur strategi pemberontakan seringnya waktu panen, saat pengawasan melemah.

Di daerah kayak Priangan dan Sumatera Barat, petani jadi simbol perlawanan rakyat kecil. Mereka menunjukan bahwa alat bajak dan cangkul pun bisa jadi senjata melawan penjajahan.

Baca Juga: Budi Utomo dan Gerakan Nasional: Awal Perlawanan Pemuda Melalui Organisasi Memperjuangkan Kemerdekaan

Kerajaan Buton Hukum Adat sebagai Benteng

Wilayah timur Indonesia ada Kerajaan Buton yang dikenal dengan sistem pemerintahan dan hukum adatnya yang luar biasa rapi. Bahkan, beberapa hukum adatnya masih berlaku hingga hari ini.

Kerajaan Buton ini menunjukkan bahwa stabilitas dan keadilan bukan cuman kolonialisme saja tapi bisa dijaga lewat tradisi dan nilai leluhur yang kuat, ini bentuk dari perlawanan yang elegan.

Kisah-kisah perlawanan lokal ini bukti bahwa perjuangan nggak selalu harus lewat senjata. Bisa lewat pendidikan, budaya, tulisan, sampai menjaga hutan. Sayangnya, banyak dari cerita ini luput dari pelajaran sejarah kita di sekolah.

Saatnya kita kasih panggung untuk mereka. Karena sejatinya, sejarah Indonesia bukan cuma tentang para pemimpin besar, tapi juga tentang rakyat biasa yang punya keberanian luar biasa.



Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Id.quora.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU