INDOZONE.ID - Perjuangan bangsa Indonesia untuk meraih kemerdekaan awalnya dilakukan melalui kekuatan fisik dan peperangan.
Namun, memasuki abad ke-20, muncul pola perjuangan baru yang digerakkan oleh kaum intelektual melalui organisasi modern, salah satunya adalah Budi Utomo.
Seperti dilansir dari jurnal berjudul "Persamaan dan Perbedaan Strategi Pergerakan Nasional" yang ditulis Hasnawati pada tahun 2020, terkuak bahwa organisasi ini tidak hanya menjadi pelopor gerakan nasional, tetapi juga membuka jalan bagi berdirinya organisasi-organisasi pergerakan lain yang turut memperjuangkan kemerdekaan.
Baca Juga: Mengenal Tren Baru Salafisme di Kalangan Pemuda Indonesia
Sejak itu, perjuangan rakyat Indonesia beralih dari peperangan fisik ke meja perundingan dan negosiasi, dengan dua strategi utama: strategi radikal yang non-kooperatif dan strategi moderat yang kooperatif.
Pada masa itu, Indonesia masih berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda yang mencengkeram banyak wilayah Nusantara.
Organisasi-organisasi ini hadir untuk melawan penjajahan, memperjuangkan kemerdekaan, dan membangun kesejahteraan bagi seluruh rakyat.
Budi Utomo didirikan oleh dr. Sutomo pada 20 Mei 1908 dan dikenal sebagai organisasi pergerakan nasional pertama di Indonesia.
Berkat inspirasi dr. Wahidin Soedirohusodo, yang berkeliling Jawa untuk menyebarkan gagasan pengumpulan dana bagi pelajar pribumi berprestasi, lahirlah Budi Utomo yang berfokus pada pengembangan sosial, ekonomi, dan kebudayaan masyarakat tanpa terlibat dalam ranah politik.
Didirikan pada 25 Desember 1912 oleh Ernest Douwes Dekker, dr. Cipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), Indische Partij memiliki visi radikal, yaitu memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Baca Juga: Hari Kebangkitan Nasional: Makna hingga Sosok di Balik Lahirnya Budi Utomo
Organisasi ini menjadi organisasi campuran antara warga pribumi dan asing, namun tak bertahan lama karena dibubarkan oleh pemerintah kolonial pada 1913.
Meski demikian, Indische Partij menjadi tonggak penting dalam perjuangan politik Indonesia.
Sarekat Dagang Islam (SDI) didirikan oleh Haji Samanhudi di Surakarta pada tahun 1905 untuk memperkuat posisi pedagang pribumi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal Nasional