Ilustrasi Paraku di Kalimantan Barat. (Youtube/Indo Info)
INDOZONE.ID - Setelah gagalnya pemberontakan G30S/PKI yang bertujuan untuk menggulingkan Pemerintah Republik Indonesia yang sah, Partai Komunis Indonesia (PKI) dinyatakan sebagai partai terlarang dan dibubarkan. Perkembangan Partai Komunis bukan hanya terjadi di pulau Jawa saja, tetapi hampir di seluruh pulau-pulau lainnya termasuk di Kalimantan.
Perkembangan PKI di Kalimantan Barat tidak terlepas dari peran seorang tokoh yang bernama S. A. Sofyan. Ia melarikan diri ke hutan sejak bulan Oktober 1965. Perkembangannya pun dinilai sangatlah pesat, terbukti dengan adanya gerakan dan aksi komunis di beberapa kota seperti di Sambas, Bengkayang, Singkawang dan di Pontianak.
Dengan adanya perkembangan PKI, pemerintah pun berupaya untuk mengadakan penumpasan di seluruh pelosok tanah air. Di daerah Kodam XII/Tanjungpura, Kalimantan Barat, telah dilaksanakan berbagai macam operasi penumpasan, mulai dari Operasi Tertib I, Operasi Tertib II, Operasi Sapu Bersih I, Operasi Bersih II dan Operasi Bersih III.
Keberadaan Malaysia di tengah kendala ini membuat permasalahan dalam dan luar negeri semakin runyam. Akibatnya, keadaan di tanah air menjadi sangat tidak stabil, terlebih lagi dengan adanya berbagai aksi pemberontakan yang berbau separatis.
Salah satu contohnya adalah perseteruan antara Tentara Negara Indonesia (TNI) dan Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS) yang terjadi di desa Sungkung, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.
Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS) merupakan salah satu dari 3 kelompok separatis di wilayah Kalimantan Barat yang bertujuan untuk mengadakan kekacauan di wilayah perbatasan, sekaligus memberi tempat kepada kaum komunis untuk menyertai gerakan ganyang Malaysia. Selain PGRS, 2 kelompok separatis di Kalimantan Barat lainnta adalah Partai Rakyat Kalimantan Utara (PARAKU) dan Sarawak United People’s Party (SUPP). Kelompok tersebut didirikan di Singkawang pada tahun 1965. Kelompok tersebut bernaung dibawah organisasi North Kalimantan Communist Party (NKCP).
Baca Juga: Little Boy dan Fat Man, Bom Atom yang Hancurkan Jepang hingga Akhiri Perang Dunia II
Ada dugaan bahwa anggota PKI Jakarta ikut terlibat dalam pembentukan kelompok separatis tersebut. Diduga kalau merekalah yang menunjuk tokoh-tokoh ini sebagai petinggi PKI cabang Kalimantan Barat, antara lain S.A Sofyan, Peng Tze Nen, Tan Bun Hiap dan The Bu Jiat.
Ada alasan lain dibalik munculnya kelompok separatis ini. Berawal dari sikap Presiden Soekarno yang mendukung dan menjadikan PKI sebagai garis depan dalam pemerintahannya, sudah jelas terlihat kemana arah politik yang diusung oleh Soekarno. Dari sini, kita akan melihat bagaimana kontribusi komunis di Kalimantan Barat dalam pemerintahan dan proyek politik Soekarno.
Kalimantan Barat merupakan wilayah Indonesia yang berbagi daratan dengan Malaysia dan Brunei. Inggris berusaha untuk menggabungkan koloninya di Asia Tenggara menjadi satu.
Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat Pemilik dari Brand Fashion Ternama Dunia, Louis Vuitton
Mereka mengambil wilayah Kalimantan Utara dan Semenanjung Malaya untuk dijadikan sebagai wilayah kepemilikannya tanpa disertai persetujuan dari masyarakat Kalimantan Utara. Satu hal yang dicemaskan oleh penduduk setempat adalah adanya dominasi warga Melayu Semenanjung Malaya terhadap rakyat Kalimantan Utara.
Karena Malaysia yang saat itu berada di bawah negara persemakmuran, otomatis mereka berpihak ke Inggris. Presiden Soekarno berpendapat bahwa Malaysia hanyalah sebuah “boneka” bagi Inggris. Konsolidasi Malaysia hanya akan menambah kontrol Inggris di kawasan ini, sehingga mengancam kemerdekaan Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal IKIP PGRI Pontianak, Indonesia Zaman Doeloe