Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 04 JUNI 2024 • 10:23 WIB

Mengungkap Sejarah Invasi Bangsa Mongol di Nusantara

Mengungkap Sejarah Invasi Bangsa Mongol di NusantaraKedatangan Bangsa Mongol ke Nusantara.

INDOZONE.ID - Jauh sebelum terbentuk seperti sekarang, Indonesia dipimpin oleh berbagai macam kerajaan yang tersebar di seluruh Nusantara.

Beberapa informasi seputar kerajaan-kerajaan di Nusantara ini tentunya kita temukan dalam buku pelajaran di sekolah dulu.

Tapi, masih ada beberapa fakta sejarah Nusantara yang masih “ditutupi” oleh sejumlah pihak, meskipun di zaman sekarang semua informasi bisa kita dapatkan dengan mudah lewat dari Internet.

Ngomong-ngomong soal fakta sejarah Nusantara, tahu nggak sih kalau di masa kerajaan dulu, Nusantara pernah berperang dan diinvasi oleh bangsa Mongol?

Baca Juga: Terkenal Keji, Ini 5 Bukti Kekejaman Pasukan Mongol di Bawah Perintah Genghis Khan

Beberapa dari kita mungkin mengenal bangsa Mongol sebagai salah satu bangsa terkuat di Bumi pada masa lalu.

Nah, yang jadi pertanyaannya adalah bagaimana bisa bangsa kita dengan berani menantang salah satu bangsa terkuat di muka Bumi? Berikut pembahasannya.

Latar Belakang Kejadian

Mengungkap Sejarah Invasi Bangsa Mongol di NusantaraKedatangan Bangsa Mongol ke Nusantara.

Pada abad ke-13, Mongolia pada saat itu dipimpin oleh Kubilai Khan dari dinasti Yuan. Saat masa pemerintahannya, Kubilai menugaskan beberapa dutanya untuk menagih upeti ke beberapa kerajaan.

Bagi mereka yang mampu membayar, mereka akan dianggap tunduk kepada Kekaisaran Mongolia.

Di antara sekian banyak kerajaan yang didatangi oleh kedutaan Mongolia, Kerajaan Singasari di pulau Jawa termasuk salah satunya.

Kerajaan Singasari pada masa itu dipimpin oleh Raja Kertanegara. Kala itu, Ia didatangi oleh Men-shi selaku perwakilan dari Mongolia. Naas, Men-shi harus pulang dalam kondisi yang mengenaskan.

Wajahnya disundut oleh besi panas dan telinganya dipotong oleh eksekutor Kerajaan Singasari. Tindakan tersebut dilakukan karena Kerajaan Singasari menganggap Men-shi sebagai pencuri.

Kepulangan Men-shi ke Mongolia membuat Kubilai Khan terkejut dan marah. Meski begitu, Kubilai Khan rupanya mempunyai rencana tersendiri.

Kubilai berniat untuk menyerang Kerajaan Singasari. Menurutnya, apabila Ia bisa menaklukan Singasari, maka kerajaan di negara lain akan takluk kepada Mongol dengan mudahnya.

Tak hanya itu, Mongolia bisa menguasai jalur perdagangan laut di Asia, yang dikenal karena lokasi geografisnya yang strategis.

Di sisi lain, Kerajaan Singasari pada saat itu baru saja melakukan serangan ke Kerajaan Melayu di Pulau Sumatra, menjadikannya sebagai kerajaan terkuat di Nusantara pada masa itu.

Tak lama kemudian, terjadi pembelotan yang dilakukan oleh Jayakatwang dan Arya Wiraraja.

Hanya karena dirinya "dimutasi" ke Madura dan diangkat menjadi Gubernur di Sumenep, Jayakatwang merasa tidak terima dengan keputusan Kertanegara.

Untuk strategi penyerangannya, Jayakatwang mengirim pasukannya ke perbatasan sebelah utara dari Kerajaan Singasari.

Tapi tanpa sepengetahuan pasukan Singasari, mereka diserang secara diam-diam dari arah perbatasan selatan kerajaan. Pada akhirnya, Raja Kertanegara pun tewas di tangan Jayakatwang.

Sempat ada upaya untuk mengembalikan masa kejayaan Kerajaan Singasari oleh Raden Wijaya, menantu dari Raja Kertanegara. Tapi sayang, upaya tersebut gagal dan Raden Wijaya harus ditangkap oleh Jayakatwang.

Usai ditangkap, Raden Wijaya dibebaskan dan dipindahkan ke wilayah Kediri, Jawa Timur untuk mendirikan kerajaan baru yang dikenal dalam sejarah Nusantara sebagai Kerajaan Majapahit.

Head-to-Head Bangsa Mongol dan Prajurit Nusantara

Untuk melakukan invasinya, bangsa Mongol saat itu memiliki kekuatan sebanyak 20.000-30.000 orang prajurit, beserta kapal perang yang berjumlah 500-1.000 unit.

Ukuran kapalnya hanya sekitar 11-30,5 meter dan mampu menampung 30-50 orang prajurit.

Dari segi persenjataan, bangsa Mongol dilengkapi oleh prajurit bersenjatakan kapak perang, panah dan yang paling gila adalah meriam dan granat.

Mengungkap Sejarah Invasi Bangsa Mongol di NusantaraBentuk Meriam Tangan yang digunakan Bangsa Mongol saat menginvasi Nusantara.
Dari segi bentuk, meriam tersebut mirip dengan bentuk bazooka yang biasa dilihat di film-film aksi.

Sementara bangsa kita, jumlah prajurit yang dikerahkan mencapai 100.000 orang, sekitar 5 kali lipat lebih banyak dibanding pasukan Mongolia.

Dari segi ukuran kapal perang, bangsa kita memiliki kapal berukuran 69-80 meter dan mampu menampung 600-1.000 orang prajurit.

Tapi dari segi atribut perang, bangsa kita hanya menggunakan tombak, pedang dan panah saja.

Baju zirah yang digunakan pun jauh lebih sederhana dibanding bangsa Mongol yang menggunakan baju zirah dan helm perang yang terbuat dari baja ringan.

Hanya prajurit dengan pangkat tertinggi saja yang menggunakan baju zirah yang terbuat dari kuningan dan pelindung dada yang terbuat dari metal, sementara prajurit yang pangkatnya lebih rendah hanya menggunakan sarung dan bertelanjang dada.

Invasi Dimulai

Mengungkap Sejarah Invasi Bangsa Mongol di NusantaraIlustrasi Kapal Perang Bangsa Mongol.

Bangsa Mongol melakukan perjalanannya sejak bulan Maret 1292, melewati perairan Vietnam dan mendarat di Pulau Sumatra.

Saat di Pulau Sumatra, pasukan Mongol sempat mengirim perwakilannya untuk menetap di sana.

Setelah itu, pasukan Mongol berangkat ke Pulau Gelam untuk mendirikan markas sementara sambil menyusun rencana untuk melakukan penyerangan.

Perjalanan bangsa Mongol ke Nusantara memakan waktu yang sangat lama, bahkan mereka baru melakukan serangan untuk pertama kalinya pada 22 Januari 1293.

Usai menyusun rencana di Pulau Gelam, pasukan Mongol langsung berangkat ke Pulau Jawa, melewati Karimunjawa dan mendarat di Tuban, Jawa Timur.

Sesampainya di Tuban, pasukan Mongol membagi diri ke dalam 2 kelompok, kelompok pertama melakukan penyerangan lewat jalur darat dan kelompok lainnya melakukan penyerangan lewat jalur air melalui Sungai Kalimas, salah satu cabang Sungai Brantas, Jawa Timur.

Kedatangan bangsa Mongol disambut oleh perwakilan dari Madura atas suruhan Raden Wijaya. Perwakilan Raden Wijaya mengatakan kalau Raja Kertanegara sudah meninggal dunia akibat pemberontakan Jayakatwang.

Dari situ, terjadilah negosiasi antara perwakilan Raden Wijaya dengan bangsa Mongol untuk menyerang Kerajaan Singasari yang saat itu sudah dikuasai oleh Jayakatwang.

Jika bangsa Mongol berhasil menaklukan Singasari, perwakilan Raden Wijaya akan memberikan 2 permaisuri untuk bangsa Mongol.

Bangsa Mongol pun setuju dan mulai melakukan serangan ke Kerajaan Singasari. Dalam upayanya, bangsa Mongol berhasil menaklukan pasukan Singasari dari jalur air.

Pasca serangan itu, Kerajaan Singasari kembali menyerang dengan mengirim pasukannya untuk menjaga muara Sungai Kali Mas.

Strategi Singasari untuk mempertahankan wilayah kekuasaannya ini diketahui oleh perwakilan Raden Wijaya. Akibatnya, pesuruh Raden Wijaya itu dikejar oleh pasukan Singasari.

Beruntung, Dia masih selamat dan bisa melaporkan situasi di lapangan kepada Raden Wijaya dan pasukan Mongol.

Pertarungan selanjutnya terjadi pada 14 April 1293, dimana pasukan Singasari melakukan penyerangan dari 3 arah. Pada keesokan harinya, pasukan Singasari dan pasukan Mongol bertempur hebat.

Pertarungan ini berlangsung sengit dan cukup lama, karena berlangsung dari pagi sampai sore. Dari pertarungan ini, pasukan Mongol menang atas pasukan Singasari.

Maju ke tanggal 22 April 1293, pasukan Mongol bersama pasukan Majapahit yang dipimpin oleh Raden Wijaya mulai mengepung Kediri untuk menyerang Singasari.

Rencananya akan dilakukan penyerangan ke Kediri pada 26 April 1293. Sebagai tanda, pasukan Mongol dan Majapahit akan berpisah dan bertemu di wilayah Daha, Kediri.
 
Tanggal 26 April 1293 pun tiba dan kedua pasukan siap melawan pasukan Singasari. Setelah bertemu di Daha, penyerangan ke Singasari pun dimulai.

Pertarungan terakhir antara Singasari melawan Mongol dan Majapahit berlangsung selama 8 jam, mulai dari jam 06:00 s/d 14:00 WIB.

Dan lagi-lagi, bangsa Mongol sukses menunjukkan kekuatan mereka dengan mengalahkan pasukan Singasari.

Jayakatwang berhasil ditangkap dan menyerahkan kerajaannya di bawah kekuasaan Mongol dan Majapahit. Dari pertempuran tersebut, sebanyak 5.000 prajurit Singasari tewas di tangan pasukan aliansi.

Usai memenangkan pertempuran, bangsa Mongol merayakannya di Kediri. Saat itu, mereka menagih janji mereka kepada Raden Wijaya.

Sebagai jawaban, Raden Wijaya meminta untuk pulang ke Majapahit guna mempersiapkan imbalan untuk pasukan Mongol.

Kemudian Ia ingin mereka datang ke Majapahit untuk mengambil imbalannya, dengan syarat pasukan Mongol harus datang tanpa membawa persenjataan. Karena sudah terlanjur percaya dengan Raden Wijaya, pasukan Mongol pun mengiyakannya.

Jebakan Majapahit

Sebanyak 2.000 orang pasukan Mongol datang ke Majapahit tanpa menggunakan persenjataan. Mereka datang untuk mengambil imbalan mereka. Tapi ternyata, ini semua adalah jebakan.

Pasukan Majapahit dengan mudahnya menjebak dan menghabisi pasukan Mongol satu persatu. Tak hanya itu, pasukan Majapahit sukses melakukan berbagai macam taktik untuk membuat pasukan Mongol takut dan malu, sebelum akhirnya mereka angkat kaki dari Nusantara. Kejadian tersebut terjadi pada 26 Mei 1293.

Pasukan Mongol baru berangkat dari Nusantara pada 31 Mei 1293. Tapi di perjalanan, mereka kembali diserang oleh armada pimpinan Arya Adikara. Akibat serangan tersebut, pasukan Mongol harus kehilangan sekitar 12.000-18.000 orang prajurit mereka.

Mengungkap Sejarah Invasi Bangsa Mongol di NusantaraIlustrasi Kapal Perang Pasukan Nusantara.

Pasukan Mongol yang tersisa berhasil kembali ke tanah air mereka pada awal bulan Agustus 1293. Bersama mereka, Jayakatwang dan beberapa prajuritnya berhasil dibawa untuk dijadikan tahanan perang.

Meski kalah dan dipermalukan oleh pasukan Majapahit, tapi mereka berhasil membawa beberapa harta rampasan perang, seperti peta Nusantara lengkap dengan jumlah populasinya, surat bertinta emas yang diduga ditulis oleh Raja Muli dari Bali, beberapa dupa, parfum, kain dan 500.000 keping perak.

Pasca Kejadian

Dalam invasi mereka ke Nusantara saat itu, bangsa Mongol mengirim 3 orang jenderal mereka, Shi Bi, Yighmish dan Gao Xing.

Uniknya, karena kegagalan tersebut hanya Shi Bi dan Yighmish saja yang mendapat hukuman dari Kubilai Khan.

Shi Bi mendapat hukuman yang paling berat, Ia dihukum cambuk sebanyak 70 kali dan sepertiga bagian dari harta rampasannya disita untuk ganti rugi kapal dan persenjataan perang.

Sedangkan Yighmish, hanya jatah harta rampasan perangnya saja yang diambil sebagai hukumannya. Untuk Gao Xing, Dia malah mendapat imbalan 50 keping emas dari Kubilai Khan karena dinilai bisa mempertahankan jumlah pasukan yang tersisa.

Di sisi lain, Kerajaan Majapahit menjadi kerajaan terkuat di Nusantara saat itu, menggantikan Singasari yang sudah hancur di tangan mereka dan pasukan Mongol.

Armada Arya Adikara pun semakin dikenal karena kemampuan dan kekuatannya dalam menjaga Nusantara di jalur laut.

Sempat ada wacana kalau bangsa Mongol akan melakukan balas dendam kepada Majapahit. Mereka berencana akan mengirim 100.000 orang prajurit untuk menyerang Majapahit.

Beruntung, upaya tersebut tak pernah terjadi karena Kubilai Khan meninggal dunia sebelum aksi balas dendam tersebut dilaksanakan.

Dalam catatannya Ibnu Battuta dan Odoric Pordenone, bangsa Mongol dilaporkan melakukan serangkaian upaya invasi pasca meninggalnya Kubilai Khan.

Namun, upaya mereka selalu digagalkan. Menurut Prasasti Kudadu, pada tahun 1294 armada Arya Adikara yang ternyata adalah armada laut Kerajaan Majapahit, berhasil mengalahkan pasukan Mongol di jalur laut.

Sisi baiknya, kedatangan bangsa Mongol ke Nusantara secara tidak langsung memperkenalkan bangsa kita tentang penggunaan bubuk mesiu.

Selain itu, bangsa kita juga mulai menerapkan desain kapal yang terinspirasi dari kapal perang mereka.

Kemudian, desain kapal tersebut dikombinasikan dengan desain kapal yang sudah ada sehingga menciptakan desain kapal yang merupakan campuran dari bangsa Mongol dan Pulau Jawa.

Baca Juga: Sosok Genghis Khan, Penguasa Mongol yang Punya Enam Istri dan 500 Selir

Dan pada 25 Februari 1293, bangsa Mongol meninggalkan 2 buah prasasti yang kini kita kenal sebagai Prasasti Pasir Kapal dan Prasasti Pasir Cina.


Konten ini adalah kiriman dari Z Creators Indozone.Yuk bikin cerita dan konten serumu serta dapatkan berbagai reward menarik! Let's join Z Creators dengan klik di sini.

Mengungkap Sejarah Invasi Bangsa Mongol di Nusantara

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wikipedia

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Mengungkap Sejarah Invasi Bangsa Mongol di Nusantara

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!